Banyak hal yang terjadi disekitarku
belakangan ini. Perkuliahan banyak berubah, orang-orang juga banyak berubah,
yang parahnya juga sedikit banyak mengubah siklus kehidupanku. Intinya segalanya
berubah.
Diperkuliahan, banyak peraturan atau
kegiatan yang tidak masuk akal namun tetap dilaksanakan. Contohnya para
mahasiswa menjadi petugas parkir secara bergiliran. Kegiatan itu mulai dilakukan
hari selasa pada minggu ketiga bulan April kemarin. Dihari pertama itu
dilaksanakan, salah satu petugasnya adalah aku. Aku dan beberapa orang teman
sekelas kebagian jam pagi. Jam pagi bagi kami adalah jam 7.00 – 9.30. sangat
pagi sebenarnya bagi seorang mahasiswa semester 6 yang berbadan tipis dan kerempeng.
Malam sebelum tugas, aku mendapatkan
permintaan dari ketua kelasku untuk menjadi petugas parkir. Sebenarnya aku
tidak terlalu mempermasalahkan itu, sebagai orang yang memiliki banyak waktu
luang, tidak masalah jika harus menjadi tukang parkir dadakan. Hanya saja
seorang mahasiswa menjaga parkir dikampus sendiri rasanya tidak etis. Semacam ada
gagal paham. Kadang terlintas dibenakku untuk memberikan waktu luangku yang
banyak kepada orang pertama yang menemukan ide tentang mahasiswa harus jadi
petugas parkir, agar bisa ia gunakan untuk merenung lebih banyak lagi.
Tidak cuma itu, mulai beberapa waktu
mendatang perkuliahan akan mengadakan upacara bendera setiap hari senin.
Siklus kehidupanku banyak berubah.
Dalam seminggu aku kekampus sebanyak empat kali. Itu membuatku merasa kalau
hari minggu cuma terpisah selama lima hari. Dikampus aku terlalu banyak mengamati
orang-orang, ada perempuan yang selalu menenteng ransel cuma sebelah bahu, dengan
sepatu hitam bersol kuning. Lelaki yang selalu membawa botol minuman bermerek mahal
kemanapun perginya. Dan membuatku menyadari kalau banyak orang melakukan segala
sesuatu tertentu tanpa sebab alasan yang historis. Dikelasku ada orang-orang
yang berubah secara drastis. Dari segilintir orang tersebut, ada orang yang aku
benci –dari pertama sih sebenarnya-, membuatku tidak akan pernah membuka hati
untuknya.
Dalam
hidup, aku bukanlah orang yang suka membenci seseorang, dan menurutku membenci
orang lain hanyalah pekerjaan yang melelahkan tanpa akhir, tapi jelas sebuah
pengecualian untuk dia. Kadang orang lain membenci seseorang tanpa ada alasan,
setelah itu mencari alasan-alasan untuk menguatkan rasa bencinya. Tapi aku
jelas memiliki alasan yang kuat untuk tidak suka dengannya. Kukira hampir semua
orang tidak menyukainya, namun ketidaksukaanku terhadapnya ada dilevel yang
berbeda. Segala omong kosong tentang kehidupannya yang selalu ia banggakan dan
caranya memamerkan segala omong kosong itu membuatku ingin memuntahkan segala
isi didalam perut. Jika kepada orang lain aku harus menjaga jarak 5 meter atau
membuat sebuah dinding pembatas yang tebal dan tinggi, maka untuknya aku harus
bekerja lebih keras untuk membuat jarak yang jauhnya tak terhingga atau membuat
dinding pembatas yang sangat tebal, tinggi sekaligus gelap.
***
Karna
perkuliahanku banyak masuk agak siang –cenderung terlalu siang- aku jadi punya
banyak waktu dipagi hari untuk membaca buku atau membacanya hingga larut malam
tanpa berpikir besoknya akan ketinggalan kelas. Namun kebiasaan buruk baru yang
timbul ialah aku jadi terlalu banyak membaca buku secara berbaring diatas
tempat tidur, juga belakangan jarang berinteraksi dengan orang luar sehingga
aku tak dapat mengatakan apa yang ingin aku katakan dengan tepat. Diantara
buku-buku yang sudah kubaca belakangan ini ada Animal Farm, Looking for Alaska, 1984, Manusia Harimau, Seperti Dendam,
Rindu Harus dibayar Tuntas, Paper Towns, Sherlock Holmes, dan Norwegian Wood.
Kebiasaan
membaca buku yang sama juga dapat menandakan kalau keuanganku sedang berada
jauh dari garis sejahtera, itu tampak lebih nyata saat aku menamatkan buku Norwegian Wood untuk kelima kalinya belakangan ini. Aku selalu membawa satu
buku didalam ranselku yang sewaktu-waktu akan kukeluarkan ketika menunggu
pergantian mata kuliah, menunggu dosen masuk, menunggu makan dikantin, didepan
perpustakaan kampus, didepan kelas.
Banyak
yang menganggap kalau aku membaca buku didepan umum hanya untuk sebuah
pencitraan. Semua anggapan itu tak lepas dari sebuah paradigma kalau kegiatan
membaca adalah kegiatan orang pintar. Jadi mereka menganggapku hanya
mencitrakan diri untuk terlihat pintar. Memang tak sepenuhnya salah, namun paradigma
inilah yang malah menjadikan banyak orang tak mau membaca. Menjadikan membaca
seoalah-olah kegiatan yang sulit yang hanya bisa dilakukan orang-orang tertentu
dan menjadikan kegiatan membaca begitu berjarak dengan orang-orang yang kukenal.
Padahal,
menurutku membaca tak butuh usaha lebih, setidaknya tak lebih sulit dari
membuat telor mata sapi dipagi hari ditanggal tua. Tak lebih sulit dari usaha
membentuk tubuh agar berotot, tak lebih sulit dari memasang hijab. Yang
dibutuhkan hanyalah niat –yang tak terlalu besar- dan menempatkan pandangan
tentang membaca sama seperti menempatkan pandangan makan sebagai sebuah
kebutuhan hidup. Membaca bagiku hanya sebagai kebutuhan sama dengan halnya
makan tadi.
***
Di
semester 6 ini juga, aku harus melakukan ppl kesekolahan Sd. Aku tahu, sebagai
pengajar aku bukanlah pengajar yang baik. Aku tak terlalu tahu berbagai model
pembelajaran, aku tak terlalu mengerti segala teori tentang mengajar. Tapi, aku
tahu aku memiliki sebuah kelebihan yang seolah sudah dibawa sejak lahir dan
tertulis diatas kepala secara samar seperti lingkaran pada malaikat. Yaitu
kelebihan secara psikologis. Sebuah kelebihan untuk dapat merebut hati
anak-anak dengan mudah. Aku menyadari sekali akan itu dan memanfaatkannya
sebisa mungkin.
Jadi
setelah beberapa lama, total aku sudah belajar mengajar di empat sekolahan
berbeda. Disekolahan pertama, banyak sekali kesan yang kudapatkan, banyak pelajaran
dan pengalaman yang didapat, dan menjadikan salah satu momen yang tak
terlupakan. Tapi entah kenapa, disekolahan berikutnya yang didapat hanyalah
kehampaan. Padahal semuanya sama seperti sebelumnya. Semakin aku mencoba
membuka hatiku untuk lingkungan sekolah semakin kuat perekat yang ada
didalamnya. Kalau sudah begitu, yang ketumui hanyalah kehampaan yang tak
kumengerti. Seperti ada dinding pembatas antara diriku dengan dunia luar. Saat
berada ditengah keramaian, seolah aku berada ditempat yang tak bisa aku pahami.
Jadilah aku berpindah dari satu sekolah ke sekolah lain tanpa kesan.
Semua
kehampaanku berakhir ketika aku bertemu dengan anak-anak kelas 2 dan 1 di
sekolah dasar yang terakhir. Anak-anak itu dengan ajaibnya dapat membuka
perekat dengan mudah. Seperti orang dewasa yang membuka pakaian anaknya. mudah
sekali. Mereka memberikan apa yang tidak aku dapatkan dari dunia luar.
Kebahagian sederhana. Kepolosan mereka membuatku sadar, untuk bahagia tidak
perlu mengejar apa yang ada didepan, tapi cukup menengok kesamping disekitar.
Tak perlu memikirkan akan terjadi apa nanti, kalau sekarang bahagia, nikmati
saja dulu kebahagiaan ini. Kira-kira seperti itulah pemahaman yang dapat
kujabarkan setelah bertemu bocah-bocah ini. Mulut-mulut kecil yang tak bisa
berhenti untuk berteriak dan tawa terbahak, mata-mata kecil yang selalu menatap
dengan tajam, serta tubuh-tubuh kecil yang difungsikan secara simultan. Segala
aktivitas polos yang dilakukan para bocah ini adalah perayaan tentang sebuah
kebahagiaan yang sederhana. Mereka menjadi pelita diduniaku yang kecil dan
sunyi.
Setelah
proses ppl –secara teknis- berakhir sekaligus menutup bulan april, ada lubang
gelap besar menganga dan dalam yang terbentuk didalam diriku yang ditinggalkan
oleh anak-anak itu. Sehingga aku berpikir, sepertinya bulain mei adalah bulan
yang bagus untuk mengakhiri sesuatu dan memulai sesuatu yang baru –seperti
pindah tempat kontrakan baru-. Dan saatnya untuk memulai kehidupan baru !
Apakah
ada yang terlewat ditulisan ini ? apakah aku tidak menceritakan atau melewatkan
menulis tentang seorang perempuan ? ayolah, tak ada perempuan yang mau berbagi
hidup dengan lelaki biasa yang memiliki kebiasaan membaca serta memiliki dunia yang
kecil dan sunyi.
No comments:
Post a Comment