pagi ini, pada akhirnya hasil yang sebanarnya tidak aku inginkan dari sebuah perjuangan aku dapatkan juga. perjuangan yang ku lakukan sampai pada tahap kegagalan. bak sebuah film action, sekarang aku tahu bagaimana tidak enaknya jadi pemeran pembantu yang mendapatkan skenario mati ditengaj adegan. ironisnya yang membunuhku adalah kamu.
pada akhirnya aku cuma bisa mengutuk diri sendiri karna sebuah harapan yang tak dapat diwujudkan. mencaci diri yang tak bisa berbuat lebih jauh untuk membuat hatimu luluh. mengkambinghitamkan kekuranganku. menyalahkan keadaanku, sampai menyalahkanmu. mungkin aku jadi pihak yang antagonis sekarang karna terlalu sibuk menyalahkan.
mungkin terlihat konyol memang, mecoba memperjuangkanmu diantara banyak pria. kalau boleh dianalogikan, posisiku layaknya seorang penulis blog biasa yang nekat ikut lomba menulis ditengah para penulis profesional, demi sebuah pengakuan. aku tahu kalau kekalahan adalah sebuah kepastian. aku tahu setiap kata yang kutuliskan bukan sebuah jalan menuju kemenangan. aku tahu sekali, meskipun aku menyelesaikan tulisan tersebut, aku tetap akan berakhir jadi pecundang. kalau tahu kalah kenapa masih dilanjutkan ? karna aku hanya ingin bertanggung jawab atas apa yang sudah aku mulai. bukan walk out seperti yang belakangan ini dilakukan oleh capres. terus berusaha menjadi orang yang diinginkan tapi pada akhirnya tetap tak diinginkan tidaklah mudah. ada rasa getir, ada rasa bodoh. ada rasa kesia-siaan.
pada akhirnya apa yang aku lakukan tentang kamu, tidak lagi terlalu penting. tidak lagi penting sebab mungkin kamu juga tidak pernah menganggapnya sebagai sesuatu yang penting. tapi yang terpenting, aku sudah memulai dan mengakhirinya tidak ditengah jalan. menyelesaikan tulisan tersebut sampai habis.
entah apa yang akan terjadi didepan sana. entah apa yang aku lakukan selanjutnya. entah cacian apa yang akan kudapatkan setelahnya. atau pandangan miring orang, tapi aku coba mengacuhkannya.
ada rasa lega yang jauh lebih besar dari rasa getir sekarang. ada rasa bangga, ada rasa puas diri sekarang dibalik kesia-siaan. mungkin ada rasa kecewa, tapi bila ini sebuah rasa kecewa, aku tak pernah sebahagia ini saat kecewa.
aku turut (mencoba) berbahagia atas pilihanmu. mungkin dia memang lebih dariku. dan saatnya memulai sesuatu yang baru. ciao.
No comments:
Post a Comment