"ntar malam ketoko buku yuk !"
kenapa mengajak ketoko buku ? bukan ketempat lain.
Begitulah teks singkat yang
tertera dihandphone androidku. Pengirimnya, tentu saja kamu. Ditengah-tengah
kejenuhanku dikampus, teks singkat darimu kucoba abaikan, kuanggap hanya salah
kirim dan angin lalu. Ingatanku tentang penolakkan-penolakkanmu saat kuajak
ketoko buku masih terlalu pekat dalam batok kepala.
Entah
kenapa, pesan singkat darimu membuatku kepikiran dan mengalihkan konsentrasiku
terhadap wanita cantik yang berada beberapa baris didepanku. Dibandingkan
denganmu, kurasa wanita yang kutatap diam-diam ini jauh lebih mempesona. Tapi
pada akhirnya aku menyerah juga. Seperti yang kamu tahu, aku selalu suka apapun yang kamu lakukan terhadapku dimasa lalu. Tak perlu kutanyakan apa resepnya, kurasa lebih baik tetap begitu dan terus begitu.
"yuk, divetran ? atau ?" kubalas pesanmu.
Sesudahnya aku kembali menatap perempuan itu dan otakku memikirkanmu. Mungkin
jika dia melihatku memandangnya diam-diam, aku berani bertaruh mukanya akan
lebih merah dari lipstik yang sering dipakai para cabe-cabean dewasa ini.
Aku memang bukan orang yang pandai dalam membuat perempuan jatuh hati, tapi
setidaknya aku tahu cara yang lebih mudah dari mengetik sebuah catatan dilayar
touchscreen untuk membuat perempuan tersipu.
"di vetran aja lah, bukan malam minggu gini sepi.
biar lebih tenang" pesan singkat terakhir darimu yang tak kubalas.
"Biar lebih
tenang" kucoba abaikan 3 kata terakhir dari smsmu itu. Tapi dimenit
berikutnya, kumemfokuskan pandangan pada kata itu lagi. Lantas aku menyimpulkan
kalau kamu lagi ada masalah sekarang.
Aku
tentu tahu segala sifatmu jauh lebih tahu dari yang kamu ketahui tentang
seberapa jauh aku mengetahuimu. Terlalu rumit kah kalimat itu ? yang jelas,
mana ada orang yang suka keramaian sepertimu mau mengunjungi toko buku terlebih
untuk mencari ketenangan kalau tak ada apa-apa dan mood yang baik-baik saja.
Bagaimana, analisisku mengecewakanmu ?
Seperti jam yang
telah kamu dan aku sepakati, aku berangkat menjemputmu tepat jam 19.30 wita.
Tentu aku agak telat dan tak sesuai janji untuk sampai kerumahmu. Kuharap kamu
memakluminya, mengingat membelah belantara jalan raya Banjarmasin bukanlah hal
yang mudah untuk dilakukan terlebih untuk pria kurus yang takut mati konyol
dijalan raya sepertiku.
Malam itu kamu tampak anggun
dengan setelan yang membuat mataku seperti mendapat penyegaran. Jilbab biru tua
yang menyelimuti kepalamu tampak cocok bersanding mesra dengan kemeja lengan
panjang dan celana jeans yang kamu kenakan. Tambahan aksesoris berupa kalung dan
jam tangan dilengan kirimu juga serasi.
"berangkat ayo" katamu seraya naik
keatas motorku. Mengagetkan aku yang lagi melamun.
Dijalan
menuju toko buku, asal kamu tahu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu,
salah tiganya adalah seperti,
kenapa mengajak aku ? bukan orang lain. Melihat
dengan mudahnya kamu menggaet orang untuk diajak.
dan kenapa memakai jilbab biru ? bukan warna lain.
Tapi
pertanyaan-pertanyaan diatas cukup kutahan ditenggorokkan dan tak diteruskan.
Sebab aku ingin lebih menikmati keberadaan kita yang terpisah beberapa senti
dalam kebisingin suara pengguna jalan raya lain. Sesampainya diparkiran toko
buku itu, kamu langsung bertanya,
"buku apa yang layak aku baca ?" tanyamu
enteng.
"what the.... mengajakku ketoko buku tanpa
ada rencana untuk membaca buku apa ?" umpatku dalam hati.
"lihat didalam aja ntar" jawabku agak sebal.
Ditoko buku
kita terpisah beberapa blok oleh rak-rak buku. Aku diblok sejarah. Kamu diblok
novel. Melihatmu agak kebingungan memilih buku untuk dijadikan bahan bacaan,
aku berinisiatif membantu dengan mengirim sebuah pesan singkat sok bijak.
"cari buku yang belum lo baca. karna gue tau
lo jarang baca, jadi pasti banyak buku yang belum lo baca. tapi gue saranin lo
baca buku yang menurut lo nggak menarik. penulisnya asing ditelinga dan bukan
selebtweet ! goodluck girl." pesan yang langsung kukirim kenomormu.
Mendengar handphonemu berbunyi nyaring dan membuat orang disekitarmu agak
kaget, aku tahu itu pesan dariku. Tanda pesanku telah terkirim. Kumelanjutkan
membaca buku yang dari tadi kupegang.
Kamu tersenyum
sambil melihat handphonemu. Sejenak aku tahu kamu memandangku dengan senyum yang
sama. Beberapa menit kemudian, kulihat kamu menyimpan kembali handphonemu kesaku
dan mengambil satu buku dengan mantap tanpa aku tahu itu buku apa.
"cari tempat duduk yuk, aku udah dapat buku yang seperti kamu saranin nih !" katamu menghampiriku sambil menenteng sebuah buku.
"ayo" jawabku dengan langkah yang berusaha sejajar denganmu.
Di tempat duduk, kamu langsung menunjukkan buku yang kamu pegang lengkap dengan senyum yang tersungging dibibir. Dan aku selalu suka dua gigi atas depanmu saat tersenyum. Manis.
"ini bukunya, judulnya Ketika Serigala Jatuh Cinta. sesuai saranmu bukan ?" ucapmu senyum-senyum.
Entah apa yang kamu pikirkan saat menerima saranku, tapi kuharap kamu tak salah memilih buku itu dan isinya tidak senorak sinetron tentang Serigala yang lagi hits di Indonesia belakangan ini. Aku menatapmu dengan tatapan yang katamu sangat khas, tanpa menjawab pertanyaanmu tadi. Aku melanjutkan bacaan tentang Tan Malaka.
Waktu terasa cepat berlalu, satu jam lebih aku dan kamu saling membaca tanpa mengganggu satu sama lain. Beberapa chapter telah terlewati. Sesekali aku memandang wajahmu yang tampak serius membaca. Pada beberapa waktu kamu tersenyum simpul. Lucu. Mungkin dugaanku salah, aku terlalu skeptis terhadap buku yang kamu baca hanya dengan melihat judulnya.
Aku tak melanjutkan bacaan karna sudah memutuskan untuk membelinya. Kini disebelahmu ada pria yang menemanimu membaca dengan bersahaja. Beberapa saat kemudian, kamu mengecek angka dijam tanganmu. Kulihat dengan sekilas tertera angka 21.22. Dengan senyum yang selalu asyik untuk dilihat, kamu bilang,
"udah yuk. aku mau baca dirumah aja ntar" katamu.
"aku juga" ucapku.
Kita berpisah keblok tempat buku yang akan kita beli masing-masing. Untuk mengambil buku yang masih pakai plastik dan tertera harga sebelum kembali bertemu ditempat kasir.
Dijalan pulang, tidak seperti berangkat, sekarang kita banyak berbincang. Tentu kamu yang mendominasi pembicaraan. Ceritamu tentang naksir dengan seorang laki-laki seperti sebuah syair yang dengan senang hati kudengarkan. Meski aku tahu laki-laki itu bukan aku. Tentang kekesalanmu karna hubungan yang tidak ada kemajuan dengannya lebih dari sekedar umpatan karna kuanggap sebagai sebuah satir yang mencapai klimaks. Jalan raya masih ramai dengan segala aktivitasnya tapi kita berdua saja tanpa mempedulikan mereka. Hanya kita berdua.
Setelahnya berada dipekarangan rumahmu, kamu mengajak untuk ngobrol diteras barang sejenak. Ajakan yang tak perlu berpikir dua kali untuk menerimanya. Aku duduk dibangku kayu cokelat sambil sok sibuk dengan mengecek handphoneku yang seperti biasa lebih sepi dari kampus yang lagi libur semester. Sedangkan kamu masuk kerumah. Berbicang dengan lelaki yang memiliki suara berat. Kurasa itu ayahmu.
Tak berapa lama, kau datang masih dengan setelan yang sama membawa dua gelas kopi. Kamu tahu aku tak pernah suka kopi.
"sekali-kali minum kopi lah !" ucapmu seakan mampu membaca pikiranku.
Belum sempat aku membuka mulut untuk protes kamu sudah bilang,
"percuma sering nulis tentang kopi di blog tapi tidak suka kopi" lanjutmu.
"bukan itu, aku besok kuliah pagi woy ! lagi pula teh lebih enak diperut" kataku membela. Tentu kamu tak menggubris perkataanku.
"anyway, kenapa memilih buku itu ? padahal judulnya aja katcrut gitu" kataku mencoba membuka obrolan.
"kamu tahu kenapa aku memilih buku ini ? jalan ceritanya seru. novel fabel. tentang Serigala yang selalu memangsa hewan lain, namun harus melawan kelompoknya sendiri karna jatuh cinta dengan dengan seekor Lumba-lumba. menarik bukan, selain mereka beda spesies, beda habitat, mereka juga beda karakter. yang satu hewan buas dan yang satu hewan yang anggun. rumit banget kan ? makanya jangan berpikir jelek sejak dalam pikiran" katamu panjang lebar.
"yang kerennya lagi, si Serigala mau jauh-jauh berkelana sendirian dari daerah pegunungan es menuju pinggir laut hanya untuk melihat si Lumba-lumba dengan kawanannya tanpa dia tahu Lumba-lumba tersebut menunggunya atau nggak. tapi aku belum selesai sih baca endingnya kayak gimana" ucapmu melanjutkan.
Kita banyak ngobrol malam itu, dari buku sampai perkuliahan kita. Dari hal yang enteng kayak teman kampus sampai yang berat yaitu masalah hubunganmu dengan dia. Kamu banyak bicara tentang lelaki itu, tentang bagaimana teman-temanmu setuju dan mendukung hubungan kalian. sedang aku banyak berbicara tentang Dosen yang tak aku suka karna suka mengubah jadwal seenak jidatnya. Tak terasa, lonceng dikomplekmu berbunyi. Tanda kalau sudah jam 1 dini hari. Aku meminum kopi yang sudah mendingin sebelum pamit pulang.
Dijalan menuju tempatku, aku menikmati setiap dingin yang masuk ketubuh. entah apa yang kamu lakukan disisa malam itu. Mendengar dari ceritamu aku merasa layaknya seekor Serigala dalam novel tersebut.
Aku cuma orang asing yang mencoba masuk duniamu melalui usaha yang panjang dan susah payah. Namun pada akhirnya, aku mengetahui kalau aku cuma orang biasa bagimu. Tapi, karna kita sama-sama masih belum tahu endingnya cerita tersebut, tapi kuharap cerita tersebut berakhir dengan happy ending.
Aku tak melanjutkan bacaan karna sudah memutuskan untuk membelinya. Kini disebelahmu ada pria yang menemanimu membaca dengan bersahaja. Beberapa saat kemudian, kamu mengecek angka dijam tanganmu. Kulihat dengan sekilas tertera angka 21.22. Dengan senyum yang selalu asyik untuk dilihat, kamu bilang,
"udah yuk. aku mau baca dirumah aja ntar" katamu.
"aku juga" ucapku.
Kita berpisah keblok tempat buku yang akan kita beli masing-masing. Untuk mengambil buku yang masih pakai plastik dan tertera harga sebelum kembali bertemu ditempat kasir.
Dijalan pulang, tidak seperti berangkat, sekarang kita banyak berbincang. Tentu kamu yang mendominasi pembicaraan. Ceritamu tentang naksir dengan seorang laki-laki seperti sebuah syair yang dengan senang hati kudengarkan. Meski aku tahu laki-laki itu bukan aku. Tentang kekesalanmu karna hubungan yang tidak ada kemajuan dengannya lebih dari sekedar umpatan karna kuanggap sebagai sebuah satir yang mencapai klimaks. Jalan raya masih ramai dengan segala aktivitasnya tapi kita berdua saja tanpa mempedulikan mereka. Hanya kita berdua.
Setelahnya berada dipekarangan rumahmu, kamu mengajak untuk ngobrol diteras barang sejenak. Ajakan yang tak perlu berpikir dua kali untuk menerimanya. Aku duduk dibangku kayu cokelat sambil sok sibuk dengan mengecek handphoneku yang seperti biasa lebih sepi dari kampus yang lagi libur semester. Sedangkan kamu masuk kerumah. Berbicang dengan lelaki yang memiliki suara berat. Kurasa itu ayahmu.
Tak berapa lama, kau datang masih dengan setelan yang sama membawa dua gelas kopi. Kamu tahu aku tak pernah suka kopi.
"sekali-kali minum kopi lah !" ucapmu seakan mampu membaca pikiranku.
Belum sempat aku membuka mulut untuk protes kamu sudah bilang,
"percuma sering nulis tentang kopi di blog tapi tidak suka kopi" lanjutmu.
"bukan itu, aku besok kuliah pagi woy ! lagi pula teh lebih enak diperut" kataku membela. Tentu kamu tak menggubris perkataanku.
"anyway, kenapa memilih buku itu ? padahal judulnya aja katcrut gitu" kataku mencoba membuka obrolan.
"kamu tahu kenapa aku memilih buku ini ? jalan ceritanya seru. novel fabel. tentang Serigala yang selalu memangsa hewan lain, namun harus melawan kelompoknya sendiri karna jatuh cinta dengan dengan seekor Lumba-lumba. menarik bukan, selain mereka beda spesies, beda habitat, mereka juga beda karakter. yang satu hewan buas dan yang satu hewan yang anggun. rumit banget kan ? makanya jangan berpikir jelek sejak dalam pikiran" katamu panjang lebar.
"yang kerennya lagi, si Serigala mau jauh-jauh berkelana sendirian dari daerah pegunungan es menuju pinggir laut hanya untuk melihat si Lumba-lumba dengan kawanannya tanpa dia tahu Lumba-lumba tersebut menunggunya atau nggak. tapi aku belum selesai sih baca endingnya kayak gimana" ucapmu melanjutkan.
Kita banyak ngobrol malam itu, dari buku sampai perkuliahan kita. Dari hal yang enteng kayak teman kampus sampai yang berat yaitu masalah hubunganmu dengan dia. Kamu banyak bicara tentang lelaki itu, tentang bagaimana teman-temanmu setuju dan mendukung hubungan kalian. sedang aku banyak berbicara tentang Dosen yang tak aku suka karna suka mengubah jadwal seenak jidatnya. Tak terasa, lonceng dikomplekmu berbunyi. Tanda kalau sudah jam 1 dini hari. Aku meminum kopi yang sudah mendingin sebelum pamit pulang.
Dijalan menuju tempatku, aku menikmati setiap dingin yang masuk ketubuh. entah apa yang kamu lakukan disisa malam itu. Mendengar dari ceritamu aku merasa layaknya seekor Serigala dalam novel tersebut.
Aku cuma orang asing yang mencoba masuk duniamu melalui usaha yang panjang dan susah payah. Namun pada akhirnya, aku mengetahui kalau aku cuma orang biasa bagimu. Tapi, karna kita sama-sama masih belum tahu endingnya cerita tersebut, tapi kuharap cerita tersebut berakhir dengan happy ending.
















