19 February 2015

Fenomena Warung Jablay Sebagai Tempat Gaul Kelas Menengah Serta Pelepasan Hasrat Dunia Bagi Para Pemuda Tanggung

tulisan ini terilhami dari makin menjamurnya warung jablay didaerah saya. sebelumnya, buat yang mau baca ini sambil minum kopi, sok lah buat kopi dulu. buat yang mau baca sambil makan kacang atom pun silahkan. jangan berpikir terlalu berat tentang fenomena ini, santai saja karna isinya tak seberat judulnya.

beberapa waktu lalu saya pulang kuliah agak larut yang disebabkan oleh jadwal kuliah yang ekstrim sekaligus dosen yang suka sekali berbicara hingga lupa waktu. basa-basi dulu ya kan, disepanjang perjalanan dari kampus ketempat kost saya masih aman, nggak ada yang aneh, semua lancar jaya. nah, saat dari kost saya menuju rumah saya, saya melihat dipinggir jalan makin banyak warung jablai. rasa ingin tahu yang makin membumbung tinggi, akhirnya saya coba singgah sebentar kesitu, karna sebelumnya saya nggak pernah kewarung jablai. suuueeerrrr !!!!

dengan muka sok punya duit  -padahal didalam dompet sisa dua tiga puluh ribu-, saya berjalan santai menuju sudut tempat duduk. disitu saya melihat beberapa pemuda yang lagi santai minum kopi dan makan roti, tentu ditemani dengan seorang wanita disampingnya.

saya memasan segelas kopi hitam. selagi menunggu minuman saya datang, saya melihat-lihat sekitar warung jablay ini. disudut yang lumayan dari saya dua pemuda yang kira-kira lima tahun lebih tua dari saya sedang berbicang-bicang dengan para pelayannya sambil sesekali tertawa-tawa. bahkan salah satu dari pemuda tersebut tak jarang tangannya mengelus-ngelus kaki pelayan terseebut. sebagai gambar, agar tidak salah sangka dalam membayangkan. pelayan tersebut berusia sekitar 20-30an. mukanya jauh dari cantik, jelek, hitam, pakai bedak tebal banget, giganya ada yang berantakan, pakai hotpants. entah apa yang ada dalam pikiran para pelayan ini -yang nanti akan saya tanyakan- berpenampilan seperti itu.

minuman saya datang, dibawakan oleh pelayan yang seperti saya deskripsikan diatas tadi. setelah melatakan minuman didepan saya, ia langsung duduk disamping saya. seumur-umur saya belum pernah diginiin loh ! maksudnya, saya nggak pernah didekati oleh perepuan yang nggak saya kenal, tapi nyatanya ia langsung duduk disamping saya. waaaarbiyasaaa bung. gemeteran langsung saya.

demi menghargai dia yang sudah mau meluangkan waktunya untuk duduk disamping saya, saya pun mulai membuka obrolan -padahal males saya, mukanya nggak enak diliat-. dari obrolan singkat tersebut, saya mengetahui namanya bunga, entah nama sebenarnya atau nama yang dia pakai biar kelihatan bagus saja, saya sudah malas menanyakannya. usianya 21 tahum tapi ya gimana mukanya boros. 

malam makin larut, pengunjung makin banyak, cepat-cepat saya habiskan minuman. sembari berdiri, "berapa nih semuanya" tanya saya. "lima belas ribu aja mas" jawab pelayan -bukan si bunga-. kaget saya bung !!! dalam hati saya bicara, "masa kopi kapal api segelas kecil lima belas ribu ?!!! yang duduk disamping nggak bungas lagi !!!!" saya langsung pulang kerumah.

sebelum tidur, saya memikirkan hal yang barusan terjadi. dari kejadian itu timbul pertanyaan-pertanyaan dikepala saya, kenapa banyak kelas menengah datang kesitu, kenapa tempat tersebut seakan-akan tak pernah mengganggu warga sekitar, dan kenapa para perempuan tersebut mau bekerja seperti itu.

berangkat dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, saya meniatkan diri untuk lain kali ketempat itu lagi dan mewawancara semua dan segala yang ada disitu.

seminggu berikutnya, saya ketempat itu lagi. tapi kali ini sekitar jam empat sore. saya duduk dengan beberapa pemuda yang berusia sekitar 30an, saya mencoba berbaur dengan mereka. saat itu mereka berjumlah  empat orang, memudahkan saya dalam mewawancarai mereka secara tersirat.

saya mencoba berkenalan dengan mereka satu per satu. ada yang namanya Andi -nama samaran-, berwajah putih, memakai topi, agak pendiam. selanjutnya Ada Isan -nama samaran-, bertubuh kurus dan jangkung, dengan model rambut berantakan ala gembel, suka bicara. terus ada Isar -nama samaran- berwajah sangar kaya preman kampung. dan terakhir ada Ujang, pemuda tanggung yang paling kalem.

singkat saja, kopi hitam hangat saya datang, dan mulai membuka dialog dengan empat pemuda serta 3 pelayan gadis. berikut dialog yang saya ingat :

"hapenya android ya bos ?" tanya isar, saat saya mengecek line.

"iya, kelihatan kaya hape nokia besintar ya ?" tanya saya santai.

"bisa cek buntut semalam lah ? digoogle aja bukanya !"

eaaaeelaah mending bawa hape nokia besintar beneran ini mah.

"bentar, 3451 bos ai" jawab saya.

"ah masa ?! dusta nih !"

sumpah, saat itu matanya ingin saya jejalkan hape. sudah numpang minta cek, masih nggak percaya.

"eh sudah sering kesini bos ?"

"sering. tempat tongkrongan kita ini. bila anak banjar gaulnya didiskotik, kita diwarung sini aja. bahagia itu serderhana bos." jawab isan sambil mengelus-ngelus tangan salah satu pelayan.

"oh gitu ya bang, tapi pacar abang nggak ada yang marah apa kalau tiap hari kesini ?"

mereka dia sejenak. barangkali memikirkan jawaban yang tepat, sebelum akhirnya, Andi angkat bicara yang menjurus kearah curhatan pribadi.

"kita nggak ada yang punya pacarnya sih. gimana punya pacar, gawi aja kaga. sebenarnya kita pengennya nikah, tapi ya modalnya kaga ada. mau sama yang muda, udah pasti kalah saing kita sama yang lebih muda. mau sama yang udah matang, pasti kalah sama yang begawi"

"maksudnya bang ?" tanya saya minta penjelasan lebih.

"gini, umur kaya kita ini pengennya nikah aja sudah kaya orang-orang. tapi modal nggak ada. masa harus jual tanah terus. kalau mau pacaran sama anak muda, pasti dia nggak mau sama kita yang sudah tua. gini dah, mas pernah nembak anak sma nggak belakangan ini ?"

"pernah bang, tapi ditolak" jawab gue polos.

"nah itu ! karna kita dianggap terlalu tua untuk mereka !"

kampreeet, baru ngeh saya ! jawab ditolak dengan polos lagi. kampret. permbicaraanpun makin serius, kopi saya udah mulai dingin, lagu koplo sudah beberapa kali ganti.

"nah, kenapa abang kesini terus bang ? kenapa duitnya nggak disimpan aja bang ?"

kali ini Isan angkat bicara lagi, "biar kaya urang jua. hidup cuma sekali. memenuhi hasrat muda. kalo nyewa banjar mahal mas. pacar nggak punya. yaudah mending yang lokal aja mas, yang penting merasa kaya urang jua".

saya curiga si Isan ini dirumahnya terlalu keseringan baca Sartre. jawabannya filosofis banget anjing.

saya diam, mencoba memahami apa yang barusan saja diucapkan Isan, biar nggak terlihat gomblok lagi. tapi tetap saja nggak nyampe otak saya.

"maksudnya gimana mas ?"

"ya gitulah mas. masa nggak ngerti. kalo gituan kan harus ada pasangan. nah kita pengen yang halal tapi duitnya nggak ada. mau nyari dibanjar, pasti mahal. duitnya juga nggak ada. yaudah disini aja."

sampai disini saya  masih belum ngeh maksudnya. maklum saya belum pernah masuk kedunia bawah tanah kek gini. beruntung, si Ujang yang dari tadi diam, mau menjelaskan lebih dalam.

"gini mas, dibeberapa tempat diwarung jablay itu ada yang bisa menyediakan kamar. nah ini salah satu warungnya. dan mereka-mereka ini siap melayani full service." sambil menunjuk para pelayan yang senyum-senyum. "100 ribu aja sepuasanya mas." lanjut ujang.

sejenak saya memandang para pelayan tersebut, awalnya saya mau nanya lagiemang enak main sama mereka ?" tapi saya urungkan takut menyinggung. iya lah, saya mah ogah bayar seratus ribu dapatnya kaya tempe kurang fermentasi gitu.

"oh gitu mas... makasih bang. pulang dulu nah" ucap saya mengakhiri obrolan saya sore itu.

bersambung....