terik matahari membuat langkah kita terhenti di halte siang itu. perbincangan kita tentang sebuah hubungan jadi topik diantara pengguna jalan raya yang lalu lalang. aku mempercepat bicaraku, sementara kamu diam saja. entah apa yang kamu pikirkan.
"mungkin ini lancang, mungkin ini egois, mungkin aku yang salah. tapi percayalah rasaku yang terus aku tutup-tutupi terhadapmu membuatku gelisah" ucapku dengan terburu-buru.
kamu menatap keseberang jalan dengan masih tak berbicara. entah apa yang kamu pikirkan.
"mungkin apa yang aku lakukan mungkin tak pernah penting dimatamu. aku tak pernah bisa membuatmu terkesan seperti apa yang sering dilakukan mantan pacarmu yang terus kamu banggakan layaknya superhero" kataku mulai membanding-bandingkan.
dan ternyata dugaanku benar, kamu masih ingat dia. terbukti, saat kamu mau bicara saat aku mulai membawa-bawa namanya.
"tak usah kau membanding-bandingkan dengan dia. kau juga tak salah. aku justru ingin mengucapkan terima kasih atas perasaanmu" jawabmu dengan getir mencoba menyanggah perkataanku.
benar, aku tak salah. malah aku mulai menyalahkanmu atas rasa yang tak sama denganku. apa aku salah ? entahlah. debu-debu jalanan yang menempel diwajah kita, seakan jadi penanda kalau apa yang aku lakukan hanya sebuah hal yang sia-sia. aku tersadar, banyaknya angka pada menit waktu yang sengaja kuluangkan untukmu jadi tak bermakna apa-apa.
"sudahlah, aku tak mau kita berdebat terlalu panjang. aku tak mau orang menjadikan kita sebagai tontonan gratis yang bodoh" kataku sambil menatap pengendara motor yang menatap kita.
"kita memang tak berada disatu arah jalan tapi ingat diperempatan jalan yang lain, semoga kita berada disatu sisi jalan" lanjutku dengan sok bijak.
kita diam, aku masih menunggu angkot warna biru jurusan rumahku dan kamu masih menunggu mantan pacarmu yang bisa membawamu kemanapun kamu mau.
dimenit keenam menuju tujuh ketidakbersuaraan kita, angkot yang kutunggu datang. aku meninggalkanmu yang terpaku menatap layar touchscreen smartphone warna putih milikmu. entah apa yang kau pikirkan.
setelah perbincangan atau kalau boleh aku sebut perdebatan singkat kita dihalte itu, sudah hampir empat bulan kita tak bertemu bahkan didunia maya yang jadi awal cerita kita. aku sibuk dengan hobi baruku, membaca buku. hobi yang mengingatkanku pada satu saranmu.
"sekali-sekali coba baca buku roman picisanlah, jangan ilmiah terus. jangan terlalu naif terhadap cinta" itulah saran darimu yang terus aku ingat.
ya, belakangan ini aku banyak membaca buku roman, entah itu yang fiksi atau nonfiksi. tadi malam, aku baru saja membaca cerita tentang kesabaran -atau kebodohan- seorang perempuan dalam menunggu. kurasa sabar dan bodoh cuma dipisahkan oleh dinding yang lebih tipis dari plastik kresek.
cerita itu berlatar pada jaman penjajahan. sang perempuan yang memiliki kekasih seorang prajurit yang dikirim untuk berperang. sang perempuan pun harus rela membuang waktu dengan menunggu, meski ada beberapa lelaki yang mencoba mendekati. sesekali berdoa ditengah permainan bernama ketidakpastian. pada akhirnya, si perempuan yang tak lelah menunggu ini, harus rela menerima menjadi tua dengan sedirian. tanpa sang kekasih yang bisa melihat rambutnya memutih dan wajah yang penuh kerutan.
seketika, aku sadar kalau memang logika tidak pernah bisa sejalan dengan cinta. tua bersama dengan anak cucu hanya ada dalam dongeng. menikmati hidup berdua dengan melakukan hal luar biasa, berkeliling dunia, menikmati dinner romantis bersama tiap malam hanya sebuah angan para penghayal.
lantas kumulai membandingkan cerita tersebut dengan kita. dengan aku dan kamu. ironi, ada sebuah persamaan yang dapat ditarik lurus disini. kamu seperti sang perempuan dalam cerita tersebut. rela terus disakiti, menunggu lelaki pujaanmu berubah dan berbalik sayang denganmu. semangatmu untuk bisa membuat dia berubah tidak pernah padam. layaknya lilin didalam gelap. tak cukup untuk membuat terang tapi cukup untuk membuat cahaya remang.
aku juga ternyata tak berbeda dengan sang perempuan. bahkan mungkin seorang yang kembar pun akan minder melihat keotentikan tersebut. dengan sabarnya menunggumu yang tak mau ditunggu. semangatku menunggumu layaknya api yang membakar rumah warga akbiat tabung gas 3kg yang bocor. berkobar besar tapi sama sekali tak diharapkan keberadaannya.
diakhir cerita, penulis membuat cerita tersebut hampir layak bersanding dengan romeo and juliet karya shakespare yang termahsyur itu. ketidakkembalian si prajurit dijadikan sebuah misteri yang dibiarkan tak terungkap(entah mati ditengah perang, ditangkap dan dikurung seumur hidup atau memulai hidup baru bersama perempuan lain). sedangkan si perempuan, mati dan dikubur dengan membawa barang bernama penantian.
kuharap kisah kita tak perlu se-sok romantis atau sepilu seperti itu. kuharap kita cukup menjadi api unggun yang menghangatkan dikala kedinginan. dan memang padam saat seharusnya padam.
"sekali-sekali coba baca buku roman picisanlah, jangan ilmiah terus. jangan terlalu naif terhadap cinta" itulah saran darimu yang terus aku ingat.
ya, belakangan ini aku banyak membaca buku roman, entah itu yang fiksi atau nonfiksi. tadi malam, aku baru saja membaca cerita tentang kesabaran -atau kebodohan- seorang perempuan dalam menunggu. kurasa sabar dan bodoh cuma dipisahkan oleh dinding yang lebih tipis dari plastik kresek.
cerita itu berlatar pada jaman penjajahan. sang perempuan yang memiliki kekasih seorang prajurit yang dikirim untuk berperang. sang perempuan pun harus rela membuang waktu dengan menunggu, meski ada beberapa lelaki yang mencoba mendekati. sesekali berdoa ditengah permainan bernama ketidakpastian. pada akhirnya, si perempuan yang tak lelah menunggu ini, harus rela menerima menjadi tua dengan sedirian. tanpa sang kekasih yang bisa melihat rambutnya memutih dan wajah yang penuh kerutan.
seketika, aku sadar kalau memang logika tidak pernah bisa sejalan dengan cinta. tua bersama dengan anak cucu hanya ada dalam dongeng. menikmati hidup berdua dengan melakukan hal luar biasa, berkeliling dunia, menikmati dinner romantis bersama tiap malam hanya sebuah angan para penghayal.
lantas kumulai membandingkan cerita tersebut dengan kita. dengan aku dan kamu. ironi, ada sebuah persamaan yang dapat ditarik lurus disini. kamu seperti sang perempuan dalam cerita tersebut. rela terus disakiti, menunggu lelaki pujaanmu berubah dan berbalik sayang denganmu. semangatmu untuk bisa membuat dia berubah tidak pernah padam. layaknya lilin didalam gelap. tak cukup untuk membuat terang tapi cukup untuk membuat cahaya remang.
aku juga ternyata tak berbeda dengan sang perempuan. bahkan mungkin seorang yang kembar pun akan minder melihat keotentikan tersebut. dengan sabarnya menunggumu yang tak mau ditunggu. semangatku menunggumu layaknya api yang membakar rumah warga akbiat tabung gas 3kg yang bocor. berkobar besar tapi sama sekali tak diharapkan keberadaannya.
diakhir cerita, penulis membuat cerita tersebut hampir layak bersanding dengan romeo and juliet karya shakespare yang termahsyur itu. ketidakkembalian si prajurit dijadikan sebuah misteri yang dibiarkan tak terungkap(entah mati ditengah perang, ditangkap dan dikurung seumur hidup atau memulai hidup baru bersama perempuan lain). sedangkan si perempuan, mati dan dikubur dengan membawa barang bernama penantian.
kuharap kisah kita tak perlu se-sok romantis atau sepilu seperti itu. kuharap kita cukup menjadi api unggun yang menghangatkan dikala kedinginan. dan memang padam saat seharusnya padam.
No comments:
Post a Comment