dia adalah seorang lelaki biasa, sama seperti pada umumnya. lelaki paruh baya berumur sekitar 50an yang memiliki kehidupan yang mapan. jelas dia lelaki yang mapan, melihat profesinya sebagai Dosen ditempatku menuntut ilmu.
sekilas tak ada yang salah dari dia. secara kasat mata semua berjalan normal. dengan profesinya tersebut, beliau bisa pergi kemana saja, bisa membeli apa saja. dan bisa hidup bahagia dihari tuanya. tapi entah kenapa tak pernah terlihat ada raut senyum bahagia yang muncul dibibir beliau. selalu datar. beliau tak pernah memberi senyum tidak hanya kepada kami para mahasiswanya, tapi juga kepada teman seprofesi ataupun orang lain.
pernah sekali waktu karna rasa ingin tahu yang amat sangat menggebu-gebu, aku coba untuk fokus mengamatinya, ditempat yang paling ramai dan penuh hingar bingar sekali pun beliau tak tersenyum, apalagi tertawa lepas. bibirnya tak berpindah melengkung dari garis edarnya. seolah ada sesuatu yang tertahan dan enggan untuk dilepaskan.
ada yang menduga kalau giginya hitam dan kuning, ada yang menduga kalau beliau pakai gigi palsu, dan ada yang sampai mengira kalau kotak tertawanya habis dan tak berlaku lagi layaknya sebuah sim card yang tak pernah diisi pulsa. aku tahu kalau gigi beliau rapih dan tidak hitam apalagi kuning, terlihat saat beliau sedang mengucapkan kata demi kata. kalaupun gigi hitam atau kuning, atau memakai gigi palsu jadi alasannya tak mau tersenyum, kukira adalah sebuah alasan yang konyol, mengingat banyak juga orang yang tak memiliki gigi yang putih tapi tetap tertawa dengan segala kegembiraan yang ada dan hal konyol lainnya. tak jarang mereka tertawa sampai gigi palsunya copot dan mereka tak mempermasalahkan itu.
seiring berjalannya waktu, banyak yang sudah tak lagi mempertanyakan sebabnya dan mulai acuh dengan beliau yang tak pernah melemparkan senyum. namun aku mencoba berbeda. jika teman lain mulai pasrah dan memilih jalan A, jalan untuk balik kanan dan bubar jalan, maka aku memilih jalan satunya, jalan terus kedepan meski tak tahu ujungnya.
mencoba untuk mencari tahu, barangkali ada sebab yang lebih sentimentil dan monumental yang terjadi dimasa lalu. masa lalu yang mungkin sangat pilu yang tak perlu banyak orang tahu. atau sebuah pengalaman pahit hingga untuk menceritakan kepada orang lainpun akan sangat sulit, atau mungkin tentang sebuah ingatan kelam yang ceritanya tak ingin beliau bagi dan cuma ingin diingat sendiri. entahlah.
apa yang jadi sebabnya masih menjadi pertanyaan yang sederhana, namun sukar mencari alasannya. seperti pertanyaan beliau yang sulit dijawab para mahasiswanya.
pernah sekali waktu karna rasa ingin tahu yang amat sangat menggebu-gebu, aku coba untuk fokus mengamatinya, ditempat yang paling ramai dan penuh hingar bingar sekali pun beliau tak tersenyum, apalagi tertawa lepas. bibirnya tak berpindah melengkung dari garis edarnya. seolah ada sesuatu yang tertahan dan enggan untuk dilepaskan.
ada yang menduga kalau giginya hitam dan kuning, ada yang menduga kalau beliau pakai gigi palsu, dan ada yang sampai mengira kalau kotak tertawanya habis dan tak berlaku lagi layaknya sebuah sim card yang tak pernah diisi pulsa. aku tahu kalau gigi beliau rapih dan tidak hitam apalagi kuning, terlihat saat beliau sedang mengucapkan kata demi kata. kalaupun gigi hitam atau kuning, atau memakai gigi palsu jadi alasannya tak mau tersenyum, kukira adalah sebuah alasan yang konyol, mengingat banyak juga orang yang tak memiliki gigi yang putih tapi tetap tertawa dengan segala kegembiraan yang ada dan hal konyol lainnya. tak jarang mereka tertawa sampai gigi palsunya copot dan mereka tak mempermasalahkan itu.
seiring berjalannya waktu, banyak yang sudah tak lagi mempertanyakan sebabnya dan mulai acuh dengan beliau yang tak pernah melemparkan senyum. namun aku mencoba berbeda. jika teman lain mulai pasrah dan memilih jalan A, jalan untuk balik kanan dan bubar jalan, maka aku memilih jalan satunya, jalan terus kedepan meski tak tahu ujungnya.
mencoba untuk mencari tahu, barangkali ada sebab yang lebih sentimentil dan monumental yang terjadi dimasa lalu. masa lalu yang mungkin sangat pilu yang tak perlu banyak orang tahu. atau sebuah pengalaman pahit hingga untuk menceritakan kepada orang lainpun akan sangat sulit, atau mungkin tentang sebuah ingatan kelam yang ceritanya tak ingin beliau bagi dan cuma ingin diingat sendiri. entahlah.
apa yang jadi sebabnya masih menjadi pertanyaan yang sederhana, namun sukar mencari alasannya. seperti pertanyaan beliau yang sulit dijawab para mahasiswanya.