5 May 2015

Husein Dan Lhazhena

Gadis cantik itu memegang botol plastik pop ice yang sudah ia minum separuhnya. Ia tampak cantik, rambutnya yang hitam legam dibiarkan terurai bergoyang mengikuti arah kepala bergerak. Ia bisa menaklukan lelaki manapun dipasar malam itu dengan senyum simpul uniknya, seolah memperlihatkan keindahan sekaligus keunikan atas namanya. Lhazhena. Disampingnya berdiri kaku seorang lelaki bernama Husein yang mendadak gugup dan bercucuran keringat.

Banyak muda-mudi mengantri untuk menonton adegan tong edan. Didekat penjual gulali, mereka berdua ikut mengantri. Lhazehna telah menjadi gadis kota yang gaul seutuhnya. Enam bulan sudah ia menjadi anak kuliahan, namun kelihatannya tak ada lelaki dikota atau tempatnya berkuliah yang bisa membuka rapatnya hati gadis ini. saat ini ia mengenakan sweater mahal berwarna abu rokok yang menutup rapat tubuh dan memakai celana jeans ketat, menunjukkan betapa sempurnanya wanita ini, pinggulnya tumbuh seperti apa semestinya seorang wanita kalau sedang ranum-ranumnya dan sandal kasual juga ia beli dikota.

Didalam sebuah tenda tempat pertunjukkan tong edan, sudah banyak orang kampung yang dengan sabar menunggu adegan demi adegan didalam. Mata-mata itu tak lepas sedikitpun kepada sesesok pemuda berusia kira-kira dua puluhan, duduk diatas motor tua penuh karat sambil memanaskan mesin motor yang tak kalah tua. Ia bersiap dengan pongah tanpa alat keselamatan, seolah dia lah orang yang paling ahli dalam bidang mengitari tong ini. tak berapa lama, sang pemuda itu melaju dalam tong, berputar-putar. Selangi deru motor memenuhi tenda dan mata pengunjung tertuju kesana, dengan tak canggung Lhazhena memegang tangan kasar Husein yang sering digunakan untuk membajak sawah. Membuat Husein makin salah tingkah dan membikin ia tak berani menatap wajah si gadis. Husein terpukau dengan keberanian Lhazhena dalam memulai segalanya.

***

Ini adalah kali pertama Husein bersama Lhazhena berkeliling pasar malam yang ada dikampungnya. Kebetulan saat itu kampungnya lagi disinggahi oleh rombongan karnaval yang biasa berkelana keberbagai tempat. Dan kebetulan jua si gadis sedang pulang kampung untuk menikmati liburan akhir semester.

Selepas keluar dari tenda pertunjukan tong edan, mereka melanjutkan untuk melihat film layar tancap yang akan segera diputar ditengah lapang. Namun sebelumnya mereka terlebih dahulu membeli dua plastik gulali sebagai cemilan selama menonton. Mereka berdua duduk direrumutan hijau ditengah lapang, tidak terlalu dekat dengan layar tapi juga tidak terlalu jauh. Siluet orang-orang berlalu lalang dipantulkan oleh layar yang akan segera mulai. Si gadis terus menggenggam tangannya dengan erat, mencoba menarik perhatian Husein.

Husein menoleh, dan mereka saling menatap selama beberapa detik. Mata gadis itu berbinar terang, hidung mancung dan bibir terbuka berucap kepada Husein, “aku mencintaimu, Husien”. Lelaki ini tergagap seperti orang yang kehabisan udara, degup jatungnya makin kencang, perutnya serasa dipenuhi cairan. Tak ingin membuat Lhazhena kecewa, ia beranikan untuk membalas genggaman sang gadis dengan gemetar, pertanda ia memiliki perasaan yang sama.

***

Sebelum-sebelumnya, hubungan mereka tak pernah sejelas ini. Mereka sudah berteman dari kecil, sejak keluarga Husein pindah dan menempati rumah kontrakan kecil disamping rumah keluarga Lhazhena. Saat kecil pun Husein sudah merasa segan dengan gadis ini, ia berasal dari keturunan tanpa cacat. Ayahnya seorang dokter yang terkenal dengan bayaran mahal, sedangkan ibunya seorang bidan. Latar belakang itu lah yang membuatnya sangat menghormati Lhazhena hingga saat ini. Gadis itu semacam impian yang takkan pernah tergapai.

Jauh sebelum malam ini, dari dasar hatinya, Husein sudah lama menyukai gadis tersebut. Selain karna kencantikkannya yang sudah diakui oleh siapapun, juga barangkali karna bayangan gadis ini selalu ada dibenaknya. Awalnya mungkin tak lebih dari sebuah persahabatan dimasa kanak-kanak. Mereka berdua seumuran, satu sekolahan. Selalu ada saat dimana Lhazhena menunggu didepan rumah Husein agar berangkat kesekolah bersama, mungkin semenjak itu, para dewi cinta telah berterbangan diatas kepala membentuk pernjanjian yang kelak akan dilaksanakan saat mereka berdua menginjak dewasa. Disaat pulang sekolah juga selalu ada waktu untuk Lhazhena menunggu didepan kelas Husein atau kadang Husein yang mesti menunggu didepan gerbang sekolah.

Tetapi saat semakin menua oleh waktu, jarak antara mereka pun ikut semakin melebar. Dalam rentang waktu tersebut, Husein selalu berpikir barangkali keintiman masa kanak-kanak sudah berlalu dan hanya bagian dari masa lampau yang menyenangkan dan Lhazhena akan jatuh cinta kepada lelaki lain, dan akan melupakan Husein teman karib semasa kecil. Hingga tiba saatnya untuk Lhazhena pergi keibu kota untuk masuk universitas dan menjadi seorang anak kuliahan. Begitupun Husein, selepas lulus SMA, seperti kebanyakan pemuda dikampungnya, ia menyibukkan diri dengan bercocok tanam sesekali kehutan untuk mencari pohon kayu putih untuk dijual.

Namun siapa sangka, ibu kota dan para lelaki diuniversitas tak mebuat Lhazhena bergeming dan terlena. Semenjak ia menjadi anak kuliahan tak sekalipun ia melupakan Husein, selalu saja ada celah kosong dalam hatinya yang dipersiapkan untuk lelaki bernama Husein ini. dan dengan cara seperti itulah Lhazhena menghabiskan enam bulan pertamanya sebagai seorang gadis kuliahan.

***

Sampai film itu habis dan orang-orang mulai hilir mudik, mereka tak bicara apalagi bertatapan. Cuma saling menggenggam, seolah kalimat-kalimat paling romantis sekalipun bisa tersalurkan melalui denyut-denyut nadi tangan. Dua bungkus gulali menjadi saksi bisu perasaan mereka.

Dijalan pulang barulah suasana mulai mencair, saling bertukar cerita kesibukan masa sekarang dan sesekali bernostalgia dengan mengingat masa lalu. Lhazhena lebih banyak berbicara, ia tahu jika Husein bukanlah tipe orang yang suka bicara. gadis itu berbicara tentang para lelaki dikuliahan serupa srigala yang selalu menyadari akan adanya gadis cantik disekitar mereka, saling menaklukkan satu sama lain hingga gadis yang jadi incara jatuh dalam pelukan.

Kampung sudah sepi, cuma menyisakan suara jangkrik dan binatang-bintatang lain saat mereka berada diujung persimpangan. Lhazena menghentikan langkahnya, yang mau tak mau juga mesti menghentikan langkah Husein. Sekali lagi mata mereka saling berpandangan, pandangan yang menegaskan kalau gadis itu benar-benar menyukai Husein. Wajah mereka saling mendekat secara bertahap, nafas berat husein menempuh muka Lhazhena, hatinya bergemuruh melihat bibir merah merekah itu seolah menunggu sang lelaki menyarangkan bibirnya. Husein tahu, ia bisa saja menciumnya sekarang dan meraih apa yang selama ini hanya ada dalam fantasi paling liar. Ia bisa saja menciumnya, dan sang gadis pun pasti menginginkannya. Ia bis saja menciumnya, namun ia enggan melakukannya.

Dalam kesunyian malam disebuah persimpangan, Husein memilih jalan yang lain. baginya tak ada hal yang lebih penting dari kebahagiaan Lhazhena. Kebahagiaan yang tak mungkin didapat dan diberikan Husein. Ia yakin suatu saat nanti Lhazhena akan menemukan orang yang mampu membahagiakannya jauh lebih baik dari Husein yang mengandung banyak resiko. Lhazhena berhak untuk bahagia, jauh lebih bahagia dari sekadar jalan-jalan dipasar malam berdua atau menunggu didepan rumah untuk berangkat sekolah bersama. Begitulah isi pikiran kepala Husein. Tak ada ciuman, tak ada kata jadian. Dan Lhazhena bisa memahaminya.

*catatan :
- nama Lhazhena didapat dari nama murid kelas satu Sd.

1 May 2015

The Monolog

            Banyak hal yang terjadi disekitarku belakangan ini. Perkuliahan banyak berubah, orang-orang juga banyak berubah, yang parahnya juga sedikit banyak mengubah siklus kehidupanku. Intinya segalanya berubah.
           
        Diperkuliahan, banyak peraturan atau kegiatan yang tidak masuk akal namun tetap dilaksanakan. Contohnya para mahasiswa menjadi petugas parkir secara bergiliran. Kegiatan itu mulai dilakukan hari selasa pada minggu ketiga bulan April kemarin. Dihari pertama itu dilaksanakan, salah satu petugasnya adalah aku. Aku dan beberapa orang teman sekelas kebagian jam pagi. Jam pagi bagi kami adalah jam 7.00 – 9.30. sangat pagi sebenarnya bagi seorang mahasiswa semester 6 yang berbadan tipis dan kerempeng.

            Malam sebelum tugas, aku mendapatkan permintaan dari ketua kelasku untuk menjadi petugas parkir. Sebenarnya aku tidak terlalu mempermasalahkan itu, sebagai orang yang memiliki banyak waktu luang, tidak masalah jika harus menjadi tukang parkir dadakan. Hanya saja seorang mahasiswa menjaga parkir dikampus sendiri rasanya tidak etis. Semacam ada gagal paham. Kadang terlintas dibenakku untuk memberikan waktu luangku yang banyak kepada orang pertama yang menemukan ide tentang mahasiswa harus jadi petugas parkir, agar bisa ia gunakan untuk merenung lebih banyak lagi.

            Tidak cuma itu, mulai beberapa waktu mendatang perkuliahan akan mengadakan upacara bendera setiap hari senin.

            Siklus kehidupanku banyak berubah. Dalam seminggu aku kekampus sebanyak empat kali. Itu membuatku merasa kalau hari minggu cuma terpisah selama lima hari. Dikampus aku terlalu banyak mengamati orang-orang, ada perempuan yang selalu menenteng ransel cuma sebelah bahu, dengan sepatu hitam bersol kuning. Lelaki yang selalu membawa botol minuman bermerek mahal kemanapun perginya. Dan membuatku menyadari kalau banyak orang melakukan segala sesuatu tertentu tanpa sebab alasan yang historis. Dikelasku ada orang-orang yang berubah secara drastis. Dari segilintir orang tersebut, ada orang yang aku benci –dari pertama sih sebenarnya-, membuatku tidak akan pernah membuka hati untuknya.

Dalam hidup, aku bukanlah orang yang suka membenci seseorang, dan menurutku membenci orang lain hanyalah pekerjaan yang melelahkan tanpa akhir, tapi jelas sebuah pengecualian untuk dia. Kadang orang lain membenci seseorang tanpa ada alasan, setelah itu mencari alasan-alasan untuk menguatkan rasa bencinya. Tapi aku jelas memiliki alasan yang kuat untuk tidak suka dengannya. Kukira hampir semua orang tidak menyukainya, namun ketidaksukaanku terhadapnya ada dilevel yang berbeda. Segala omong kosong tentang kehidupannya yang selalu ia banggakan dan caranya memamerkan segala omong kosong itu membuatku ingin memuntahkan segala isi didalam perut. Jika kepada orang lain aku harus menjaga jarak 5 meter atau membuat sebuah dinding pembatas yang tebal dan tinggi, maka untuknya aku harus bekerja lebih keras untuk membuat jarak yang jauhnya tak terhingga atau membuat dinding pembatas yang sangat tebal, tinggi sekaligus gelap.

***

Karna perkuliahanku banyak masuk agak siang –cenderung terlalu siang- aku jadi punya banyak waktu dipagi hari untuk membaca buku atau membacanya hingga larut malam tanpa berpikir besoknya akan ketinggalan kelas. Namun kebiasaan buruk baru yang timbul ialah aku jadi terlalu banyak membaca buku secara berbaring diatas tempat tidur, juga belakangan jarang berinteraksi dengan orang luar sehingga aku tak dapat mengatakan apa yang ingin aku katakan dengan tepat. Diantara buku-buku yang sudah kubaca belakangan ini ada Animal Farm, Looking for Alaska, 1984, Manusia Harimau, Seperti Dendam, Rindu Harus dibayar Tuntas, Paper Towns, Sherlock Holmes, dan Norwegian Wood.

Kebiasaan membaca buku yang sama juga dapat menandakan kalau keuanganku sedang berada jauh dari garis sejahtera, itu tampak lebih nyata saat aku menamatkan buku Norwegian Wood untuk kelima kalinya belakangan ini. Aku selalu membawa satu buku didalam ranselku yang sewaktu-waktu akan kukeluarkan ketika menunggu pergantian mata kuliah, menunggu dosen masuk, menunggu makan dikantin, didepan perpustakaan kampus, didepan kelas.

Banyak yang menganggap kalau aku membaca buku didepan umum hanya untuk sebuah pencitraan. Semua anggapan itu tak lepas dari sebuah paradigma kalau kegiatan membaca adalah kegiatan orang pintar. Jadi mereka menganggapku hanya mencitrakan diri untuk terlihat pintar. Memang tak sepenuhnya salah, namun paradigma inilah yang malah menjadikan banyak orang tak mau membaca. Menjadikan membaca seoalah-olah kegiatan yang sulit yang hanya bisa dilakukan orang-orang tertentu dan menjadikan kegiatan membaca begitu berjarak dengan orang-orang yang kukenal.

Padahal, menurutku membaca tak butuh usaha lebih, setidaknya tak lebih sulit dari membuat telor mata sapi dipagi hari ditanggal tua. Tak lebih sulit dari usaha membentuk tubuh agar berotot, tak lebih sulit dari memasang hijab. Yang dibutuhkan hanyalah niat –yang tak terlalu besar- dan menempatkan pandangan tentang membaca sama seperti menempatkan pandangan makan sebagai sebuah kebutuhan hidup. Membaca bagiku hanya sebagai kebutuhan sama dengan halnya makan tadi.

***

Di semester 6 ini juga, aku harus melakukan ppl kesekolahan Sd. Aku tahu, sebagai pengajar aku bukanlah pengajar yang baik. Aku tak terlalu tahu berbagai model pembelajaran, aku tak terlalu mengerti segala teori tentang mengajar. Tapi, aku tahu aku memiliki sebuah kelebihan yang seolah sudah dibawa sejak lahir dan tertulis diatas kepala secara samar seperti lingkaran pada malaikat. Yaitu kelebihan secara psikologis. Sebuah kelebihan untuk dapat merebut hati anak-anak dengan mudah. Aku menyadari sekali akan itu dan memanfaatkannya sebisa mungkin.

Jadi setelah beberapa lama, total aku sudah belajar mengajar di empat sekolahan berbeda. Disekolahan pertama, banyak sekali kesan yang kudapatkan, banyak pelajaran dan pengalaman yang didapat, dan menjadikan salah satu momen yang tak terlupakan. Tapi entah kenapa, disekolahan berikutnya yang didapat hanyalah kehampaan. Padahal semuanya sama seperti sebelumnya. Semakin aku mencoba membuka hatiku untuk lingkungan sekolah semakin kuat perekat yang ada didalamnya. Kalau sudah begitu, yang ketumui hanyalah kehampaan yang tak kumengerti. Seperti ada dinding pembatas antara diriku dengan dunia luar. Saat berada ditengah keramaian, seolah aku berada ditempat yang tak bisa aku pahami. Jadilah aku berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain tanpa kesan. 

Semua kehampaanku berakhir ketika aku bertemu dengan anak-anak kelas 2 dan 1 di sekolah dasar yang terakhir. Anak-anak itu dengan ajaibnya dapat membuka perekat dengan mudah. Seperti orang dewasa yang membuka pakaian anaknya. mudah sekali. Mereka memberikan apa yang tidak aku dapatkan dari dunia luar. Kebahagian sederhana. Kepolosan mereka membuatku sadar, untuk bahagia tidak perlu mengejar apa yang ada didepan, tapi cukup menengok kesamping disekitar. Tak perlu memikirkan akan terjadi apa nanti, kalau sekarang bahagia, nikmati saja dulu kebahagiaan ini. Kira-kira seperti itulah pemahaman yang dapat kujabarkan setelah bertemu bocah-bocah ini. Mulut-mulut kecil yang tak bisa berhenti untuk berteriak dan tawa terbahak, mata-mata kecil yang selalu menatap dengan tajam, serta tubuh-tubuh kecil yang difungsikan secara simultan. Segala aktivitas polos yang dilakukan para bocah ini adalah perayaan tentang sebuah kebahagiaan yang sederhana. Mereka menjadi pelita diduniaku yang kecil dan sunyi.

Setelah proses ppl –secara teknis- berakhir sekaligus menutup bulan april, ada lubang gelap besar menganga dan dalam yang terbentuk didalam diriku yang ditinggalkan oleh anak-anak itu. Sehingga aku berpikir, sepertinya bulain mei adalah bulan yang bagus untuk mengakhiri sesuatu dan memulai sesuatu yang baru –seperti pindah tempat kontrakan baru-. Dan saatnya untuk memulai kehidupan baru !

Apakah ada yang terlewat ditulisan ini ? apakah aku tidak menceritakan atau melewatkan menulis tentang seorang perempuan ? ayolah, tak ada perempuan yang mau berbagi hidup dengan lelaki biasa yang memiliki kebiasaan membaca serta memiliki dunia yang kecil dan sunyi.