25 July 2014

Mungkin Selera Yang Tak Bisa Diterima Logika



Entah kenapa belakangan ini gue jadi sering ngeblog lagi. Sebelum ini, ada 2 buah post yang gue tulis dalam waktu yang berdekatan. Gue nggak tau kenapa, mungkin karna hidup gue sekarang lagi datar banget, mungkin karna gue terlalu takut untuk mencoba hal baru sehingga terjebak dengan rutinitas yang membuat gue gelisah, atau mungkin karna umur gue yang sudah mendekati 20 sehingga ada rasa malu terhadap diri gue yang lima tahun lalu menatap jauh keatas.

2 post sebelumnya sedikit-banyaknya menyadarkan gue kalau sebuah “selera” harus setingkat dengan “logika”. Mungkin diumur 14-18 tahun, gue masih bisa berangan-angan kalau punya pacar cantik dan sepemikiran dengan kita, kita akan dan bisa bahagia. Mungkin diumur 14-18 tahun, gue masih bisa menerima sinetron-sinetron remaja yang jualannya cuma kisah cinta pada tingkat SMA ala-ala ganteng-ganteng srigala.

Tapi nyatanya sekarang gue baru menyadari, sangatlah tidak ber-prikemanusiaan meletakkan logika tidak dalam tempatnya dan meletakkan selera bukan pada tingkatannya. Mungkin selera gue yang salah, mungkin logika gue yang lemah, atau mungkin selera dan logika gue yang tidak dalam satu wadah. Logika menurut KBBI adalah jalan pikiran yang masuk akal. Sedangkan, selera menurut KBBI adalah sebuah keinginan. Yang mana seperti yang gue ketahui, keinginan harus lah sejalan dengan pemikiran masuk akal. Menurut Dosen filsafat gue, jika ada jarak gap(jarak) antara keinginan dengan kenyataan maka akan terjadi sebuah masalah.

Rumus : R – W = P

               R = W

Ket : W : keinginan    R : kenyataan    P : masalah

Bagi kebanyakan orang, masa pdkt adalah masa paling menyenangkan dari banyaknya masa dalam menjalin hubungan. Untuk beberapa hal mungkin gue setuju akan itu. Tapi tidak dapatnya seseorang untuk berpikir jernih saat pdkt lah yang agak gue sesalkan dalam masa pdkt. Segala unsur tentang dia yang harusnya bisa ditolak logika menjadi tidak berguna saat pdkt. Jika jatuh cinta adalah sebuah hal yang membuat mabuk, gue rasa pdkt ada dalam tingkatan tertinggi saat mabuk.

Sedangkan pacaran ada dalam tingkatan paling rendah dalam mabuk alias mulai normal tapi masih mabuk. Segala bentuk penasaran tentang dia ada saat pdkt. Segala khayalan masa depan dengan dia ada saat pdkt. Segala pemikiran-pemikiran yang seharusnya belum lo pikirkan ada saat pdkt. Mungkin ini juga alasan kenapa sebuah ftv atau pun film endingnya cukup sampai pacaran atau menikah dan plot-plot tak terduganya ada dipertengahan film yaitu saat proses “pdkt”. Karna kalau diteruskan mungkin akan jadi sebuah hal yang memuakkan, yaitu terjebak dalam sebuah rutinitas yang disebut pernikahan. Kalau dalam mabuk, mungkin pernikahan sudah dalam tahap sadar, dan berkeluarga sudah dalam taraf insyaf. 


Sebelumnya, menurut kalian apa yang paling enak dari kopi ? pahitnya ? kekentalannya ? menurut gue aromanya. Menurut apa yang gue baca, seberapa matang air yang akan digunakan untuk menyeduh kopi menentukan seberapa wangi aroma kopinya. katanya semakin matang airnya, semakin keluar aromanya. Menyambung 2 post sebelumnya, menurut gue pdkt itu juga sama seperti sebuah kopi. tak peduli seberapa pahitnya sebuah penolakan karna penolakan-penolakan akan berujung pada sebuah kematangan.


20 July 2014

DISCOMFORT ZONE


         Kemarin gue baru saja ikut acara buka bersama dengan beberapa teman alumni SMA gue. dan itu adalah acara rutin yang digelar selama dua tahun belakangan semenjak kami lulus.
         
       Meski banyak yang nggak datang, tapi gue jelas sangat melihat perubahan-perubahan yang terjadi dalam diri mereka (tahun lalu gue nggak ikut). Ada yang sudah kelihatan dewasa dengan perkataannya ataupun pakaiannya. Ada yang tambah cantik. Ada yang tambah ganteng. Ada yang kelihatannya tambah makmur karna badannya tambah gendut. Ada yang tetap kerempeng(itu gue). Dan yang jelas mereka sibuk dengan gadgetnya masing-masing. Terlintas dibenak gue “buset... berubah banget”. Agar sama seperti mereka, gue juga sok sibuk ngeliatin hape, meski cuma geser-geser menu doang.
          
       dari acara buka bersama itu juga gue tahu, mereka kebanyakan sudah punya pacar atau lagi dekat dengan orang atau yang sudah beberapa kali ganti pacar. "anjirrrr, gue aja deh yang kayaknya ditolak mulu" kata gue membatin.

     keresahan gue tentang sering kalinya gue ditolak semakin menjadi-jadi sampai ketaraf yang mungkin mengganggu mengingat umur gue yang sudah hampir 20 tahun. ingat, hampir, belum 20. saat yang lain dengan umur segitu sudah memiliki pacar yang bisa berkomitmen, gue masih sibuk dengan "jatuh cinta-pdkt-dia jadian dengan yang lain-gue diphp". 

      beberapa waktu lalu, gue nyoba pdkt dengan anak SMA, dia tipe gue banget (dan tipe semua cowok kayaknya). awalnya bagus. dia enak diajak ngobrol. tapi pas dia tau umur gue segitu, dia mendadak menjauh dan jadian dengan orang lain.

         setelahnya gagal dengan anak SMA, gue nyoba deketin cewek yang baru lulus SMA. dia juga tipe gue banget. namun ternyata segala macam usaha gue untuk ngedeketin dia, semuanya sia-sia. ngaak ada feedbacknya. sekali nyoba deketi tapi nggak ada respon, masih wajar. dua kali nyoba deketin tapi nggak ada respon, masih nggak apa-apa. tiga kali nyoba, dan nggak direspon juga, gue sadar kalau gue ditolak secara halus.

           karna kegelisahan yang makin menjadi itu lah, belakangan ini gue banyak follow cewek ditwitter, di instagram. ngeinvite dibbm. dan kembali kefacebook buat add orang. nggak peduli difollback atau nggak, bahkan kalau diblock pun gue udah nggak peduli.

              terus bila ditanya sama cewek, "kenapa lo invite gue dibbm, ngeadd gue difb, follow gue diinstagram dan twitter ? kenapa semuanya lo ikutin ?"

                jawaban gue satu "umur gue udah 19, bentar lagi 20. dengan mencoba dekat lo, siapa tahu lo mau".  semoga dengan jawaban jujur seperti itu, benar-benar ada yang mau. semoga.

17 July 2014

SKETSA YANG GAGAL


         Alkisah, dikehidupan yang dewasa ini, terdapatlah seorang oknum. sebut lah namanya oknum A. Iya itu gue. kabarnya, oknum A ini sedang giat-giatnya mendekati cewek, karna statusnya yang sudah lama tidak berubah sejak jaman perang malvinas belum perang. Namun seperti yang sudah bisa ditebak endingnya, semua usaha dan cara oknum A untuk mendekati cewek sia-sia. Berikut sketsa lengkapnya,

Sketsa #1

“R” adalah seorang siswi sma. Pakai behel. Dan cantik.

Oknum A : “eh, masang behel dimana ?”

R : “di Doker Sophie”

Oknum A : “oh bukan didokter Faisol ya ?”

Sampai disini sudah mulai tercium aroma-aroma kegagalan. Karna niat awalnya, kalau didokter gigi yang sama, si oknum A ingin kenal lebih jauh sama si R dengan modus kedokter gigi bareng. Tsssaaaah.

R : “bukan. Emang kenapa ?”

Oknum A : “hmmm, nggak apa-apa. Sebenarnya itu cuma basa-basi doang biar bisa kenal sama elo” 

dengan kejujuran hati si oknum A membongkar niat awalnya, untuk bisa kenal.

R : “oh. Anak mana ? pernah sekolah di SMA tempat gue sekolah ya ?”

Oknum A : “iya. Tapi 2 tahun yang lalu”

Mendengar kalimat 2 tahun lalu, si R mendadak ingin muntah dan dengan tatapan "sumpeh-2-tahun-lalu-?-ih-tua-amat-lo" itu langsung menjauh dari oknum A.

sketsa #2

"L" adalah seorang cewek yang baru lulus SMA.

Oknum A : “thank you”

L : “iya. Tapi dimana dapat pin BB aku ?”

Oknum A : “biasa. Kerjaan pria tidak kurang laku. Ngestalk di facebook kamu”

Lagi-lagi dengan kejujuran hati, oknum A ngasih tau sambil berharap si L luluh melihat ternyata masih ada cowok jujur. Karna oknum A jarang sekali nge-invite seseorang. dari 33 kontak di bbm oknum A, cuma si L yang dia invite. saking niatnya. Tsaaah.

Namun nyatanya,

L : “hah ?”

Oknum A : “iya. Hehe maap. Kuliah dimana ?”

L : “gak tahu”

Sampai disini, oknum A sudah bisa menduga endingnya bakal sama kayak sebelumnya mengingat tidak adanya feedback dari si L.

Oknum A : “owh, maap, itu tadi sebenarnya basa-basi doang, biar bisa bbm-an sama kamu”

L : “iya gak apa-apa. Kalo sengaja dibbm-in juga gak apa-apa”

Firasat oknum A mulai tidak enak. Karna tiba-tiba si L mendadak humble. Dengan keraguan yang yakin, si oknum A bertanya,

Oknum A : “itu barusan dibajak ya ?”

L : “iya”

Oknum A pun langsung merasa hina. dan jadi tambah hina, mengingat usianya yang diujung  19 tahun ini masih sering gagal dalam pdkt.