16 March 2015

Kue Bolu Dan Residu-Residu Kenyataan




Gerimis bulan maret membasahi hampir seluruh kota Banjarmasin malam itu, saat seorang pemuda menatap cermin kecil dengan pandangan dan perasaan campur aduk. Ini adalah kali pertamanya melakukan janji dengan seorang perempuan, setelah terakhir kali dilakukan lebih dari dua tahun lalu. Janji yang dibuat oleh sang gadis. Janji yang kalau tak ditepati pun sebenarnya tak masalah.

Selama mempersiapkan diri, tak jarang senyum lebar mengambang dari bibir si pemuda, sebab terlalu banyak pemikiran konyol yang masuk kedalam otak tentang apa yang bakal terjadi selanjutnya.

Malam itu ia hanya ingin mengambil kue bolu yang dibuat oleh seorang gadis. Tidak lebih. Tapi tetap saja bayangan tentang kejadian apa yang bakal terjadi selanjutnya terus memaksa masuk keotak layaknya para pedemo yang mencoba mendobrak barikade-barikade petugas keamanan.

Kalau boleh jujur, ini bukanlah pertemuan spesial sebenarnya, tapi menjadi spesial karna si pemuda memiliki rasa “lebih” kepada si perempuan itu dan sebenarnya sang gadis menganggap ini hanyalah pertemuan biasa, pertemuan yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak lebih.

Listrik yang padam, keadaan rumah yang remang, serta lilin yang menghasilkan cahaya temaram membuat suasana rumah menjadi kelam tapi tak cukup kelam untuk meruntuhkan tembok-tembok perasaan bahagia sang pemuda. Senyum konyol memperlihatkan behel warna abu-abu tetap tersungging dibibir. Ia mengecek kembali tampilannya, apakah sweater lusuh, belel dan satu-satunya itu tak terlalu mencolok, ia mengecek kembali bau nafas dengan meletakkan telapak tangan didepan mulut sambil menghembuskan nafas, setelah beberapa saat lalu menggosok gigi. Terlalu banyak kegiatan tak penting yang ia lakukan, membuat waktu seakan  terbuang percuma.

Rumah menjadi gelap total seiring dengan lilin yang dipadamkan serta langkah kaki menuju keluar rumah.

Sebelum berangkat, sang pemuda memasukkan tiga biji permen karet kemulut. Lebih banyak dari biasanya. “aah semoga permen karet ini dapat menekan rasa gugup” pikir pemuda. Permen karet adalah makanan yang ia sukai, karna dapat membantunya menenangkan otak dan detak jantung yang cepat akibat gugup. Jika ada orang yang memiliki boneka kesayangan sampai-sampai selalu menjadikan boneka tersebut teman saat tidur, maka permen karet itu adalah “boneka kesayangannya”.

            Ia langsung meluncur menuju rumah sang gadis setelah sebelumnya mengirimkan pesan kalau ia berangkat.

Dibelantara jalan raya, si pemuda mengamati cahaya-cahaya lampu dari kendaraan hilir mudik dengan berbagai macam tujuan dan kepentingan. Cahaya-cahaya yang dihasilkan itu seolah membuat pola seperti semut-semut yang sedang berjalan beriringan. Diantaranya ada mobil ambulan melaju cepat dengan bunyi sirine, truk kontainer besar, tentu banyak mobil dan motor pribadi. Sebisa mungkin si pemuda berkendara dengan pelan untuk menghilangkan kegugupan yang makin menjadi-jadi. Seolah-olah berjalan mundur. 

Jantungnya serasa mau meledak. Di sepanjang jalan ia membuat gelembung untuk menekan rasa gugup itu, namun tetap sia-sia, gelembung-gelembung itu menguap tanpa membawa serta rasa gugup tersebut.

Sekedar informasi, ini juga adalah kali pertama untuk ia kerumah gadis tersebut. sebagai orang “bego” dalam hal jalan, sang pemuda pantas merasa was-was. Dilampu merah pertigaan tulip – sebuah toko yang sebenarnya sekarang bernama glow- jatungnya makin berdetak cepat memikirkan adegan nanti yang akan terjadi, kata-kata apa yang tepat untuk diucapkan dan sebagainya. Pemuda itu melihat ada beberapa kunang-kunang sedang terbang diantara pohon-pohon pembatas jalan. Sinarnya terlalu redup jika dibanding dengan sinar kunang-kunang yang terakhir kali ia lihat. “seharusnya bisa lebih terang” pikir pemuda. Ia mendongkakkan kepala melihat langit yang gelap, warna langit malam itu seperti mencoba untuk memberitahukan sisi pilu dari sebuah malam kota yang penuh hingar bingar setiap malamnya.

15 menit kemudian ia telah berada didalam sebuah gang kecil, didepan pagar sebuah rumah, yang kalau dari apa yang diberitahu sang gadis, itu adalah rumahnya. Didepan rumah tersebut, sedang duduk seorang gadis berjilbab. Gadis itu terlihat sedang memainkan handphone dengan hikmat dan penuh penghayatan.

Mata mereka saling bertemu sebentar, sekitar lima detik. Sang pemuda tersenyum, menyangka kalau dia adalah gadis tersebut. Namun, gadis yang sedang duduk itu menatap dengan heran, setelahnya gadis tersebut memainkan handphone kembali dengan tingkat kehikmatan yang sama seperti sebelumnya. Sang pemuda bukan tanpa usaha, ia ingin memanggil gadis cuek itu, sebelum akhirnya tersadar kalau gadis tersebut bukanlah gadis yang ia lihat beberapa waktu lalu.

Si pemuda mulai panik, ia berpikir kalau ia salah rumah. Buru-buru ia mengirim pesan, menanyakan kembali alamat rumah sang gadis. Selagi menunggu balasan, ia kembali memasukkan sebiji permen karet ke mulut. Total ia memakan empat permen karet sekaligus malam itu. Rekor yang tak penting. Juga rasa gugup yang makin menjadi-jadi antara ingin bertemu dengan sang gadis serta takut salah rumah membuat jantungnya serasa mau loncat dan keluar dari organ tubuh.

Beberapa menit kemudian, gadis itu keluar dari rumah itu. Ternyata itu benar rumahnya. Gadis yang memainkan handphone tadi pun sekonyong-konyong masuk kedalam rumah.

Dibawah lampu depan rumah, Ia terlihat cantik malam itu, atau mungkin tidak malam itu saja tapi mungkin setiap hari. Rambutnya yang diblonde kebelakang memperlihatkan dengan jelas bentuk muka yang anggun dibawah pantulan sinar bohlam. Masih dibawah pancaran lampu si gadis sedikit berteriak kepada si pemuda yang bengong seperti orang yang baru melihat hal yang tak pernah ia lihat, menyuruhnya untuk menunggu sebentar. Meski dari jarak yang cukup jauh, aura kecantikan sang perempuan masih sangat kuat. 

Tak sampai satu menit, gadis tersebut kembali dengan satu plastik besar warna merah ditangan kanannya. Mereka berdua berjalan saling mendekati, seperti dua kutub magnet yang saling tarik-menarik.

Si pemuda menatap mata gadis itu sebentar. Mengenjutkan sekali, matanya sangat unik, tipe mata yang dapat meneduhkan lawan bicaranya. Sampai-sampai butuh waktu beberapa detik untuk sang pemuda menyadari kalau sang gadis memiliki mata yang unik. Tapi bila dipikir lebih lanjut, memang belum pernah ada kesempatan untuknya menatap mata gadis tersebut sedekat malam itu. Berbicara berdua seperti sekarang pun adalah untuk yang pertama kalinya. 

Jika menelaah perasaan mereka berdua dari cara berbicara, mereka berdua terlihat sangat kontras dan bertolak belakang. Sang gadis berbicara dengan tenang, santai, lancar, seperti bicara pada umumnya. Sedang untuk sang pemuda, gagap, kelihatan gugup, penuh tekanan, banyak mengulang kata yang sama. Sekilas sang pemuda terlihat seperti alien bodoh yang mengalami gagal jantung.

Tak banyak kata yang keluar malam itu, disebabkan kelakuan si pemuda yang seperti alien tadi. Si pemuda pulang dengan seloyang penuh kue bolu. Diperjalanan pulang, si pemuda agak menyesali kegugupannya. Sekelebat pemikiran what if –bagaimana jika- masuk ke alam sadarnya, seperti bagaimana jika si pemuda tidak gugup, mungkin akan banyak perbincangan terjadi. Bagaimana jika si pemuda menerima tawaran sang gadis untuk bertahan lebih lama, mungkin akan ada kedekatan yang lebih. Bagaimana jika ia lebih berani menatap mata sang gadis, mungkin jalannya akan lain. Dan banyak bagaimana jika yang lain.

Setibanya dirumah yang masih dalam keadaan gelap gulita, ia menyalakan lilin putih kecil dan membuka bungkusan kue bolunya. Sebelumnya, ia telah mendapat wanti-wanti dari sang gadis kalau-kalau rasanya tidak enak dan membuat si pemuda keracunan, seperti dalam kisah dongeng Snow White. Tapi, pas potongan pertama kue bolu itu masuk kemulut dan meluncur ketenggorokan si pemuda, sangat mengejutkan !!! kue bolu tersebut betul-betul enak, apalagi bagian atas kue bolu tesebut, sungguh lezat. Rasanya seperti nastar, teksturnya lembut tapi cukup membuat mulut serat kalau tidak dibarengi dengan minum air. Singkatnya ini adalah bolu yang paling nikmat yang pernah ia makan -ungkap sang pemuda kepada penulis-, terbukti dari bolu yang sisa setengah dalam sekejap.



Malam itu, sang pemuda memang tidak bisa menghabiskan satu bolu penuh, cukup banyak masih tersisa. seiring ia harus berdamai dengan perut yang telah berisi penuh, ia juga menyadari kalau ia juga harus berdamai dengan kenyataan, dengan perasaan seseorang yang tak bisa dipaksakan.

*note : yang ingin mesan kue bolu, bisa lah nanti diuruskan.