27 March 2014

Diam-diam dan pelan-pelan

9.50 am. saat saya menuliskan ini dicatatan handphone saya, saya sedang berada disebuah kantin dikampus saya. dengan segelas kopi hangat yang sisa setengah dan sepiring nasi goreng yang tak bersisa.

kamu tahu ? saya sedang suka dengan lagu goresan tinta dari too weak to dance. unsur pop-melodic-modernnya membuat lagu tersebut jadi tidak terlalu menye-menye untuk didengarkan. awalnya saya ingin mendengarkan lagu tersebut dari hape saya saat makan, tapi buru-buru saya urungkan karna takut dianggap tidak menghargai pengamen yang ada disitu. ya, saat itu ada pengamen yang lagi menyanyikan lagu selimut tetangga dari band repvblik yang entah kenapa banyak dari teman kampus saya suka dengan lagu tersebut.

anyway, suara penganmen itu juga (maaf dengan segala hormat) tidak terlalu enak didengar, bila kata fals disebut terlalu kasar. saking tidak terlalu enak didengar, saya lebih mencoba untuk menerka-nerka kembali lirik-lirik lagu goresan tinta dipikiran saya dibanding mendengarkan pengamen itu. seriuosly, just for the sake a joke.

dan pikiran saya pun langsung dipaksa untuk mengingat sesosok perempuan yang pernah diam-diam saya kagumi dengan pelan-pelan. perempuan dengan senyum yang menurut saya sempurna.

mengingat senyumnya, membuat saya senyum sendiri dikantin dan harus malu karna ditatap oleh banyak orang dengan tatapan aneh.

aneh rasanya, rasa yang beberapa tahun lalu sempat hadir dan sudah berhasil saya biarkan pergi seiring berjalannya waktu, tiba-tiba harus datang lagi. yes, yang salah saya memang, cuma membiarkan pergi bukan menghilangkannya. seperti yang kita tahu, pergi bisa kembali, tapi beda cerita jika hilang.

saya jadi ingat bagaimana saya melihatnya untuk pertama kali dizaman sekolah. saya jadi ingat bagaimana namanya selalu saya samarkan ketika saya menulis blog tentang dia. lagi-lagi ingatan-ingatan tersebut berhasil membuat saya tersenyum. kali ini saya sudah tidak mempedulikan lagi orang-orang disekitar saya, saya sudah tidak mempedulikan lagi kopi yang sisa setengah tadi menjadi dingin. dan yang jelas pengamen yang menyanyikan lagu selimut tetangga tadi sudah tidak ada didekat saya. saya pun jadi lebih fokus kepada sosok perempuan yang ada dalam benak saya ini.

saya menuliskan ini karna malam harinya, saya sempat saling mensyen ditwitter. tidak banyak hal yang berubah antara saya dan dia. saya tetap jadi seorang cowok cemen yang mengagumi dia secara diam-diam dan pelan-pelan. dan dia tetap menjadi seorang pengagum untuk seseorang, dan seseorang tersebut tentunya bukan saya.

aaah, sepertinya saya sudah cukup lama duduk dikantin ini dan harus melanjutkan kuliah saya. bernostalgia tentang seseorang memang membuat waktu terasa berjalan begitu cepat.

26 March 2014

Buka Pemelihara Yang Baik

dulu waktu saya kecil, saya sempat berkeinginan untuk memilihara kucing saat tetangga saya punya banyak kucing. setiap saat saya main kerumahnya, saya selalu disambut oleh kucing-kucingnya. niat awal saya yang ingin mengadopsi salah satu kucing dia mendadak saya urungkan setelah ngeliat proses kucing betina milik tetang saya itu melahirkan.

setelah lama mengubur keinginan masa kecil saya itu, keinginan itu muncul lagi sekarang, saat teman-teman saya banyak yang memasang foto kucing di dp bbm mereka. apa maksud mereka ? entahlah, saya juga tidak tahu. tapi yang jelas, keinginan itu muncul lagi.

yang menjadi masalahnya, saya sendiri menyadari kalau saya bukanlah "pemelihara" yang baik. entah itu memelihara binatang atau pun memelihara sebuah hubungan. cieee

saya pernah memelihara sepasang ikan cupang yang saya beli dipasar. namun tidak berapa lama setelah membeli, ikan cupang betina saya mati karna dimakan oleh ikan cupang jantan. saya tidak tahu kalau mereka disatukan dalam satu wadah bukannya kawin malah saling makan. dari sini saya tahu kalau ikan cupang itu kanibal, akhirnya dengan dendam atau kebodohan saya, saya menyuruh mama untuk menggoreng ikan cupang jantan tersebut.

saya juga pernah memelihara anak ayam warna yang biasanya dijual didepan-depan sekolahan atau dipasar. nasib anak ayam warna tersebut pun tidak jauh dengan ikan cupang. suatu hari, saking gembiranya saya punya anak ayam warna, saya mencoba untuk memandikan anak ayam warna saya. ternyata, cat yang ada dibadan anak ayam tersebut luntur. karna saya tidak tahu apa-apa, saya marah sama anak ayam itu. saya ingin menggorengnya lagi, tapi mama saya menolak, dan meyuruh saya melepas anak ayam yang sudah tidak berwarna-warni tersebur.

selain ikan cupang dan anak ayam warna, ada beberapa binatang yang sempat saya pelihara, yang mungkin akan saya ceritakan dilain kesempatan karna yang jadi inti disini bukanlah seberapa banyak saya pernah memelihara binatang atau seberapa kejam saya menyiksa binatang(karna saat itu saya sungguh khilaf. ampuni baim ya allah). yang jadi pokoknya disini adalah ketidaktelatenan saya dalam memelihara sesuatu.

jadi, untuk keinginan masa kecil yang datang kembali, sepertinya harus saya kubur lagi demi kebaikan saya dan si kucing tentunya.

19 March 2014

Jarak Dan Kebiasaan Homesick


   18 tahun lebih saya selalu hidup bersama kedua orang tua saya. Kemana-mana orang tua saya pergi saya pasti ikut. Bahkan saat ayah saya dipindahtugaskan ke marabahan (saat saya baru lulus smp), kita semua memutuskan untuk ikut pindah(pindah rumah).

   18 tahun bukan lah waktu yang singkat untuk sebuah kebersamaan.  18 tahun bukan lah waktu yang singkat untuk banyak moment epic yang saya dan keluarga saya rasakan, seperti saat dimana mungkin banyak anak kelas 2 smp sudah malu untuk ikut berkendara dengan orang tua. Saya masih suka ikut orang tua saya berkendara, bahkan duduk di depan. Jadi satu buah kendaraan ada saya(anak kelas 2 smp), ayah, dan ibu saya. Epic. Awalnya saya malu, bahkan saya sering di ejek teman sekelas saya, karna udah segede gitu masih ikut orang tua. Tapi, mungkin karna keseringan ikut, saya jadi cuek. Malah sangat menikmati  saat ayah saya selalu bercerita tentang banyak hal disaat berkendara. Epic. Ketika dejek teman seperti itu, sekarang saya bisa jawab, banyak orang yang tidak seberuntung saya. Hehe...

   18 tahun bukanlah waktu yang singkat untuk menjalin sebuah hubungan keluarga. Selalu ada romantisme dibaliknya. Saking tahu luar dalamnya, saya bahkan sering bercanda dengan kedua orang tua dan adik saya. Sebaliknya juga mereka. Saat tanggal tua, saat duit bulanan undah nggak ada, kita selalu patungan untuk membeli makanan. Duit jajan yang biasanya saya tabung kalo nggak abis, langsung abis seketika saat patungan. Hehe...

   Kadang selama 18 tahun tersebut, ada saja rasa iri dalam diri saya terhadap teman-teman saya yang bebas dan mandiri tanpa bergantung kepada orang tua. Saat malam minggu, ketika teman-teman saya ngongkrong sampai jam 1 pagi, jam 2 pagi. Saya cuma dirumah sambil nonton siaran bola(pas lagi ada) bersama kedua orang tua saya atau tidur cepat, sampai hari minggu tiba.

   Dalam 18 tahun tersebut, banyak hal-hal yang akan terlalu panjang kalau saya ceritakan disini. Namun, kebersamaan selama 18 tahun tersebut sampai pada sebuah klimaks yang tidak bisa dilanjutkan. Ya, saat saya diterima kuliah disalah satu perguruan tinggi negeri di Banjarmasin, yang mana mengharuskan saya untuk jadi “anak kost” dan untuk pertama kalinya setelah 18 tahun jauh dari orang tua. Jarak antara Marabahan dan Banjarmasin sebenarnya tidak terlalu jauh, hanya terpisah ratusan kilometer dengan akses yang mudah dilalui. Tapi bagi saya, jarak tersebut sangat jauh. Bagi seorang anak yang selama 18 tahun selalu dekat orang tua, jauh dekatnya jarak tidak berlaku ketika tidak bersama orang tua.

   Awal jadi anak kost sangat lah berat bagi saya. Karna saya sendiri tidak pernah berfikir bahkan membayangkan pun tidak untuk hidup sendirian jauh dari orang tua. Tapi untungnya, malam pertama saya jadi anak kost, ditemani sama kedua orang tua dan adik  saya. Haha, jadi kamar kost saya yang cuma berukuran 3x2,5 meter harus diisi oleh empat orang. Haha... Epic...

   Setelah kejadian itu, saya lagi-lagi harus diejek sama penghuni kost lain dan dicap sebagai anak baru yang cupu. Sebagai anak baru saya cuma bisa senyum mesem. Baru beberapa minggu jadi anak kost, pas pulang kerumah, saya minta sama orang tua untuk pindah tempat kost karna sampai saat itu saya belum punya teman di kost. Akhirnya, 6 bulan kemudian saya keluar dari kost tersebut dengan masih tidak punya teman. Kangen rumah yang selalu datang, membuat saya tidak dapat menahan hasrat untuk pulang. Pernah, saking inginnya pulang, sekitar jam 12 nalam, saya nekat pulang dari tempat kost menuju rumah dengan cuaca hujan dan petir dimana-mana. Keluarga selalu jadi tempat pertama untuk saya pulang. Bahkan saat ditipu oleh orang beberapa waktu lalu, saya tidak kekantor polisi, tapi pulang kerumah. Tidak bisa dipungkiri awal-awal saya di Banjarmasin, saya sempat mengalami yang saya sebut "takajut kota" syhdrome. Tidak bisa dipungkiri, gemerlapnya cahaya kota membuat saya silau dan merasakan diri saya hilang dari dalam tubuh saya.

   Seiring berjalannya waktu, akhirnya lebih 2 tahun sudah saya tidak lagi selalu dekat dengan orang tua. Sekarang saya ngekost di tempat yang berbeda, dan selama 2 tahun lebih ini saya banyak belajar kalau tak peduli kita berada ditempat apa, selama dengan keluarga adalah tempat terbaik.

5 March 2014

Sensasi-Sensasi Itu

aaaah, ngeblog lagi.... setelah kesibukkan yang sangat menyita waktu gue. tapi masih dalam keadaan jomblo.

ya, beberapa waktu belakangan ini gue jadi ujung tombak juru kunci alias ratik wara jadi penjual tiket atau bahasa gaulnya cp (contact person) dalam beberapa buah event stand up yang diadakan oleh komunitas Stand Up Banjarmasin. dan event-event tersebut saling berdekatan. yang mengharuskan gue untuk selalu action. apasih-__-

dan alhamdullilah, saat/selama gue jadi cp, tiketnya sold out mulu. hahaha *satu-satunya prestasi yang bisa gue banggain* dan itu bikin gue terobsesi untuk mendapatkan embel-embel "raja cp" hahaha

saat jadi cp : baru tidur bentar, banyak yang nelpon, banyak yang sms, banyak yang php.

saat berhenti jadi cp : siang malam nggak tidur, gegera jadi korban php.

beda tipis.

yap, sekitar 4 bulan gue jadi tukang tiket keliling. dan ditutup dengan "masih keadaan jomblo". padahal banyak nomer cewek cantik bertebaran dihengpone butut gue. sebagai seorang palyboy gagal, gue merasa sangat gagal.

setelah event-event tersebut selesai, itu berarti gue harus kembali kehabitat gue jadi mahasiswa biasa yang gagal jadi playboy.

gue menjalaninya dengan keadaan yang nyaris sempurna. seperti pulsa yang awet. tidur yang berlebihan. makan yang teratur. mandi yang teratur. tapi tau nggak yang membuat jadi nggak sempurna apa ? hati gue.... *nunjuk dada. dada agung hercules* hati gue sepi. yaelah bar-__-

----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

dan sekarang gue lagi jadi penjual(lebih mirip jadi calo sih sebenarnya) tiket event #TanpaBatasVol2 nya @sammynotaslimboy. tentu dalam keadaan status jomblo akut.

mungkin event kali ini tidak seekstrim event-event sebelumnya, jadi kali ini agak lebih santai. tapi tetep aja karna kesibukkan ini gue jadi jarang atau bahkan nggak pernah lagi ditolak cewek. boro ditolak pdkt aja kaga sempat.

disuatu malam, ditengah lampu merah, gue merenung. bukan, gue bukan lagi mengemis atau bersihin kaca mobil orang. bukan. gue merenung karna belakangan ini hidup gue datar banget. kira-kira begini lah renungan nggak berkualitas ala seorang jomblo aneh,

"kok gini-gini aja ya" kata gue dalam hati sambil ngeliatin angka pada lampu traffic light. dan alhamdullilah, belum sempat menitikkan air mata kok gue waktu itu.

yoi, selama beberapa bulan terakhir hidup gue datar banget. kayak udah terjadwal aja, habis kuliah dirumah, ada yang ngajak ketemu buat ngambil tiket, ketemuan, pulang, malam. dan besoknya kayak gitu lagi.

gue kangen sensasi-sensasi pdkt sama cewek, saat dimana yang ada dalam otak gue cuma dia. gue kangen sensasi-sensasi saat jantung gue nggak karuan rasa, waktu menunggu kepastian jawaban dari cewek. gue kangen sensasi-sensasi deketin cewek dengan susah payah, bahkan udah ngorbanin waktu, tempat dan lain-lain, tapi ujung-ujungnya ditolak. gue kangen sensasi-sensasi galau berhari-hari akibat ditolak atau mengetahui cewek yang gue taksir sudah punya cowo dan yang mirisnya cowo nya jauh lebih ganteng, lebih kaya, lebih bisa bahagiain dia. gue kangen sensasi-sensasi patah hati yang membuat gue malas makan, malas ngampus, malas ngapa-ngapain sampai susah tidur.

gue kangen sensasi-sensasi seperti itu yang mebuat gue lebih dewasa.

terakhir,  megutip, judul diatas, gue kangen Sensasi-Sensasi Itu. salam. dari Akbar Maulidi (jomblo Aneh)

bonusnya hehehe