Gadis
cantik itu memegang botol plastik pop ice yang sudah ia minum separuhnya. Ia tampak
cantik, rambutnya yang hitam legam dibiarkan terurai bergoyang mengikuti arah
kepala bergerak. Ia bisa menaklukan lelaki manapun dipasar malam itu dengan
senyum simpul uniknya, seolah memperlihatkan keindahan sekaligus keunikan atas
namanya. Lhazhena. Disampingnya berdiri kaku seorang lelaki bernama Husein yang
mendadak gugup dan bercucuran keringat.
Banyak
muda-mudi mengantri untuk menonton adegan tong edan. Didekat penjual gulali,
mereka berdua ikut mengantri. Lhazehna telah menjadi gadis kota yang gaul
seutuhnya. Enam bulan sudah ia menjadi anak kuliahan, namun kelihatannya tak
ada lelaki dikota atau tempatnya berkuliah yang bisa membuka rapatnya hati
gadis ini. saat ini ia mengenakan sweater
mahal berwarna abu rokok yang menutup rapat tubuh dan memakai celana jeans
ketat, menunjukkan betapa sempurnanya wanita ini, pinggulnya tumbuh seperti
apa semestinya seorang wanita kalau sedang ranum-ranumnya dan sandal kasual juga ia beli dikota.
Didalam
sebuah tenda tempat pertunjukkan tong edan, sudah banyak orang kampung yang
dengan sabar menunggu adegan demi adegan didalam. Mata-mata itu tak lepas
sedikitpun kepada sesesok pemuda berusia kira-kira dua puluhan, duduk diatas motor
tua penuh karat sambil memanaskan mesin motor yang tak kalah tua. Ia bersiap
dengan pongah tanpa alat keselamatan, seolah dia lah orang yang paling ahli
dalam bidang mengitari tong ini. tak berapa lama, sang pemuda itu melaju dalam
tong, berputar-putar. Selangi deru motor memenuhi tenda dan mata pengunjung
tertuju kesana, dengan tak canggung Lhazhena memegang tangan kasar Husein yang
sering digunakan untuk membajak sawah. Membuat Husein makin salah tingkah dan
membikin ia tak berani menatap wajah si gadis. Husein terpukau dengan
keberanian Lhazhena dalam memulai segalanya.
***
Ini
adalah kali pertama Husein bersama Lhazhena berkeliling pasar malam yang ada
dikampungnya. Kebetulan saat itu kampungnya lagi disinggahi oleh rombongan karnaval
yang biasa berkelana keberbagai tempat. Dan kebetulan jua si gadis sedang
pulang kampung untuk menikmati liburan akhir semester.
Selepas
keluar dari tenda pertunjukan tong edan, mereka melanjutkan untuk melihat film
layar tancap yang akan segera diputar ditengah lapang. Namun sebelumnya mereka
terlebih dahulu membeli dua plastik gulali sebagai cemilan selama menonton. Mereka
berdua duduk direrumutan hijau ditengah lapang, tidak terlalu dekat dengan
layar tapi juga tidak terlalu jauh. Siluet orang-orang berlalu lalang
dipantulkan oleh layar yang akan segera mulai. Si gadis terus menggenggam
tangannya dengan erat, mencoba menarik perhatian Husein.
Husein
menoleh, dan mereka saling menatap selama beberapa detik. Mata gadis itu
berbinar terang, hidung mancung dan bibir terbuka berucap kepada Husein, “aku
mencintaimu, Husien”. Lelaki ini tergagap seperti orang yang kehabisan udara,
degup jatungnya makin kencang, perutnya serasa dipenuhi cairan. Tak ingin
membuat Lhazhena kecewa, ia beranikan untuk membalas genggaman sang gadis
dengan gemetar, pertanda ia memiliki perasaan yang sama.
***
Sebelum-sebelumnya,
hubungan mereka tak pernah sejelas ini. Mereka sudah berteman dari kecil, sejak
keluarga Husein pindah dan menempati rumah kontrakan kecil disamping rumah
keluarga Lhazhena. Saat kecil pun Husein sudah merasa segan dengan gadis ini,
ia berasal dari keturunan tanpa cacat. Ayahnya seorang dokter yang terkenal
dengan bayaran mahal, sedangkan ibunya seorang bidan. Latar belakang itu lah
yang membuatnya sangat menghormati Lhazhena hingga saat ini. Gadis itu semacam
impian yang takkan pernah tergapai.
Jauh
sebelum malam ini, dari dasar hatinya, Husein sudah lama menyukai gadis
tersebut. Selain karna kencantikkannya yang sudah diakui oleh siapapun, juga
barangkali karna bayangan gadis ini selalu ada dibenaknya. Awalnya mungkin tak
lebih dari sebuah persahabatan dimasa kanak-kanak. Mereka berdua seumuran, satu
sekolahan. Selalu ada saat dimana Lhazhena menunggu didepan rumah Husein agar
berangkat kesekolah bersama, mungkin semenjak itu, para dewi cinta telah
berterbangan diatas kepala membentuk pernjanjian yang kelak akan dilaksanakan
saat mereka berdua menginjak dewasa. Disaat pulang sekolah juga selalu ada waktu
untuk Lhazhena menunggu didepan kelas Husein atau kadang Husein yang mesti
menunggu didepan gerbang sekolah.
Tetapi
saat semakin menua oleh waktu, jarak antara mereka pun ikut semakin melebar. Dalam rentang
waktu tersebut, Husein selalu berpikir barangkali keintiman masa kanak-kanak
sudah berlalu dan hanya bagian dari masa lampau yang menyenangkan dan Lhazhena
akan jatuh cinta kepada lelaki lain, dan akan melupakan Husein teman karib
semasa kecil. Hingga tiba saatnya untuk Lhazhena pergi keibu kota untuk masuk
universitas dan menjadi seorang anak kuliahan. Begitupun Husein, selepas lulus
SMA, seperti kebanyakan pemuda dikampungnya, ia menyibukkan diri dengan
bercocok tanam sesekali kehutan untuk mencari pohon kayu putih untuk dijual.
Namun
siapa sangka, ibu kota dan para lelaki diuniversitas tak mebuat Lhazhena
bergeming dan terlena. Semenjak ia menjadi anak kuliahan tak sekalipun ia
melupakan Husein, selalu saja ada celah kosong dalam hatinya yang dipersiapkan
untuk lelaki bernama Husein ini. dan dengan cara seperti itulah Lhazhena
menghabiskan enam bulan pertamanya sebagai seorang gadis kuliahan.
***
Sampai
film itu habis dan orang-orang mulai hilir mudik, mereka tak bicara apalagi
bertatapan. Cuma saling menggenggam, seolah kalimat-kalimat paling romantis
sekalipun bisa tersalurkan melalui denyut-denyut nadi tangan. Dua bungkus
gulali menjadi saksi bisu perasaan mereka.
Dijalan
pulang barulah suasana mulai mencair, saling bertukar cerita kesibukan masa
sekarang dan sesekali bernostalgia dengan mengingat masa lalu. Lhazhena lebih
banyak berbicara, ia tahu jika Husein bukanlah tipe orang yang suka bicara.
gadis itu berbicara tentang para lelaki dikuliahan serupa srigala yang selalu
menyadari akan adanya gadis cantik disekitar mereka, saling menaklukkan satu
sama lain hingga gadis yang jadi incara jatuh dalam pelukan.
Kampung
sudah sepi, cuma menyisakan suara jangkrik dan binatang-bintatang lain saat
mereka berada diujung persimpangan. Lhazena menghentikan langkahnya, yang mau
tak mau juga mesti menghentikan langkah Husein. Sekali lagi mata mereka saling
berpandangan, pandangan yang menegaskan kalau gadis itu benar-benar menyukai
Husein. Wajah mereka saling mendekat secara bertahap, nafas berat husein
menempuh muka Lhazhena, hatinya bergemuruh melihat bibir merah merekah itu
seolah menunggu sang lelaki menyarangkan bibirnya. Husein tahu, ia bisa saja
menciumnya sekarang dan meraih apa yang selama ini hanya ada dalam fantasi
paling liar. Ia bisa saja menciumnya, dan sang gadis pun pasti menginginkannya.
Ia bis saja menciumnya, namun ia enggan melakukannya.
Dalam
kesunyian malam disebuah persimpangan, Husein memilih jalan yang lain. baginya
tak ada hal yang lebih penting dari kebahagiaan Lhazhena. Kebahagiaan yang tak
mungkin didapat dan diberikan Husein. Ia yakin suatu saat nanti Lhazhena akan
menemukan orang yang mampu membahagiakannya jauh lebih baik dari Husein yang
mengandung banyak resiko. Lhazhena berhak untuk bahagia, jauh lebih bahagia
dari sekadar jalan-jalan dipasar malam berdua atau menunggu didepan rumah untuk
berangkat sekolah bersama. Begitulah isi pikiran kepala Husein. Tak ada ciuman,
tak ada kata jadian. Dan Lhazhena bisa memahaminya.
*catatan :
- nama Lhazhena didapat dari nama murid kelas satu Sd.
No comments:
Post a Comment