9.50 am. saat saya menuliskan ini dicatatan handphone saya, saya sedang berada disebuah kantin dikampus saya. dengan segelas kopi hangat yang sisa setengah dan sepiring nasi goreng yang tak bersisa.
kamu tahu ? saya sedang suka dengan lagu goresan tinta dari too weak to dance. unsur pop-melodic-modernnya membuat lagu tersebut jadi tidak terlalu menye-menye untuk didengarkan. awalnya saya ingin mendengarkan lagu tersebut dari hape saya saat makan, tapi buru-buru saya urungkan karna takut dianggap tidak menghargai pengamen yang ada disitu. ya, saat itu ada pengamen yang lagi menyanyikan lagu selimut tetangga dari band repvblik yang entah kenapa banyak dari teman kampus saya suka dengan lagu tersebut.
anyway, suara penganmen itu juga (maaf dengan segala hormat) tidak terlalu enak didengar, bila kata fals disebut terlalu kasar. saking tidak terlalu enak didengar, saya lebih mencoba untuk menerka-nerka kembali lirik-lirik lagu goresan tinta dipikiran saya dibanding mendengarkan pengamen itu. seriuosly, just for the sake a joke.
dan pikiran saya pun langsung dipaksa untuk mengingat sesosok perempuan yang pernah diam-diam saya kagumi dengan pelan-pelan. perempuan dengan senyum yang menurut saya sempurna.
mengingat senyumnya, membuat saya senyum sendiri dikantin dan harus malu karna ditatap oleh banyak orang dengan tatapan aneh.
aneh rasanya, rasa yang beberapa tahun lalu sempat hadir dan sudah berhasil saya biarkan pergi seiring berjalannya waktu, tiba-tiba harus datang lagi. yes, yang salah saya memang, cuma membiarkan pergi bukan menghilangkannya. seperti yang kita tahu, pergi bisa kembali, tapi beda cerita jika hilang.
saya jadi ingat bagaimana saya melihatnya untuk pertama kali dizaman sekolah. saya jadi ingat bagaimana namanya selalu saya samarkan ketika saya menulis blog tentang dia. lagi-lagi ingatan-ingatan tersebut berhasil membuat saya tersenyum. kali ini saya sudah tidak mempedulikan lagi orang-orang disekitar saya, saya sudah tidak mempedulikan lagi kopi yang sisa setengah tadi menjadi dingin. dan yang jelas pengamen yang menyanyikan lagu selimut tetangga tadi sudah tidak ada didekat saya. saya pun jadi lebih fokus kepada sosok perempuan yang ada dalam benak saya ini.
saya menuliskan ini karna malam harinya, saya sempat saling mensyen ditwitter. tidak banyak hal yang berubah antara saya dan dia. saya tetap jadi seorang cowok cemen yang mengagumi dia secara diam-diam dan pelan-pelan. dan dia tetap menjadi seorang pengagum untuk seseorang, dan seseorang tersebut tentunya bukan saya.
aaah, sepertinya saya sudah cukup lama duduk dikantin ini dan harus melanjutkan kuliah saya. bernostalgia tentang seseorang memang membuat waktu terasa berjalan begitu cepat.
No comments:
Post a Comment