8 January 2015

Take Easy, Dont Try Too Hard, Girl



Hingga saat ini sejarah awal permen karet memang belum jelas. Namun di tahun 1869, seseorang bernama Thomas Adams berkebangsaan Amerika mematenkan alat pembuat permen karet dan memproduksinya secara masal hingga sampailah pada masa yang kita kenal sekarang sebagai permen karet.

Pada perang dunia kedua, permen karet menjadi barang yang digemari oleh para tentara Amerika dan para sekutunya. Karna permen karet diyakini dapat menenangkan saraf, membantu mempercepat kerja otak, dan mampu mengurangi rasa haus. Tentu jika para tentara sudah kehabisan peluru, mereka bisa menggunakan getah dari permen karet sebagai jebakan seperti yang sering dilakukan anak sekolahan yang suka mengerjai temannya dengan menaruh permen karet ditempat duduk sang teman. sungguh, getahnya tak bisa hilang selama seminggu lebih. Kampret.

Banyak orang menggemari permen karet. Mulai dari anak-anak hingga orang dewasa gemar menguyah permen karet. Saking gemarnya, pada tahun 2011, pemerintah Roma (Italia) menyatakan perang terhadap permen karet.  Pasalnya, getah bekas permen karet sering dibuang dijalanan yang membuat jalanan kota kotor. Setiap hari, 15.000 batang permen karet dibuang dijalan, bahkan situs arkeologi. Atas dasar itu pemerintah Roma membenci permen karet.

Saya sendiri termasuk orang yang menyukai permen karet. Lebih dari sekedar makanan biasa.

Sulit rasanya melupakan nama Sir Alex Ferguson jika kita membicarakan permen karet. Sebab, bercerita tentang permen karet tapi melupakan Sir Alex Ferguson begitu saja adalah sebuah tindak kejahatan.

 Manager  legendaris Manchester United ini, disetiap pertandingan MU berlangsung atau hampir setiap minggu selama 26 tahun, Sir Alex selalu mengunyah permen karet. 26 tahun bukanlah waktu yang singkat, prosesnya bisa membuat seorang yang baru lahir hingga ia bisa menikah (kalo tidak jomblo selama 26 tahun). dalam waktu yang sama, Amerika Serikat telah berganti tampuk kepemimpinan sebanyak 5 kali. Begitupun Indonesia juga telah berganti presiden sebanyak 5 kali. Dalam kurun waktu itu juga, permen karet dengan setianya menemani Sir Alex yang menginstruksikan para pemainnya dari pinggir lapangan. Saat para pemain bintangnya sudah tak bersetia dan memilih pergi, permen karet selalu ada, bakhan disaat Van Nistelrooy, Roy Keane, Cristian Ronaldo, hingga David Beckham memilih pergi. Kepergian para pemain bintangnya tak membuat rasa manis pada permen karet menjadi hambar.

Perkenalan saya terhadap permen karet memang tidak sehistoris cerita seorang Sir Alex diatas. Berawal pada masa bocah beberapa tahun silam, ditempat tinggal saya lagi naik daun permen karet bermerek YOSAN. Mungkin kepopuleran YOSAN tidak lepas dari market strategy mereka yang memberikan hadiah kepada pembeli yang bisa mengumpulkan Huruf Y-O-S-A-N dibalik bungkusannya. Dari keinginan saya waktu bocah untuk mengumpulkan huruf-huruf itulah kenapa saya menyukai permen karet. Namun kita semua tahu akhirnya, usaha kita untuk mencari huruf Terkahir (N) selalu berakhir dengan rasa kecewa. Karna sukar sekali mencari huruf N atau mungkin memang tidak pernah ada ? Dari saya bocah hingga sampai pada saya yang sekarang, saya belum pernah bertemu dengan orang yang mendapat huruf N pada bungkusan YOSAN.

Dari situ juga saya mulai menyukai permen karet. Saat remaja seusia saya memilih rokok sebagai pelarian, sebagai jalan keluar, sebagai penenang pikiran, sebagai simbol kekerenan, saya lebih memilih permen karet.

Bagi saya, permen karet adalah candu kapitalisme (big babol, obviously). Jika seorang perokok dengan senang hati menghirup asap yang ditimbulkan dan merusak paru-paru, saya relah menguyah permen karet hingga tak berasa lagi.

Permen karet adalah teman paling dekat saat saya sendirian, saat sedang membaca, saat sedang menunggu teman, saat mendengarkan ceramah dosen, saat sedang menjemput pacar (dulu), saat ditinggalkan pacar, saat merasa dijauhi, saat tak memiliki teman, saat dibully orang, saat tak lulus mata kuliah, saat mendapat nilai ip tak memuaskan, saat jatuh cinta, saat patah hati, saat segala hal tak berjalan sesuai rencana, dan saat merasa dikecewakan. Permen karet lebih dari sekedar permen, dia adalah rekan dalam hidup.

Sama dengan permen karet bermerek YOSAN, perempuan masa kini yang cocok dengan kita adalah huruf N pada bungkusan YOSAN. Sukar sekali dicari. Ada yang sesuai selera bila dilihat dengan mata, tapi kelakuannya layak Jerman pada perang dunia alias suka berkonflik, suka mencari musuh. Mencari perempuan serupa dengan negara Kep. Faroe (adem, damai bertenak) sama dengan mencari huruf N tadi.

Belajar dari permen karet YOSAN tadi, Kita semua tahu kalau kita sejatinya terlalu terpaku terhadap apa yang kita pikirkan sehingga mengaburkan fakta-fakta yang lain. faktanya, meski big babol tak memberikan harapan yang kepalang brengsek dengan embel-embel hadiah seperti YOSAN, setidaknya kita tahu bila big babol adalah surga bagi orang yang suka membuat balon dari permen karet.

Fakta yang dikaburkan lainnya, saat kita/saya terlalu sibuk mencari perempuan yang serupa dengan kep. Faroe, sebenarnya ada perempuan yang lebih kita/saya butuhkan seperti perempuan Islandia (tak suka berkonflik, damai, ramah tamah). Dan akhirnya, sepertinya saya telah menemukannya. Telah menemukan perempuan Islandia tersebut.

Menuliskan dua hal yang disukai (permen karet dan dia) adalah hal yang kepalang susah dibanding mata kuliah filsafat pendidikan. Saat tulisan ini ditulis, entah berapa jam yang saya habiskan, tiga gelas teh manis telah saya minum, entah berapa cemilan yang telah saya makan.

Perempuan ini bukanlah perempuan baru dalam blog saya, saya sudah pernah menuliskan tentang dia sebelumnya. Kadang ada beberapa hal yang tak perlu diketahui banyak orang dan seharusnya tetap menjadi anonim, oleh sebab itu untuk kali ini saya tak menuliskan namanya dalam blog ini. biarlah dia yang merasa kalau tulisan ini memang untuknya. Hehehe

Teknologi mengubah segalanya. Revolusi mungkin tidak datang dari televisi, tapi datang dari internet. Teknologi membuat saya dan dia menjadi mudah dekat (meski konsep “dekat” terlalu kabur untuk abad ke 21). Berawal dari twitter dan berlajut ke aplikasi lintas waktu dan jarak, line.

Perempuan rendah hati dan suka memberi pujian ini mampu memporak-porandakan isi kepala saya. Hampir tiap kali chatting kita mampu membuat saya menyunggingkan bibir, bahkan untuk hal yang sebanarnya tidak lagi lucu. Mungkin dia tak berniat memberi pujian, tapi cuma saya yang kegeeran karna selama hidup terlampau sering dipandang sebelah mata.

Sebenarnya jika ditanya kenapa mau repot-repot melakukan ini, saya pun tak tahu mau menjawab apa. Memang ada sebuah keanehan saat mempersetankan rasa sakit kepala, mengabaikan rasa dinginnya malam dan menyia-nyiakan jam tidur malam hanya untuk menulis ini. Mungkin tulisan kali ini pun sama seperti sebelumnya, tak penting dan memang tak pernah menjadi penting. Yang jelas menulis tentangnya sama seperti sebuah permen karet, candu yang tak perlu dijelaskan.

 Entah bagaimana ujungnya ini, hidup bukanlah sebuah barang dagang yang memiliki garansi. Bukan pula sebuah game playstation yang bisa seenaknya dipause dan direset. Mungkin kedepannya ada kesal. Mungkin kedepannya nanti ada sebuah sesal. Akan ada umpatan. Atau mungkin akan ada canda tawa dan sedikit bahagia diakhir. Saya pun tak tahu dan tak mau menjamin.

Yang saya tahu, mungkin dia bukan huruf N pada bungkusan YOSAN yang dicari selama ini, dia perempuan biasa dengan segala daya tariknya yang membuat saya rela meluangkan waktu untuknya. Selamat berbahagia.

1 comment: