Hingga saat ini sejarah awal permen karet memang
belum jelas. Namun di tahun 1869, seseorang bernama Thomas Adams berkebangsaan
Amerika mematenkan alat pembuat permen karet dan memproduksinya secara masal
hingga sampailah pada masa yang kita kenal sekarang sebagai permen karet.
Pada perang dunia kedua, permen karet menjadi
barang yang digemari oleh para tentara Amerika dan para sekutunya. Karna permen
karet diyakini dapat menenangkan saraf, membantu mempercepat kerja otak, dan
mampu mengurangi rasa haus. Tentu jika para tentara sudah kehabisan peluru,
mereka bisa menggunakan getah dari permen karet sebagai jebakan seperti yang
sering dilakukan anak sekolahan yang suka mengerjai temannya dengan menaruh
permen karet ditempat duduk sang teman. sungguh, getahnya tak bisa hilang
selama seminggu lebih. Kampret.
Banyak orang menggemari permen karet. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa gemar menguyah permen karet. Saking gemarnya, pada tahun 2011, pemerintah Roma (Italia) menyatakan perang terhadap permen karet. Pasalnya, getah bekas permen karet sering dibuang dijalanan yang membuat jalanan kota kotor. Setiap hari, 15.000 batang permen karet dibuang dijalan, bahkan situs arkeologi. Atas dasar itu pemerintah Roma membenci permen karet.
Saya sendiri termasuk orang yang menyukai permen
karet. Lebih dari sekedar makanan biasa.
Sulit rasanya melupakan nama Sir Alex Ferguson
jika kita membicarakan permen karet. Sebab, bercerita tentang permen karet tapi
melupakan Sir Alex Ferguson begitu saja adalah sebuah tindak kejahatan.
Manager legendaris Manchester United ini, disetiap
pertandingan MU berlangsung atau hampir setiap minggu selama 26 tahun, Sir Alex
selalu mengunyah permen karet. 26 tahun bukanlah waktu yang singkat, prosesnya
bisa membuat seorang yang baru lahir hingga ia bisa menikah (kalo tidak jomblo
selama 26 tahun). dalam waktu yang sama, Amerika Serikat telah berganti tampuk kepemimpinan
sebanyak 5 kali. Begitupun Indonesia juga telah berganti presiden sebanyak 5
kali. Dalam kurun waktu itu juga, permen karet dengan setianya menemani Sir
Alex yang menginstruksikan para pemainnya dari pinggir lapangan. Saat para
pemain bintangnya sudah tak bersetia dan memilih pergi, permen karet selalu
ada, bakhan disaat Van Nistelrooy, Roy Keane, Cristian Ronaldo, hingga David
Beckham memilih pergi. Kepergian para pemain bintangnya tak membuat rasa manis
pada permen karet menjadi hambar.
Perkenalan saya terhadap permen karet memang
tidak sehistoris cerita seorang Sir Alex diatas. Berawal pada masa bocah
beberapa tahun silam, ditempat tinggal saya lagi naik daun permen karet
bermerek YOSAN. Mungkin kepopuleran YOSAN tidak lepas dari market strategy mereka yang memberikan hadiah kepada pembeli yang
bisa mengumpulkan Huruf Y-O-S-A-N dibalik bungkusannya. Dari keinginan saya
waktu bocah untuk mengumpulkan huruf-huruf itulah kenapa saya menyukai permen
karet. Namun kita semua tahu akhirnya, usaha kita untuk mencari huruf Terkahir
(N) selalu berakhir dengan rasa kecewa. Karna sukar sekali mencari huruf N atau
mungkin memang tidak pernah ada ? Dari saya bocah hingga sampai pada saya yang sekarang,
saya belum pernah bertemu dengan orang yang mendapat huruf N pada bungkusan
YOSAN.
Dari situ juga saya mulai menyukai permen karet.
Saat remaja seusia saya memilih rokok sebagai pelarian, sebagai jalan keluar, sebagai
penenang pikiran, sebagai simbol kekerenan, saya lebih memilih permen karet.
Bagi saya, permen karet adalah candu kapitalisme
(big babol, obviously). Jika seorang
perokok dengan senang hati menghirup asap yang ditimbulkan dan merusak
paru-paru, saya relah menguyah permen karet hingga tak berasa lagi.
Permen karet adalah teman paling dekat saat saya
sendirian, saat sedang membaca, saat sedang menunggu teman, saat mendengarkan
ceramah dosen, saat sedang menjemput pacar (dulu), saat ditinggalkan pacar, saat
merasa dijauhi, saat tak memiliki teman, saat dibully orang, saat tak lulus
mata kuliah, saat mendapat nilai ip tak memuaskan, saat jatuh cinta, saat patah
hati, saat segala hal tak berjalan sesuai rencana, dan saat merasa dikecewakan.
Permen karet lebih dari sekedar permen, dia adalah rekan dalam hidup.
Sama dengan permen karet bermerek YOSAN,
perempuan masa kini yang cocok dengan kita adalah huruf N pada bungkusan YOSAN.
Sukar sekali dicari. Ada yang sesuai selera bila dilihat dengan mata, tapi
kelakuannya layak Jerman pada perang dunia alias suka berkonflik, suka mencari
musuh. Mencari perempuan serupa dengan negara Kep. Faroe (adem, damai bertenak)
sama dengan mencari huruf N tadi.
Belajar dari permen karet YOSAN tadi, Kita semua
tahu kalau kita sejatinya terlalu terpaku terhadap apa yang kita pikirkan
sehingga mengaburkan fakta-fakta yang lain. faktanya, meski big babol tak
memberikan harapan yang kepalang brengsek dengan embel-embel hadiah seperti
YOSAN, setidaknya kita tahu bila big babol adalah surga bagi orang yang suka
membuat balon dari permen karet.
Fakta yang dikaburkan lainnya, saat kita/saya
terlalu sibuk mencari perempuan yang serupa dengan kep. Faroe, sebenarnya ada
perempuan yang lebih kita/saya butuhkan seperti perempuan Islandia (tak suka
berkonflik, damai, ramah tamah). Dan akhirnya, sepertinya saya telah
menemukannya. Telah menemukan perempuan Islandia tersebut.
Menuliskan dua hal yang disukai (permen karet
dan dia) adalah hal yang kepalang susah dibanding mata kuliah filsafat
pendidikan. Saat tulisan ini ditulis, entah berapa jam yang saya habiskan, tiga
gelas teh manis telah saya minum, entah berapa cemilan yang telah saya makan.
Perempuan ini bukanlah perempuan baru dalam blog
saya, saya sudah pernah menuliskan tentang dia sebelumnya. Kadang ada beberapa
hal yang tak perlu diketahui banyak orang dan seharusnya tetap menjadi anonim,
oleh sebab itu untuk kali ini saya tak menuliskan namanya dalam blog ini.
biarlah dia yang merasa kalau tulisan ini memang untuknya. Hehehe
Teknologi mengubah segalanya. Revolusi mungkin
tidak datang dari televisi, tapi datang dari internet. Teknologi membuat saya
dan dia menjadi mudah dekat (meski konsep “dekat” terlalu kabur untuk abad ke
21). Berawal dari twitter dan berlajut ke aplikasi lintas waktu dan jarak,
line.
Perempuan rendah hati dan suka memberi pujian
ini mampu memporak-porandakan isi kepala saya. Hampir tiap kali chatting kita mampu membuat saya
menyunggingkan bibir, bahkan untuk hal yang sebanarnya tidak lagi lucu. Mungkin
dia tak berniat memberi pujian, tapi cuma saya yang kegeeran karna selama hidup
terlampau sering dipandang sebelah mata.
Sebenarnya jika ditanya kenapa mau repot-repot
melakukan ini, saya pun tak tahu mau menjawab apa. Memang ada sebuah keanehan
saat mempersetankan rasa sakit kepala, mengabaikan rasa dinginnya malam dan
menyia-nyiakan jam tidur malam hanya untuk menulis ini. Mungkin tulisan kali
ini pun sama seperti sebelumnya, tak penting dan memang tak pernah menjadi
penting. Yang jelas menulis tentangnya sama seperti sebuah permen karet, candu
yang tak perlu dijelaskan.
Entah bagaimana ujungnya ini, hidup bukanlah sebuah
barang dagang yang memiliki garansi. Bukan pula sebuah game playstation yang
bisa seenaknya dipause dan direset. Mungkin kedepannya ada kesal. Mungkin
kedepannya nanti ada sebuah sesal. Akan ada umpatan. Atau mungkin akan ada canda
tawa dan sedikit bahagia diakhir. Saya pun tak tahu dan tak mau menjamin.
Yang saya tahu, mungkin dia bukan huruf N pada
bungkusan YOSAN yang dicari selama ini, dia perempuan biasa dengan segala daya
tariknya yang membuat saya rela meluangkan waktu untuknya. Selamat berbahagia.