ada banyak sajak yang dibuat tentang pertemuan. ada banyak kutipan tentang pertemuan. ada banyak cerita tentang pertemuan. mulai dari andrea hirata sampai joko pinorbo pernah menuliskan tentang pertemuan. kali ini juga saya akan menyempatkan diri untuk menulis tentang pertemuan. pertemuan yang biasa, pertemuan yang bisa dilakukan siapa saja.
saat awal masuk sekolah, kita pasti pernah ditanya nanti cita-cita kita apa kalo sudah besar. tak pernah terlintas sedikitpun dipikiran saya untuk menjawab jadi guru. waktu Sd saya menjawab dengan tegas untuk menjadi pilot. saat Smp jadi aktor jadi impian paling labil. Saat SMA, jadi penulis adalah cita-cita yang logis mengingat tampang saya cukup buruk untuk jadi aktor.
selepas lulus SMA, saya mendapat kabar kalau masuk fkip biayanya jauh lebih murah ketimbang yang lain. dan jurusan pgsd, sistem paketan. dengan mantap saya masuk pgsd dengan teori, kalau masuk fakultas lain biayanya mahal dan belum tentu otak saya mampu. boom, jadilah saya sekarang. mahasiswa semester lima.
kemarin saya baru saja menyelesaikan tugas dari seorang dosen. menjadi ppl dadakan selama libur semester. saya bersama dua teman belajar mengajar di SDN Sungai Kambat, sekolah disebuah desa yang lumayan jauh dari pusat keramaian. malam sebelumnya saya sibuk menghayal apa yang akan terjadi dan yang saya lakukan saat pertama kali mengajar didepan siswa langsung. saat mahasiswa lain mungkin sibuk membuat rencana pelaksanaan pembelajaran(rpp) saya malah sibuk menghayal. ah, dasar bukan calon guru yang baik. kebetulan waktu itu saya lagi galau berat(kalau berkenan baca post sebelumnya). pikiran saya terbagi banyak. ada rasa gugup yang sangat mengganggu. rasa gugup yang menjangkit siapa saja yang melakukan hal baru yang tak pernah dilakukan sebelumnya.
akhirnya, hari penghakiman untuk diri sendiri tiba juga. jam 6.45 saya baru bangun. melihat diri tanpa persiapan apa-apa, rasa gugup itu langsung muncul setelah membuka mata. berangat dari rumah sekitar jam 7.20. perlu diketahui, rumah saya ketempat sekolah lumayan sangat jauh.
disepanjang jalan yang dihiasi sawah-sawah pun, saya masih sempat membayangkan hal-hal yang mungkin akan terjadi. misal bagaimana cara untuk memulai, bagaimana kalau tiba-tiba saya menjadi canggung atau bagaimana cara membuat mereka mengerti apa yang saya ajarkan. beruntung udara jalanannya masih asri, tanpa polusi. sehingga sedikit banyaknya membuat otak saya tak kaku(kalau dibilang punya otak).
sesampainya disekolah, sekitar jam 8. saya langsung menuju kekelas 2(kelas pertama yang saya ajar).
dengan sedikit canggung, saya menanyakan sebuah pertanyaan template guru, seperti memperkenalkan diri, sudah baca doa belum, ada yang tidak masuk, atau mengabsen mereka satu2. saya kaget, dengat banyaknya murid kelas 2, sekitar 37. jumlah yang luput dari bayangan saya. menurut hemat saya, mengajar 20 anak(umur 7-9 tahun) saja sudah cukup untuk membuat saya bergidik ngeri, apalagi 37. iya, 37.
alhamdulilah, tahap pertama berhasil dengan sambut balik yang menurut saya baik, bahkan sangat baik dari anak-anak tersebut. mereka cukup antusias dengan saya. antara antusias dan freak.
saya langsung mengajak mereka untuk belajar bernanyi, lagu yang saya ajarkan adalah "Ruri Abangku" cipt A.T Mahmud. sesuai dengan Kurikulum 2013. mengajarkan mereka bernyanyi memiliki keseruan sendiri, sebab pada dasarnya saya juga tidak bisa nyanyi. dengan suara sumbang yang dipaksakan, saya menuntun mereka kearah yang sepertinya salah. haha
![]() | |
| dua murid yang tidak beruntung. harus bernyanyi didepan bersama saya |
karna temanya tentang Abang, jadi saya bercerita didepan mereka bagaimana pengalaman saya menjadi Abang. habis itu saya suruh mereka cerita apa saja.
Mansyah, murid pertama yang berani maju tanpa harus ditunjuk. bocah berbadan tambun yang menjabat sebagai ketua kelas ini bercerita tentang kakaknya yang bekerja diluar kota.
"kaka ulun rancak begawi dibanjar. kaka ulun rancak meolah wc !!!"cerita mansyah dengan lugu dan bangga.
sontak semua murid ketawa, mendengar cerita mansyah.
"tapi, kada wc aja. rancak jua meolah rumah !" lanjut mansyah dengan lebih bangga.
habis itu ada, Kastalani. murid yang sangat hyper aktif. saking aktifnya, dia selalu lari dikelas dan suka mengganggu temannya.
Kastalani bercerita tentang dia yang memiliki 9 kakak dan dia anak yang paling bungsu. saat saya tanya apakah dia hafal nama kaka-kakanya. dengan polos dia menjawab, tidak. hari itu diakhiri dengan belajar penjumlahan.
anal-anak yang usia rata-ratanya sekitar 7-8 tahun ini benar-benar ajaib. anda cukup beruntung dapat mengakhiri kelas dengan suara utuh. karna teriak-teriak saja tidak cukup menghentikan mereka untuk diam dan mengikuti pelajaran.
Mansyah contohnya, dia suka kesana-kemari dengan alasan menegur temannya padahal dia sendiri tidak bisa diam. atau sanusi, bocah bertubuh mungil yang selalu lari didalam kelas. ada juga sirajuddin yang entah kenapa tiba-tiba teriak saat teman-temannya ribut. awalnya saya mengira dia cuma cari perhatian, tapi setelah tiga kali teriak-teriak saya yakin kalau dia terobsesi dengan seporter klub bola liga inggris yang sering ngechant distandion.
ada juga ari yang memiliki tatanan rambut layaknya anak band aliran bawah tanah. saya masih penasaran minyak rambut apa yang dia pakai. lain ari lain lagi si lucky, dia ngelakuin apapun yang dia mau tanpa mempedulikan yang, like a boss.
terus yang ceweknya ada munirah yang rajin sekali maju. mutia yang hafal nama-nama dalam sinetron GGS. riduan yang hampir setiap 45 detik seklai selalu bertanya game dihandphone saya.
yang ajaib juga ada ariyadi yang selalu sembunyi dikolong meja. jadi saat saya menjelaskan dia masih santai duduk dibangkunya, tapi waktu saya menuliskan sesuatu dipapan tulis dan saat berbalik dia udah berada dibangkunya melainkan dikolong meja. ajaib bukan ?
itu lah pertemuan singkat saya dengan bocah-bocah ajaib nan freak ini. saya sangat bersyukur dapat mengakhiri pembelajaran dengan berdoa dalam keadaan tubuh yang utuh. meski cuma sebentar, tapi pengalaman yang saya dapatkan sangat banyak. lebih banyak dari flashdisk 8 gb harga 70ribu.
berikut, moment-monent yang dapat saya abadikan bersama mereka.

















No comments:
Post a Comment