Libur kuliah yang panjang praktis
membuat saya hampir selalu di rumah. Memiliki rumah yang jauh dari pemukiman
warga lain membuat saya malas. Dan pula saya tidak terlalu memiliki teman –saya
pindah rumah beberapa tahun lalu, setelah mengikuti bapak pindah kerja-. Jadilah
saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk merenung dan merefleksikan apa yang
sudah terjadi. Liburan menjadi waktu yang tepat untuk menebus berpikiran liar. Tulisan
ini pun dibuat dari tempat tidur. Saya baru ngeh
jika sebenarnya saya sudah enam tahun lebih tinggal di Marabahan –meski tiga
tahun lebih banyak di Banjarmasin karena Kuliah- namun sama sekali asing dengan
kota ini.
“damn, aku sudah tinggal enam tahun
lebih tapi aku bahkan kada mengenal Marabahan”, kalimat tersebut keluar secara tidak
sengaja.
Saya selalu merasa jika kita tidak akan
pernah mengenal seseorang secara penuh, secara utuh. Meski telah bertahun-tahun
tinggal di satu atap yang sama. Entah seberapa keras upaya kita untuk coba
mengenal seseorang, tetap saja selalu ada dinding pembatas yang menghalanginya.
Ibarat puzzle, maka kita tidak akan menemukan semua kepingan yang
membuatnya sempurna.
Beberapa tahun lalu, saya naksir seorang
perempuan. Saya dan dia satu kampus. Dulu, saya merasa tahu banyak tentang dia,
tapi setelah sekarang saya pikir lagi, saya bahkan nyaris tidak mengenal dia.
Itu jika menyangkut tentang “orang”,
tapi bagaimana jika konteksnya kita geser ke “ruang” mungkinkah kita dapat
mengenal secara sempurna ? jelas tidak. Mungkin kita bisa melihat perubahan ?
lebih mungkin.
Apakah ruang yang mengasingkan kita ?
atau kah ruang yang mengasingkan kita ? Kita ambil contoh terdekat, kota. Bisa
kah kita mengenal kota dengan segala isi didalamnya ? alienisasi hadir seiring
dengan pertumbuhan sebuah kota. Selalu ada yang baru di kota, entah bertambah
atau berganti. Pertumbuhan itu awalnya secara perlahan, namun kemudian berubah
menjadi cepat dan semakin cepat. Karena kecepatan ini membuat manusia makin
terasing dan teralienisasi.
Saya kenal seseorang, sebut saja dia
Karlina a.k.a Carlyn. Dari rumahnya menuju kampus dibutuhkan waktu sekitar 30
menit, jika sedang sial kena macet bisa mencapai satu jam. Dengan tiga lampu
merah yang dilalui. Dia bilang, selama di lampu merah, ia hanya fokus pada
lampu merah. Fokus pada lampu merah. Kita coba pakai metode yang diperkenalkan
oleh Goran Vekaric disini, yaitu Imajinasi Kreatif. Kita akan menjumpai Karlina
yang berangkat dari rumah lebih pagi dari kebanyakan teman dia yang rumah atau
kostnya dekat kampus. Tapi ia tetap menjalaninya karena sudah menjadi
kewajibannya. Dijalan, ia menemui lampu merah pertama. Karlina hanya berfokus
pada lampu merah. Kita percepat, ia menemui lampu merah yang kedua dan ketiga.
Dan ia masih tetap hanya fokus pada lampu merah.
Lihat ? Inilah wajah orang-orang kota
yang sebenarnya, tidak cuma Karlina, tapi mungkin semua orang yang berada
dilampu merah akan sama seperti Karlina, fokus pada pikiran masing-masing. Kota
yang bergerak cepat ini menimbulkan satu ketakutan, takut terlambat. Para
karyawan, siswa, mahasiswa, dan semua orang berlomba agar tidak telat.
Dan lampu merah antitesis. Sebab, cuma
di lampu merah orang dipaksa mau berhenti. Ironisnya, lampu merah tetap membuat
manusia teralienisasi. Kita sering melihat orang sedang menelepon dalam mobil
saat lampu merah. Tak jarang kita melihat pengendara motor, masih sempat
mengecek handphonenya. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing, membuat lampu
merah yang mereka (atau kita) lewati sehari-hari menjadi asing. Sehingga kita
hanya mengenal “jalan” sebagai jalan bukan sebagai ruang yang ada banyak
kegiatan didalamnya.
Jika kita saja telah berupaya untuk
mengenal ruang tapi masih banyak celah, bagaimana dengan kita yang tidak
berupaya mengenal ? ini sama seperti abg yang menolak seseorang hanya karena
mendengar gosip dari orang lain tanpa berupaya untuk mengenal, mencari tahu,
atau mendalami. Dan upaya terbaik –atau terakhir- untuk mengenal ruang tepat
kita berpijak, ya mungkin dengan berhenti sejenak, menengok kesekitar, dan
mempelajarinya.
Menggubah kalimat Seno Gumira dibuku Tiada Ojek
di Paris, “ruang hanya akan jadi ruang, perjalanan hanya akan jadi perjalanan, maknanya
ditentukan masing-masing”.
No comments:
Post a Comment