29 August 2014

Tentang Kita Yang Masih Tak Tahu Akhirnya

"ntar malam ketoko buku yuk !"

Begitulah teks singkat yang tertera dihandphone androidku. Pengirimnya, tentu saja kamu. Ditengah-tengah kejenuhanku dikampus, teks singkat darimu kucoba abaikan, kuanggap hanya salah kirim dan angin lalu. Ingatanku tentang penolakkan-penolakkanmu saat kuajak ketoko buku masih terlalu pekat dalam batok kepala.
         
       Entah kenapa, pesan singkat darimu membuatku kepikiran dan mengalihkan konsentrasiku terhadap wanita cantik yang berada beberapa baris didepanku. Dibandingkan denganmu, kurasa wanita yang kutatap diam-diam ini jauh lebih mempesona. Tapi pada akhirnya aku menyerah juga. Seperti yang kamu tahu, aku selalu suka apapun yang kamu lakukan terhadapku dimasa lalu. Tak perlu kutanyakan apa resepnya, kurasa lebih baik tetap begitu dan terus begitu.

"yuk, divetran ? atau ?" kubalas pesanmu.

           Sesudahnya aku kembali menatap perempuan itu dan otakku memikirkanmu. Mungkin jika dia melihatku memandangnya diam-diam, aku berani bertaruh mukanya akan lebih merah dari lipstik yang sering dipakai para cabe-cabean dewasa ini.
         
         Aku memang bukan orang yang pandai dalam membuat perempuan jatuh hati, tapi setidaknya aku tahu cara yang lebih mudah dari mengetik sebuah catatan dilayar touchscreen untuk membuat perempuan tersipu.

"di vetran aja lah, bukan malam minggu gini sepi. biar lebih tenang" pesan singkat terakhir darimu yang tak kubalas.

     "Biar lebih tenang" kucoba abaikan 3 kata terakhir dari smsmu itu. Tapi dimenit berikutnya, kumemfokuskan pandangan pada kata itu lagi. Lantas aku menyimpulkan kalau kamu lagi ada masalah sekarang. 

        Aku tentu tahu segala sifatmu jauh lebih tahu dari yang kamu ketahui tentang seberapa jauh aku mengetahuimu. Terlalu rumit kah kalimat itu ? yang jelas, mana ada orang yang suka keramaian sepertimu mau mengunjungi toko buku terlebih untuk mencari ketenangan kalau tak ada apa-apa dan mood yang baik-baik saja. Bagaimana, analisisku mengecewakanmu ?

      Seperti jam yang telah kamu dan aku sepakati, aku berangkat menjemputmu tepat jam 19.30 wita. Tentu aku agak telat dan tak sesuai janji untuk sampai kerumahmu. Kuharap kamu memakluminya, mengingat membelah belantara jalan raya Banjarmasin bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan terlebih untuk pria kurus yang takut mati konyol dijalan raya sepertiku.

    Malam itu kamu tampak anggun dengan setelan yang membuat mataku seperti mendapat penyegaran. Jilbab biru tua yang menyelimuti kepalamu tampak cocok bersanding mesra dengan kemeja lengan panjang dan celana jeans yang kamu kenakan. Tambahan aksesoris berupa kalung dan jam tangan dilengan kirimu juga serasi.

"berangkat ayo" katamu seraya naik keatas motorku. Mengagetkan aku yang lagi melamun.

       Dijalan menuju toko buku, asal kamu tahu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu, salah tiganya adalah seperti,

kenapa mengajak ketoko buku ? bukan ketempat lain.

kenapa mengajak aku ? bukan orang lain. Melihat dengan mudahnya kamu menggaet orang untuk diajak.
dan kenapa memakai jilbab biru ? bukan warna lain.

      Tapi pertanyaan-pertanyaan diatas cukup kutahan ditenggorokkan dan tak diteruskan. Sebab aku ingin lebih menikmati keberadaan kita yang terpisah beberapa senti dalam kebisingin suara pengguna jalan raya lain. Sesampainya diparkiran toko buku itu, kamu langsung bertanya,

"buku apa yang layak aku baca ?" tanyamu enteng.

"what the.... mengajakku ketoko buku tanpa ada rencana untuk membaca buku apa ?" umpatku dalam hati.

"lihat didalam aja ntar" jawabku agak sebal.

       Ditoko buku kita terpisah beberapa blok oleh rak-rak buku. Aku diblok sejarah. Kamu diblok novel. Melihatmu agak kebingungan memilih buku untuk dijadikan bahan bacaan, aku berinisiatif membantu dengan mengirim sebuah pesan singkat sok bijak.

"cari buku yang belum lo baca. karna gue tau lo jarang baca, jadi pasti banyak buku yang belum lo baca. tapi gue saranin lo baca buku yang menurut lo nggak menarik. penulisnya asing ditelinga dan bukan selebtweet ! goodluck girl." pesan yang langsung kukirim kenomormu.

        Mendengar handphonemu berbunyi nyaring dan membuat orang disekitarmu agak kaget, aku tahu itu pesan dariku. Tanda pesanku telah terkirim. Kumelanjutkan membaca buku yang dari tadi kupegang. 

      Kamu tersenyum sambil melihat handphonemu. Sejenak aku tahu kamu memandangku dengan senyum yang sama. Beberapa menit kemudian, kulihat kamu menyimpan kembali handphonemu kesaku dan mengambil satu buku dengan mantap tanpa aku tahu itu buku apa. 

"cari tempat duduk yuk, aku udah dapat buku yang seperti kamu saranin nih !" katamu menghampiriku sambil menenteng sebuah buku.

"ayo" jawabku dengan langkah yang berusaha sejajar denganmu.

      Di tempat duduk, kamu langsung menunjukkan buku yang kamu pegang lengkap dengan senyum yang tersungging dibibir. Dan aku selalu suka dua gigi atas depanmu saat tersenyum. Manis.

"ini bukunya, judulnya Ketika Serigala Jatuh Cinta. sesuai saranmu bukan ?" ucapmu senyum-senyum.

      Entah apa yang kamu pikirkan saat  menerima saranku, tapi kuharap kamu tak salah memilih buku itu dan isinya tidak senorak sinetron tentang Serigala yang lagi hits di Indonesia belakangan ini. Aku menatapmu dengan tatapan yang katamu sangat khas, tanpa menjawab pertanyaanmu tadi. Aku melanjutkan bacaan tentang Tan Malaka.

      Waktu terasa cepat berlalu, satu jam lebih aku dan kamu saling membaca tanpa mengganggu satu sama lain. Beberapa chapter telah terlewati. Sesekali aku memandang wajahmu yang tampak serius membaca. Pada beberapa waktu kamu tersenyum simpul. Lucu. Mungkin dugaanku salah, aku terlalu skeptis terhadap buku yang kamu baca hanya dengan melihat judulnya.

     Aku tak melanjutkan bacaan karna sudah memutuskan untuk membelinya. Kini disebelahmu ada pria yang menemanimu membaca dengan bersahaja. Beberapa saat kemudian, kamu mengecek angka dijam tanganmu. Kulihat dengan sekilas tertera angka 21.22. Dengan senyum yang selalu asyik untuk dilihat, kamu bilang,

"udah yuk. aku mau baca dirumah aja ntar" katamu.

"aku juga" ucapku.

      Kita berpisah keblok tempat buku yang akan kita beli masing-masing. Untuk mengambil buku yang masih pakai plastik dan tertera harga sebelum kembali bertemu ditempat kasir.

   Dijalan pulang, tidak seperti berangkat, sekarang kita banyak berbincang. Tentu kamu yang mendominasi pembicaraan. Ceritamu tentang naksir dengan seorang laki-laki seperti sebuah syair yang dengan senang hati kudengarkan. Meski aku tahu laki-laki itu bukan aku. Tentang kekesalanmu karna hubungan yang tidak ada kemajuan dengannya lebih dari sekedar umpatan karna kuanggap sebagai sebuah satir yang mencapai klimaks. Jalan raya masih ramai dengan segala aktivitasnya tapi kita berdua saja tanpa mempedulikan mereka. Hanya kita berdua.

     Setelahnya berada dipekarangan rumahmu, kamu mengajak untuk ngobrol diteras barang sejenak. Ajakan yang tak perlu berpikir dua kali untuk menerimanya. Aku duduk dibangku kayu cokelat sambil sok sibuk dengan mengecek handphoneku yang seperti biasa lebih sepi dari kampus yang lagi libur semester. Sedangkan kamu masuk kerumah. Berbicang dengan lelaki yang memiliki suara berat. Kurasa itu ayahmu.

     Tak berapa lama, kau datang masih dengan setelan yang sama membawa dua gelas kopi. Kamu tahu aku tak pernah suka kopi.

"sekali-kali minum kopi lah !" ucapmu seakan mampu membaca pikiranku.

Belum sempat aku membuka mulut untuk protes kamu sudah bilang,

"percuma sering nulis tentang kopi di blog tapi tidak suka kopi" lanjutmu.

"bukan itu, aku besok kuliah pagi woy ! lagi pula teh lebih enak diperut" kataku membela. Tentu kamu tak menggubris perkataanku.


"anyway, kenapa memilih buku itu ? padahal judulnya aja katcrut gitu" kataku mencoba membuka obrolan.

"kamu tahu kenapa aku memilih buku ini ? jalan ceritanya seru. novel fabel. tentang Serigala yang selalu memangsa hewan lain, namun harus melawan kelompoknya sendiri karna jatuh cinta dengan dengan seekor Lumba-lumba. menarik bukan, selain mereka beda spesies, beda habitat, mereka juga beda karakter. yang satu hewan buas dan yang satu hewan yang anggun. rumit banget kan ? makanya jangan berpikir jelek sejak dalam pikiran" katamu panjang lebar.

"yang kerennya lagi, si Serigala mau jauh-jauh berkelana sendirian dari daerah pegunungan es menuju pinggir laut hanya untuk melihat si Lumba-lumba dengan kawanannya tanpa dia tahu Lumba-lumba tersebut menunggunya atau nggak. tapi aku belum selesai sih baca endingnya kayak gimana" ucapmu melanjutkan.

     Kita banyak ngobrol malam itu, dari buku sampai perkuliahan kita. Dari hal yang enteng kayak teman kampus sampai yang berat yaitu masalah hubunganmu dengan dia. Kamu banyak bicara tentang lelaki itu, tentang bagaimana teman-temanmu setuju dan mendukung hubungan kalian. sedang aku banyak berbicara tentang Dosen yang tak aku suka karna suka mengubah jadwal seenak jidatnya. Tak terasa, lonceng dikomplekmu berbunyi. Tanda kalau sudah jam 1 dini hari. Aku meminum kopi yang sudah mendingin sebelum pamit pulang.

     Dijalan menuju tempatku, aku menikmati setiap dingin yang masuk ketubuh. entah apa yang kamu lakukan disisa malam itu. Mendengar dari ceritamu aku merasa layaknya seekor Serigala dalam novel tersebut.

     Aku cuma orang asing yang mencoba masuk duniamu melalui usaha yang panjang dan susah payah. Namun pada akhirnya, aku mengetahui kalau aku cuma orang biasa bagimu. Tapi, karna kita sama-sama masih belum tahu endingnya cerita tersebut, tapi kuharap cerita tersebut berakhir dengan happy ending.

20 August 2014

Tentang Kita Yang Ku Analogikan Seperti Api Unggun

terik matahari membuat langkah kita terhenti di halte siang itu. perbincangan kita tentang sebuah hubungan jadi topik diantara pengguna jalan raya yang lalu lalang. aku mempercepat bicaraku, sementara kamu diam saja. entah apa yang kamu pikirkan.

"mungkin ini lancang, mungkin ini egois, mungkin aku yang salah. tapi percayalah rasaku yang terus aku tutup-tutupi terhadapmu membuatku gelisah" ucapku dengan terburu-buru.

kamu menatap keseberang jalan dengan masih tak berbicara. entah apa yang kamu pikirkan.

"mungkin apa yang aku lakukan mungkin tak pernah penting dimatamu. aku tak pernah bisa membuatmu terkesan seperti apa yang sering dilakukan mantan pacarmu yang terus kamu banggakan layaknya superhero" kataku mulai membanding-bandingkan.

dan ternyata dugaanku benar, kamu masih ingat dia. terbukti, saat kamu mau bicara saat aku mulai membawa-bawa namanya.

"tak usah kau membanding-bandingkan dengan dia. kau juga tak salah. aku justru ingin mengucapkan terima kasih atas perasaanmu" jawabmu dengan getir mencoba menyanggah perkataanku.

benar, aku tak salah. malah aku mulai menyalahkanmu atas rasa yang tak sama denganku. apa aku salah ? entahlah. debu-debu jalanan yang menempel diwajah kita, seakan jadi penanda kalau apa yang aku lakukan hanya sebuah hal yang sia-sia. aku tersadar, banyaknya angka pada menit waktu yang sengaja kuluangkan untukmu jadi tak bermakna apa-apa.

"sudahlah, aku tak mau kita berdebat terlalu panjang. aku tak mau orang menjadikan kita sebagai tontonan gratis yang bodoh" kataku sambil menatap pengendara motor yang menatap kita.

"kita memang tak berada disatu arah jalan tapi ingat diperempatan jalan yang lain, semoga kita berada disatu sisi jalan" lanjutku dengan sok bijak.

kita diam, aku masih menunggu angkot warna biru jurusan rumahku dan kamu masih menunggu mantan pacarmu yang bisa membawamu kemanapun kamu mau.

dimenit keenam menuju tujuh ketidakbersuaraan kita, angkot yang kutunggu datang. aku meninggalkanmu yang terpaku menatap layar touchscreen smartphone warna putih milikmu. entah apa yang kau pikirkan.

setelah perbincangan atau kalau boleh aku sebut perdebatan singkat kita dihalte itu, sudah hampir empat bulan kita tak bertemu bahkan didunia maya yang jadi awal cerita kita. aku sibuk dengan hobi baruku, membaca buku. hobi yang mengingatkanku pada satu saranmu.

"sekali-sekali coba baca buku roman picisanlah, jangan ilmiah terus. jangan terlalu naif terhadap cinta" itulah saran darimu yang terus aku ingat.

 ya, belakangan ini aku banyak membaca buku roman, entah itu yang fiksi atau nonfiksi. tadi malam, aku baru saja membaca cerita tentang kesabaran -atau kebodohan- seorang perempuan dalam menunggu. kurasa sabar dan bodoh cuma dipisahkan oleh dinding yang lebih tipis dari plastik kresek.

cerita itu berlatar pada jaman penjajahan. sang perempuan yang memiliki kekasih seorang prajurit yang dikirim untuk berperang. sang perempuan pun harus rela membuang waktu dengan menunggu, meski ada beberapa lelaki yang mencoba mendekati. sesekali berdoa ditengah permainan bernama ketidakpastian. pada akhirnya, si perempuan yang tak lelah menunggu ini, harus rela menerima menjadi tua dengan sedirian. tanpa sang kekasih yang bisa melihat rambutnya memutih dan wajah yang penuh kerutan.

seketika, aku sadar kalau memang logika tidak pernah bisa sejalan dengan cinta. tua bersama dengan anak cucu hanya ada dalam dongeng. menikmati hidup berdua dengan melakukan hal luar biasa, berkeliling dunia, menikmati dinner romantis bersama tiap malam hanya sebuah angan para penghayal.

lantas kumulai membandingkan cerita tersebut dengan kita. dengan aku dan kamu. ironi, ada sebuah persamaan yang dapat ditarik lurus disini. kamu seperti sang perempuan dalam cerita tersebut. rela terus disakiti, menunggu lelaki pujaanmu berubah dan berbalik sayang denganmu. semangatmu untuk bisa membuat dia berubah tidak pernah padam. layaknya lilin didalam gelap. tak cukup untuk membuat terang tapi cukup untuk membuat cahaya remang.

aku juga ternyata tak berbeda dengan sang perempuan. bahkan mungkin seorang yang kembar pun akan minder melihat keotentikan tersebut. dengan sabarnya menunggumu yang tak mau ditunggu. semangatku menunggumu layaknya api yang membakar rumah warga akbiat tabung gas 3kg yang bocor. berkobar besar tapi sama sekali tak diharapkan keberadaannya.

diakhir cerita, penulis membuat cerita tersebut hampir layak bersanding dengan romeo and juliet karya shakespare yang termahsyur itu. ketidakkembalian si prajurit dijadikan sebuah misteri yang dibiarkan tak terungkap(entah mati ditengah perang, ditangkap dan dikurung seumur hidup atau memulai hidup baru bersama perempuan lain). sedangkan si perempuan, mati dan dikubur dengan membawa barang bernama penantian.

kuharap kisah kita tak perlu se-sok romantis atau sepilu seperti itu. kuharap kita cukup menjadi api unggun yang menghangatkan dikala kedinginan. dan memang padam saat seharusnya padam.

14 August 2014

Pertemuan Biasa Yang Mengesankan

ada banyak sajak yang dibuat tentang pertemuan. ada banyak kutipan tentang pertemuan. ada banyak cerita tentang pertemuan. mulai dari andrea hirata sampai joko pinorbo pernah menuliskan tentang pertemuan. kali ini juga saya akan menyempatkan diri untuk menulis tentang pertemuan. pertemuan yang biasa, pertemuan yang bisa dilakukan siapa saja.

saat awal masuk sekolah, kita pasti pernah ditanya nanti cita-cita kita apa kalo sudah besar. tak pernah terlintas sedikitpun dipikiran saya untuk menjawab jadi guru. waktu Sd saya menjawab dengan tegas untuk menjadi pilot. saat Smp jadi aktor jadi impian paling labil. Saat SMA, jadi penulis adalah cita-cita yang logis mengingat tampang saya cukup buruk untuk jadi aktor.

selepas lulus SMA, saya mendapat kabar kalau masuk fkip biayanya jauh lebih murah ketimbang yang lain. dan jurusan pgsd, sistem paketan. dengan mantap saya masuk pgsd dengan teori, kalau masuk fakultas lain biayanya mahal dan belum tentu otak saya mampu. boom, jadilah saya sekarang. mahasiswa semester lima.

kemarin saya baru saja menyelesaikan tugas dari seorang dosen. menjadi ppl dadakan selama libur semester. saya bersama dua teman belajar mengajar di SDN Sungai Kambat, sekolah disebuah desa yang lumayan jauh dari pusat keramaian.  malam sebelumnya saya sibuk menghayal apa yang akan terjadi dan yang saya lakukan saat pertama kali mengajar didepan siswa langsung. saat mahasiswa lain mungkin sibuk membuat rencana pelaksanaan pembelajaran(rpp) saya malah sibuk menghayal. ah, dasar bukan calon guru yang baik. kebetulan waktu itu saya lagi galau berat(kalau berkenan baca post sebelumnya). pikiran saya terbagi banyak. ada rasa gugup yang sangat mengganggu. rasa gugup yang menjangkit siapa saja yang melakukan hal baru yang tak pernah dilakukan sebelumnya.

akhirnya, hari penghakiman untuk diri sendiri tiba juga. jam 6.45 saya baru bangun. melihat diri tanpa persiapan apa-apa, rasa gugup itu langsung muncul setelah membuka mata. berangat dari rumah sekitar jam 7.20. perlu diketahui, rumah saya ketempat sekolah lumayan sangat jauh.

disepanjang jalan yang dihiasi sawah-sawah pun, saya masih sempat membayangkan hal-hal yang mungkin akan terjadi. misal bagaimana cara untuk memulai, bagaimana kalau tiba-tiba saya menjadi canggung atau bagaimana cara membuat mereka mengerti apa yang saya ajarkan. beruntung udara jalanannya masih asri, tanpa polusi. sehingga sedikit banyaknya membuat otak saya tak kaku(kalau dibilang punya otak).

sesampainya disekolah, sekitar jam 8. saya langsung menuju kekelas 2(kelas pertama yang saya ajar).
dengan sedikit canggung, saya menanyakan sebuah pertanyaan template guru, seperti  memperkenalkan diri, sudah baca doa belum, ada yang tidak masuk, atau mengabsen mereka satu2. saya kaget, dengat banyaknya murid kelas 2, sekitar 37. jumlah yang luput dari bayangan saya. menurut hemat saya, mengajar 20 anak(umur 7-9 tahun) saja sudah cukup untuk membuat saya bergidik ngeri, apalagi 37. iya, 37.

alhamdulilah, tahap pertama berhasil dengan sambut balik yang menurut saya baik, bahkan sangat baik dari anak-anak tersebut. mereka cukup antusias dengan saya. antara antusias dan freak.

saya langsung mengajak mereka untuk belajar bernanyi, lagu yang saya ajarkan adalah "Ruri Abangku" cipt A.T Mahmud. sesuai dengan Kurikulum 2013. mengajarkan mereka bernyanyi memiliki keseruan sendiri, sebab pada dasarnya saya juga tidak bisa nyanyi. dengan suara sumbang yang dipaksakan, saya menuntun mereka kearah yang sepertinya salah. haha

dua murid yang tidak beruntung. harus bernyanyi didepan bersama saya
sebenarnya semua murid maju. tapi tidak sempat terfoto semua. setiap murid yang maju, saya kasih satu cemilan. alhasil murid makin antusias untuk maju dan bernyanyi.

karna temanya tentang Abang, jadi saya bercerita didepan mereka bagaimana pengalaman saya menjadi Abang. habis itu saya suruh mereka cerita apa saja.

Mansyah, murid pertama yang berani maju tanpa harus ditunjuk. bocah berbadan tambun yang menjabat sebagai ketua kelas ini bercerita tentang kakaknya yang bekerja diluar kota.

"kaka ulun rancak begawi dibanjar. kaka ulun rancak meolah wc !!!"cerita mansyah dengan lugu dan bangga.

sontak semua murid ketawa, mendengar cerita mansyah.

"tapi, kada wc aja. rancak jua meolah rumah !" lanjut mansyah dengan lebih bangga.

habis itu ada, Kastalani. murid yang sangat hyper aktif. saking aktifnya, dia selalu lari dikelas dan suka mengganggu temannya.

Kastalani bercerita tentang dia yang memiliki 9 kakak dan dia anak yang paling bungsu. saat saya tanya apakah dia hafal nama kaka-kakanya. dengan polos dia menjawab, tidak. hari itu diakhiri dengan belajar penjumlahan.

anal-anak yang usia rata-ratanya sekitar 7-8 tahun ini benar-benar ajaib. anda cukup beruntung dapat mengakhiri kelas dengan suara utuh. karna teriak-teriak saja tidak cukup menghentikan mereka untuk diam dan mengikuti pelajaran.

Mansyah contohnya, dia suka kesana-kemari dengan alasan menegur temannya padahal dia sendiri tidak bisa diam. atau sanusi, bocah bertubuh mungil yang selalu lari didalam kelas. ada juga sirajuddin yang entah kenapa tiba-tiba teriak saat teman-temannya ribut. awalnya saya mengira dia cuma cari perhatian, tapi setelah tiga kali teriak-teriak saya yakin kalau dia terobsesi dengan seporter klub bola liga inggris yang sering ngechant distandion.

ada juga ari yang memiliki tatanan rambut layaknya anak band aliran bawah tanah. saya masih penasaran minyak rambut apa yang dia pakai. lain ari lain lagi si lucky, dia ngelakuin apapun yang dia mau tanpa mempedulikan yang, like a boss.

terus yang ceweknya ada munirah yang rajin sekali maju. mutia yang hafal nama-nama dalam sinetron GGS. riduan yang hampir setiap 45 detik seklai selalu bertanya game dihandphone saya.

yang ajaib juga ada ariyadi yang selalu sembunyi dikolong meja. jadi saat saya menjelaskan dia masih santai duduk dibangkunya, tapi waktu saya menuliskan sesuatu dipapan tulis dan saat berbalik dia udah berada dibangkunya melainkan dikolong meja. ajaib bukan ?

itu lah pertemuan singkat saya dengan bocah-bocah ajaib nan freak ini. saya sangat bersyukur dapat mengakhiri pembelajaran dengan berdoa dalam keadaan tubuh yang utuh. meski cuma sebentar, tapi pengalaman yang saya dapatkan sangat banyak. lebih banyak dari flashdisk 8 gb harga 70ribu.

berikut, moment-monent yang dapat saya abadikan bersama mereka.


8 August 2014

Pada Akhirnya...

pagi ini, pada akhirnya hasil yang sebanarnya tidak aku inginkan dari sebuah perjuangan aku dapatkan juga. perjuangan yang ku lakukan sampai pada tahap kegagalan. bak sebuah film action, sekarang aku tahu bagaimana tidak enaknya jadi pemeran pembantu yang mendapatkan skenario mati ditengaj adegan. ironisnya yang membunuhku adalah kamu.

pada akhirnya aku cuma bisa mengutuk diri sendiri karna sebuah harapan yang tak dapat diwujudkan. mencaci diri yang tak bisa berbuat lebih jauh untuk membuat hatimu luluh. mengkambinghitamkan kekuranganku. menyalahkan keadaanku, sampai menyalahkanmu. mungkin aku jadi pihak yang antagonis sekarang karna terlalu sibuk menyalahkan. 

mungkin terlihat konyol memang, mecoba memperjuangkanmu diantara banyak pria. kalau boleh dianalogikan, posisiku layaknya seorang penulis blog biasa yang nekat ikut lomba menulis ditengah para penulis profesional, demi sebuah pengakuan. aku tahu kalau kekalahan adalah sebuah kepastian. aku tahu setiap kata yang kutuliskan bukan sebuah jalan menuju kemenangan. aku tahu sekali, meskipun aku menyelesaikan tulisan tersebut, aku tetap akan berakhir jadi pecundang. kalau tahu kalah kenapa masih dilanjutkan ? karna aku hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah aku mulai. bukan walk out seperti yang belakangan ini dilakukan oleh capres. terus berusaha menjadi orang yang diinginkan tapi pada akhirnya tetap tak diinginkan tidaklah mudah. ada rasa getir, ada rasa bodoh. ada rasa kesia-siaan.

pada akhirnya apa yang aku lakukan tentang kamu, tidak lagi terlalu penting. tidak lagi penting sebab mungkin kamu juga tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang penting. tapi yang terpenting, aku sudah memulai dan mengakhirinya tidak ditengah jalan. menyelesaikan tulisan tersebut sampai habis.

entah apa yang akan terjadi didepan sana. entah apa yang aku lakukan selanjutnya. entah cacian apa yang akan kudapatkan setelahnya. atau pandangan miring orang, tapi aku coba mengacuhkannya.

ada rasa lega yang jauh lebih besar dari rasa getir sekarang. ada rasa bangga, ada rasa puas diri sekarang dibalik kesia-siaan. mungkin ada rasa kecewa, tapi bila ini sebuah rasa kecewa, aku tak pernah sebahagia ini saat kecewa.

aku turut (mencoba) berbahagia atas pilihanmu. mungkin dia memang lebih dariku. dan saatnya memulai sesuatu yang baru. ciao.

4 August 2014

Untuk Perempuan Berbehel Dan Berbola Mata Galak Yang Dalam Tulisan



Untuk Perempuan Berbehel Dan Berbola Mata Galak Yang Dalam Tulisan.

Dalam percakapan pertama kita di dunia maya, aku tahu kalau tak ada sebuah kebetulan yang diawali dengan usaha.

Menurutku, percakapan pertama kita waktu itu adalah sebuah skenario rumit yang dirancang oleh semesta dengan sedemikian rupa. Dan lantas menjadi jawaban atas doa-doa orang seorang oportunis seperti diriku ini.

Pertama-tama, agar tak dibilang terlalu lancang menuliskan ini tanpa pernah kita bertatap muka maka aku menawarkan tulisan ini sebagai bentuk jabat tangan tanda kenalan. Semoga kapan-kapan kita bisa bertemu di lain kesempatan.

Mungkin ini terlihat konyol. Mungkin ini terlihat tak masuk akal. Atau mungkin ini terlihat cemen. Tapi percaya lah, tulisan ini ditulis dengan rasa kagum yang mendalam terhadap anda, perempuan berbehel dan berbola mata galak. Karna seorang Gandhi pernah bilang, apa yang kamu lakukan tidak penting. Yang penting adalah kamu melakukan itu.
 
Pernah baca tentang Marcuse ? kata dia teknologi adalah penyakit yang dialami manusia dalam masyarakat modern. teknologi membuat manusia mengasingkan jiwa manusianya dari dalam dirinya.  katanya merusak, karena manusia menyerahkan kemerdekaannya kepada teknologi tadi.

Kalimat-kalimat tersebut membuatku berpikir ulang, seandainya teknologi tidak mempertemukan kita di dunia maya. mungkin tidak akan terjadi sejauh ini. mungkin tak akan ada percakapan pertama kita yang masih bisa membuatku panas dingin. tak ada rasa aneh yang membuatku mempersetankan jam malam.

Entah bagaimana bisa aku tertarik pada anda perempuan berbehel dan berbola mata galak. sampai sekarangpun aku belum menemukan jawaban atas pertanyan-pertanyaan tersebut. tapi kadang untuk terus hidup memang harus ada hal yang tak perlu dicari jawabannya dan tak perlu dipermasalahkan.

terakhir, mungkin sebuah tulisan ini adalah bentuk keberanianku yang konyol karna lantas aku tak ada hak untuk menggurui. percayalah, selalu ada seorang unsung heroes disekitar anda.

teruntuk kamu perempuan berbehel dan berbola mata galak yang sedang dalam tulisan.