29 August 2014

Tentang Kita Yang Masih Tak Tahu Akhirnya

"ntar malam ketoko buku yuk !"

Begitulah teks singkat yang tertera dihandphone androidku. Pengirimnya, tentu saja kamu. Ditengah-tengah kejenuhanku dikampus, teks singkat darimu kucoba abaikan, kuanggap hanya salah kirim dan angin lalu. Ingatanku tentang penolakkan-penolakkanmu saat kuajak ketoko buku masih terlalu pekat dalam batok kepala.
         
       Entah kenapa, pesan singkat darimu membuatku kepikiran dan mengalihkan konsentrasiku terhadap wanita cantik yang berada beberapa baris didepanku. Dibandingkan denganmu, kurasa wanita yang kutatap diam-diam ini jauh lebih mempesona. Tapi pada akhirnya aku menyerah juga. Seperti yang kamu tahu, aku selalu suka apapun yang kamu lakukan terhadapku dimasa lalu. Tak perlu kutanyakan apa resepnya, kurasa lebih baik tetap begitu dan terus begitu.

"yuk, divetran ? atau ?" kubalas pesanmu.

           Sesudahnya aku kembali menatap perempuan itu dan otakku memikirkanmu. Mungkin jika dia melihatku memandangnya diam-diam, aku berani bertaruh mukanya akan lebih merah dari lipstik yang sering dipakai para cabe-cabean dewasa ini.
         
         Aku memang bukan orang yang pandai dalam membuat perempuan jatuh hati, tapi setidaknya aku tahu cara yang lebih mudah dari mengetik sebuah catatan dilayar touchscreen untuk membuat perempuan tersipu.

"di vetran aja lah, bukan malam minggu gini sepi. biar lebih tenang" pesan singkat terakhir darimu yang tak kubalas.

     "Biar lebih tenang" kucoba abaikan 3 kata terakhir dari smsmu itu. Tapi dimenit berikutnya, kumemfokuskan pandangan pada kata itu lagi. Lantas aku menyimpulkan kalau kamu lagi ada masalah sekarang. 

        Aku tentu tahu segala sifatmu jauh lebih tahu dari yang kamu ketahui tentang seberapa jauh aku mengetahuimu. Terlalu rumit kah kalimat itu ? yang jelas, mana ada orang yang suka keramaian sepertimu mau mengunjungi toko buku terlebih untuk mencari ketenangan kalau tak ada apa-apa dan mood yang baik-baik saja. Bagaimana, analisisku mengecewakanmu ?

      Seperti jam yang telah kamu dan aku sepakati, aku berangkat menjemputmu tepat jam 19.30 wita. Tentu aku agak telat dan tak sesuai janji untuk sampai kerumahmu. Kuharap kamu memakluminya, mengingat membelah belantara jalan raya Banjarmasin bukanlah hal yang mudah untuk dilakukan terlebih untuk pria kurus yang takut mati konyol dijalan raya sepertiku.

    Malam itu kamu tampak anggun dengan setelan yang membuat mataku seperti mendapat penyegaran. Jilbab biru tua yang menyelimuti kepalamu tampak cocok bersanding mesra dengan kemeja lengan panjang dan celana jeans yang kamu kenakan. Tambahan aksesoris berupa kalung dan jam tangan dilengan kirimu juga serasi.

"berangkat ayo" katamu seraya naik keatas motorku. Mengagetkan aku yang lagi melamun.

       Dijalan menuju toko buku, asal kamu tahu banyak pertanyaan yang ingin kutanyakan padamu, salah tiganya adalah seperti,

kenapa mengajak ketoko buku ? bukan ketempat lain.

kenapa mengajak aku ? bukan orang lain. Melihat dengan mudahnya kamu menggaet orang untuk diajak.
dan kenapa memakai jilbab biru ? bukan warna lain.

      Tapi pertanyaan-pertanyaan diatas cukup kutahan ditenggorokkan dan tak diteruskan. Sebab aku ingin lebih menikmati keberadaan kita yang terpisah beberapa senti dalam kebisingin suara pengguna jalan raya lain. Sesampainya diparkiran toko buku itu, kamu langsung bertanya,

"buku apa yang layak aku baca ?" tanyamu enteng.

"what the.... mengajakku ketoko buku tanpa ada rencana untuk membaca buku apa ?" umpatku dalam hati.

"lihat didalam aja ntar" jawabku agak sebal.

       Ditoko buku kita terpisah beberapa blok oleh rak-rak buku. Aku diblok sejarah. Kamu diblok novel. Melihatmu agak kebingungan memilih buku untuk dijadikan bahan bacaan, aku berinisiatif membantu dengan mengirim sebuah pesan singkat sok bijak.

"cari buku yang belum lo baca. karna gue tau lo jarang baca, jadi pasti banyak buku yang belum lo baca. tapi gue saranin lo baca buku yang menurut lo nggak menarik. penulisnya asing ditelinga dan bukan selebtweet ! goodluck girl." pesan yang langsung kukirim kenomormu.

        Mendengar handphonemu berbunyi nyaring dan membuat orang disekitarmu agak kaget, aku tahu itu pesan dariku. Tanda pesanku telah terkirim. Kumelanjutkan membaca buku yang dari tadi kupegang. 

      Kamu tersenyum sambil melihat handphonemu. Sejenak aku tahu kamu memandangku dengan senyum yang sama. Beberapa menit kemudian, kulihat kamu menyimpan kembali handphonemu kesaku dan mengambil satu buku dengan mantap tanpa aku tahu itu buku apa. 

"cari tempat duduk yuk, aku udah dapat buku yang seperti kamu saranin nih !" katamu menghampiriku sambil menenteng sebuah buku.

"ayo" jawabku dengan langkah yang berusaha sejajar denganmu.

      Di tempat duduk, kamu langsung menunjukkan buku yang kamu pegang lengkap dengan senyum yang tersungging dibibir. Dan aku selalu suka dua gigi atas depanmu saat tersenyum. Manis.

"ini bukunya, judulnya Ketika Serigala Jatuh Cinta. sesuai saranmu bukan ?" ucapmu senyum-senyum.

      Entah apa yang kamu pikirkan saat  menerima saranku, tapi kuharap kamu tak salah memilih buku itu dan isinya tidak senorak sinetron tentang Serigala yang lagi hits di Indonesia belakangan ini. Aku menatapmu dengan tatapan yang katamu sangat khas, tanpa menjawab pertanyaanmu tadi. Aku melanjutkan bacaan tentang Tan Malaka.

      Waktu terasa cepat berlalu, satu jam lebih aku dan kamu saling membaca tanpa mengganggu satu sama lain. Beberapa chapter telah terlewati. Sesekali aku memandang wajahmu yang tampak serius membaca. Pada beberapa waktu kamu tersenyum simpul. Lucu. Mungkin dugaanku salah, aku terlalu skeptis terhadap buku yang kamu baca hanya dengan melihat judulnya.

     Aku tak melanjutkan bacaan karna sudah memutuskan untuk membelinya. Kini disebelahmu ada pria yang menemanimu membaca dengan bersahaja. Beberapa saat kemudian, kamu mengecek angka dijam tanganmu. Kulihat dengan sekilas tertera angka 21.22. Dengan senyum yang selalu asyik untuk dilihat, kamu bilang,

"udah yuk. aku mau baca dirumah aja ntar" katamu.

"aku juga" ucapku.

      Kita berpisah keblok tempat buku yang akan kita beli masing-masing. Untuk mengambil buku yang masih pakai plastik dan tertera harga sebelum kembali bertemu ditempat kasir.

   Dijalan pulang, tidak seperti berangkat, sekarang kita banyak berbincang. Tentu kamu yang mendominasi pembicaraan. Ceritamu tentang naksir dengan seorang laki-laki seperti sebuah syair yang dengan senang hati kudengarkan. Meski aku tahu laki-laki itu bukan aku. Tentang kekesalanmu karna hubungan yang tidak ada kemajuan dengannya lebih dari sekedar umpatan karna kuanggap sebagai sebuah satir yang mencapai klimaks. Jalan raya masih ramai dengan segala aktivitasnya tapi kita berdua saja tanpa mempedulikan mereka. Hanya kita berdua.

     Setelahnya berada dipekarangan rumahmu, kamu mengajak untuk ngobrol diteras barang sejenak. Ajakan yang tak perlu berpikir dua kali untuk menerimanya. Aku duduk dibangku kayu cokelat sambil sok sibuk dengan mengecek handphoneku yang seperti biasa lebih sepi dari kampus yang lagi libur semester. Sedangkan kamu masuk kerumah. Berbicang dengan lelaki yang memiliki suara berat. Kurasa itu ayahmu.

     Tak berapa lama, kau datang masih dengan setelan yang sama membawa dua gelas kopi. Kamu tahu aku tak pernah suka kopi.

"sekali-kali minum kopi lah !" ucapmu seakan mampu membaca pikiranku.

Belum sempat aku membuka mulut untuk protes kamu sudah bilang,

"percuma sering nulis tentang kopi di blog tapi tidak suka kopi" lanjutmu.

"bukan itu, aku besok kuliah pagi woy ! lagi pula teh lebih enak diperut" kataku membela. Tentu kamu tak menggubris perkataanku.


"anyway, kenapa memilih buku itu ? padahal judulnya aja katcrut gitu" kataku mencoba membuka obrolan.

"kamu tahu kenapa aku memilih buku ini ? jalan ceritanya seru. novel fabel. tentang Serigala yang selalu memangsa hewan lain, namun harus melawan kelompoknya sendiri karna jatuh cinta dengan dengan seekor Lumba-lumba. menarik bukan, selain mereka beda spesies, beda habitat, mereka juga beda karakter. yang satu hewan buas dan yang satu hewan yang anggun. rumit banget kan ? makanya jangan berpikir jelek sejak dalam pikiran" katamu panjang lebar.

"yang kerennya lagi, si Serigala mau jauh-jauh berkelana sendirian dari daerah pegunungan es menuju pinggir laut hanya untuk melihat si Lumba-lumba dengan kawanannya tanpa dia tahu Lumba-lumba tersebut menunggunya atau nggak. tapi aku belum selesai sih baca endingnya kayak gimana" ucapmu melanjutkan.

     Kita banyak ngobrol malam itu, dari buku sampai perkuliahan kita. Dari hal yang enteng kayak teman kampus sampai yang berat yaitu masalah hubunganmu dengan dia. Kamu banyak bicara tentang lelaki itu, tentang bagaimana teman-temanmu setuju dan mendukung hubungan kalian. sedang aku banyak berbicara tentang Dosen yang tak aku suka karna suka mengubah jadwal seenak jidatnya. Tak terasa, lonceng dikomplekmu berbunyi. Tanda kalau sudah jam 1 dini hari. Aku meminum kopi yang sudah mendingin sebelum pamit pulang.

     Dijalan menuju tempatku, aku menikmati setiap dingin yang masuk ketubuh. entah apa yang kamu lakukan disisa malam itu. Mendengar dari ceritamu aku merasa layaknya seekor Serigala dalam novel tersebut.

     Aku cuma orang asing yang mencoba masuk duniamu melalui usaha yang panjang dan susah payah. Namun pada akhirnya, aku mengetahui kalau aku cuma orang biasa bagimu. Tapi, karna kita sama-sama masih belum tahu endingnya cerita tersebut, tapi kuharap cerita tersebut berakhir dengan happy ending.

No comments:

Post a Comment