Entah kenapa belakangan ini gue jadi
sering ngeblog lagi. Sebelum ini, ada 2 buah post yang gue tulis dalam waktu
yang berdekatan. Gue nggak tau kenapa, mungkin karna hidup gue sekarang lagi
datar banget, mungkin karna gue terlalu takut untuk mencoba hal baru sehingga
terjebak dengan rutinitas yang membuat gue gelisah, atau mungkin karna umur gue
yang sudah mendekati 20 sehingga ada rasa malu terhadap diri gue yang lima
tahun lalu menatap jauh keatas.
2 post sebelumnya sedikit-banyaknya
menyadarkan gue kalau sebuah “selera” harus setingkat dengan “logika”. Mungkin
diumur 14-18 tahun, gue masih bisa berangan-angan kalau punya pacar cantik dan
sepemikiran dengan kita, kita akan dan bisa bahagia. Mungkin diumur 14-18
tahun, gue masih bisa menerima sinetron-sinetron remaja yang jualannya cuma
kisah cinta pada tingkat SMA ala-ala ganteng-ganteng srigala.
Tapi nyatanya sekarang gue baru
menyadari, sangatlah tidak ber-prikemanusiaan meletakkan logika tidak dalam
tempatnya dan meletakkan selera bukan pada tingkatannya. Mungkin selera gue
yang salah, mungkin logika gue yang lemah, atau mungkin selera dan logika gue
yang tidak dalam satu wadah. Logika menurut KBBI adalah jalan pikiran yang
masuk akal. Sedangkan, selera menurut KBBI adalah sebuah keinginan. Yang mana
seperti yang gue ketahui, keinginan harus lah sejalan dengan pemikiran masuk
akal. Menurut Dosen filsafat gue, jika ada jarak gap(jarak) antara keinginan dengan kenyataan maka akan terjadi
sebuah masalah.
Rumus : R – W = P
R = W
Ket : W : keinginan R : kenyataan P : masalah
Bagi kebanyakan orang, masa pdkt
adalah masa paling menyenangkan dari banyaknya masa dalam menjalin hubungan.
Untuk beberapa hal mungkin gue setuju akan itu. Tapi tidak dapatnya seseorang
untuk berpikir jernih saat pdkt lah yang agak gue sesalkan dalam masa pdkt.
Segala unsur tentang dia yang harusnya bisa ditolak logika menjadi tidak
berguna saat pdkt. Jika jatuh cinta adalah sebuah hal yang membuat mabuk, gue
rasa pdkt ada dalam tingkatan tertinggi saat mabuk.
Sedangkan pacaran ada dalam
tingkatan paling rendah dalam mabuk alias mulai normal tapi masih mabuk. Segala
bentuk penasaran tentang dia ada saat pdkt. Segala khayalan masa depan dengan
dia ada saat pdkt. Segala pemikiran-pemikiran yang seharusnya belum lo pikirkan
ada saat pdkt. Mungkin ini juga alasan kenapa sebuah ftv atau pun film
endingnya cukup sampai pacaran atau menikah dan plot-plot tak terduganya ada
dipertengahan film yaitu saat proses “pdkt”. Karna kalau diteruskan mungkin
akan jadi sebuah hal yang memuakkan, yaitu terjebak dalam sebuah rutinitas yang
disebut pernikahan. Kalau dalam mabuk, mungkin pernikahan sudah dalam tahap
sadar, dan berkeluarga sudah dalam taraf insyaf.
Sebelumnya, menurut kalian apa yang
paling enak dari kopi ? pahitnya ? kekentalannya ? menurut gue aromanya.
Menurut apa yang gue baca, seberapa matang air yang akan digunakan untuk
menyeduh kopi menentukan seberapa wangi aroma kopinya. katanya semakin matang
airnya, semakin keluar aromanya. Menyambung 2 post sebelumnya, menurut gue pdkt
itu juga sama seperti sebuah kopi. tak peduli seberapa pahitnya sebuah
penolakan karna penolakan-penolakan akan berujung pada sebuah kematangan.