Gerimis bulan maret membasahi hampir
seluruh kota Banjarmasin malam itu, saat seorang pemuda menatap cermin kecil dengan pandangan dan perasaan campur
aduk. Ini adalah kali pertamanya melakukan janji dengan seorang perempuan,
setelah terakhir kali dilakukan lebih dari dua tahun lalu. Janji yang dibuat
oleh sang gadis. Janji yang kalau tak ditepati pun sebenarnya tak masalah.
Selama mempersiapkan diri, tak jarang
senyum lebar mengambang dari bibir si pemuda, sebab terlalu banyak pemikiran
konyol yang masuk kedalam otak tentang apa yang bakal terjadi selanjutnya.
Malam itu ia hanya ingin mengambil kue
bolu yang dibuat oleh seorang gadis. Tidak lebih. Tapi tetap saja bayangan tentang
kejadian apa yang bakal terjadi selanjutnya terus memaksa masuk keotak layaknya
para pedemo yang mencoba mendobrak barikade-barikade petugas keamanan.
Kalau boleh jujur, ini bukanlah
pertemuan spesial sebenarnya, tapi menjadi spesial karna si pemuda memiliki
rasa “lebih” kepada si perempuan itu dan sebenarnya sang gadis menganggap ini
hanyalah pertemuan biasa, pertemuan yang bisa dilakukan oleh siapa saja. Tidak
lebih.
Listrik yang padam, keadaan rumah yang
remang, serta lilin yang menghasilkan cahaya temaram membuat suasana rumah
menjadi kelam tapi tak cukup kelam untuk meruntuhkan tembok-tembok perasaan
bahagia sang pemuda. Senyum konyol memperlihatkan behel warna abu-abu tetap
tersungging dibibir. Ia mengecek kembali tampilannya, apakah sweater lusuh,
belel dan satu-satunya itu tak terlalu mencolok, ia mengecek kembali bau nafas
dengan meletakkan telapak tangan didepan mulut sambil menghembuskan nafas,
setelah beberapa saat lalu menggosok gigi. Terlalu banyak kegiatan tak penting
yang ia lakukan, membuat waktu seakan
terbuang percuma.
Rumah menjadi gelap total seiring dengan
lilin yang dipadamkan serta langkah kaki menuju keluar rumah.
Sebelum berangkat, sang pemuda
memasukkan tiga biji permen karet kemulut. Lebih banyak dari biasanya. “aah
semoga permen karet ini dapat menekan rasa gugup” pikir pemuda. Permen karet
adalah makanan yang ia sukai, karna dapat membantunya menenangkan otak dan
detak jantung yang cepat akibat gugup. Jika ada orang yang memiliki boneka
kesayangan sampai-sampai selalu menjadikan boneka tersebut teman saat tidur,
maka permen karet itu adalah “boneka kesayangannya”.
Ia
langsung meluncur menuju rumah sang gadis setelah sebelumnya mengirimkan pesan
kalau ia berangkat.
Dibelantara jalan raya, si pemuda
mengamati cahaya-cahaya lampu dari kendaraan hilir mudik dengan berbagai macam
tujuan dan kepentingan. Cahaya-cahaya yang dihasilkan itu seolah membuat pola
seperti semut-semut yang sedang berjalan beriringan. Diantaranya ada mobil
ambulan melaju cepat dengan bunyi sirine, truk kontainer besar, tentu banyak
mobil dan motor pribadi. Sebisa mungkin si pemuda berkendara dengan pelan untuk
menghilangkan kegugupan yang makin menjadi-jadi. Seolah-olah berjalan mundur.
Jantungnya serasa mau meledak. Di sepanjang
jalan ia membuat gelembung untuk menekan rasa gugup itu, namun tetap sia-sia,
gelembung-gelembung itu menguap tanpa membawa serta rasa gugup tersebut.
Sekedar informasi, ini juga adalah kali
pertama untuk ia kerumah gadis tersebut. sebagai orang “bego” dalam hal jalan,
sang pemuda pantas merasa was-was. Dilampu merah pertigaan tulip – sebuah toko yang
sebenarnya sekarang bernama glow- jatungnya makin berdetak cepat memikirkan
adegan nanti yang akan terjadi, kata-kata apa yang tepat untuk diucapkan dan
sebagainya. Pemuda itu melihat ada beberapa kunang-kunang sedang terbang diantara
pohon-pohon pembatas jalan. Sinarnya terlalu redup jika dibanding dengan sinar
kunang-kunang yang terakhir kali ia lihat. “seharusnya bisa lebih terang” pikir
pemuda. Ia mendongkakkan kepala melihat langit yang gelap, warna langit malam
itu seperti mencoba untuk memberitahukan sisi pilu dari sebuah malam kota yang
penuh hingar bingar setiap malamnya.
15 menit kemudian ia telah berada
didalam sebuah gang kecil, didepan pagar sebuah rumah, yang kalau dari apa yang
diberitahu sang gadis, itu adalah rumahnya. Didepan rumah tersebut, sedang duduk
seorang gadis berjilbab. Gadis itu terlihat sedang memainkan handphone dengan
hikmat dan penuh penghayatan.
Mata mereka saling bertemu sebentar,
sekitar lima detik. Sang pemuda tersenyum, menyangka kalau dia adalah gadis
tersebut. Namun, gadis yang sedang duduk itu menatap dengan heran, setelahnya
gadis tersebut memainkan handphone kembali dengan tingkat kehikmatan yang sama seperti sebelumnya. Sang pemuda bukan tanpa usaha, ia
ingin memanggil gadis cuek itu, sebelum akhirnya tersadar kalau gadis tersebut
bukanlah gadis yang ia lihat beberapa waktu lalu.
Si pemuda mulai panik, ia berpikir kalau
ia salah rumah. Buru-buru ia mengirim pesan, menanyakan kembali alamat rumah
sang gadis. Selagi menunggu balasan, ia kembali memasukkan sebiji permen karet
ke mulut. Total ia memakan empat permen karet sekaligus malam itu. Rekor yang
tak penting. Juga rasa gugup yang makin menjadi-jadi antara ingin bertemu
dengan sang gadis serta takut salah rumah membuat jantungnya serasa mau loncat
dan keluar dari organ tubuh.
Beberapa menit kemudian, gadis itu
keluar dari rumah itu. Ternyata itu benar rumahnya. Gadis yang memainkan
handphone tadi pun sekonyong-konyong masuk kedalam rumah.
Dibawah lampu depan rumah, Ia terlihat
cantik malam itu, atau mungkin tidak malam itu saja tapi mungkin setiap hari. Rambutnya yang diblonde kebelakang memperlihatkan dengan jelas bentuk muka yang anggun dibawah pantulan sinar bohlam. Masih
dibawah pancaran lampu si gadis sedikit berteriak kepada si pemuda yang bengong
seperti orang yang baru melihat hal yang tak pernah ia lihat, menyuruhnya untuk
menunggu sebentar. Meski dari jarak yang cukup jauh, aura kecantikan sang
perempuan masih sangat kuat.
Tak sampai satu menit, gadis tersebut
kembali dengan satu plastik besar warna merah ditangan kanannya. Mereka berdua
berjalan saling mendekati, seperti dua kutub magnet yang saling tarik-menarik.
Si pemuda menatap mata gadis itu
sebentar. Mengenjutkan sekali, matanya sangat unik, tipe mata yang dapat meneduhkan lawan
bicaranya. Sampai-sampai butuh waktu beberapa detik untuk sang pemuda menyadari
kalau sang gadis memiliki mata yang unik. Tapi bila dipikir lebih lanjut,
memang belum pernah ada kesempatan untuknya menatap mata gadis tersebut sedekat
malam itu. Berbicara berdua seperti sekarang pun adalah untuk yang pertama kalinya.
Jika menelaah perasaan mereka berdua dari cara berbicara, mereka berdua terlihat sangat kontras dan bertolak belakang. Sang gadis berbicara dengan tenang, santai, lancar, seperti bicara pada umumnya. Sedang untuk sang pemuda, gagap, kelihatan gugup, penuh tekanan, banyak mengulang kata yang sama. Sekilas sang pemuda terlihat seperti alien bodoh yang mengalami gagal jantung.
Jika menelaah perasaan mereka berdua dari cara berbicara, mereka berdua terlihat sangat kontras dan bertolak belakang. Sang gadis berbicara dengan tenang, santai, lancar, seperti bicara pada umumnya. Sedang untuk sang pemuda, gagap, kelihatan gugup, penuh tekanan, banyak mengulang kata yang sama. Sekilas sang pemuda terlihat seperti alien bodoh yang mengalami gagal jantung.
Tak banyak kata yang keluar malam itu,
disebabkan kelakuan si pemuda yang seperti alien tadi. Si pemuda pulang dengan
seloyang penuh kue bolu. Diperjalanan pulang, si pemuda agak menyesali kegugupannya.
Sekelebat pemikiran what if –bagaimana jika- masuk ke alam sadarnya, seperti
bagaimana jika si pemuda tidak gugup, mungkin akan banyak perbincangan terjadi.
Bagaimana jika si pemuda menerima tawaran sang gadis untuk bertahan lebih lama, mungkin akan ada
kedekatan yang lebih. Bagaimana jika ia lebih berani menatap mata sang gadis,
mungkin jalannya akan lain. Dan banyak bagaimana jika yang lain.
Setibanya dirumah yang masih dalam
keadaan gelap gulita, ia menyalakan lilin putih kecil dan membuka bungkusan kue
bolunya. Sebelumnya, ia telah mendapat wanti-wanti dari sang gadis kalau-kalau
rasanya tidak enak dan membuat si pemuda keracunan, seperti dalam kisah dongeng Snow White. Tapi, pas potongan pertama kue bolu itu masuk kemulut dan
meluncur ketenggorokan si pemuda, sangat mengejutkan !!! kue bolu tersebut
betul-betul enak, apalagi bagian atas kue bolu tesebut, sungguh lezat. Rasanya
seperti nastar, teksturnya lembut tapi cukup membuat mulut serat kalau tidak
dibarengi dengan minum air. Singkatnya ini adalah bolu yang paling nikmat yang pernah ia
makan -ungkap sang pemuda kepada penulis-, terbukti dari bolu yang sisa setengah dalam sekejap.
Malam itu, sang pemuda memang tidak bisa
menghabiskan satu bolu penuh, cukup banyak masih tersisa. seiring ia harus
berdamai dengan perut yang telah berisi penuh, ia juga menyadari kalau ia juga
harus berdamai dengan kenyataan, dengan perasaan seseorang yang tak bisa
dipaksakan.
*note : yang ingin mesan kue bolu, bisa lah nanti diuruskan.
*note : yang ingin mesan kue bolu, bisa lah nanti diuruskan.

