4 September 2015

Mengenal Ruang, Mungkinkah ?



Libur kuliah yang panjang praktis membuat saya hampir selalu di rumah. Memiliki rumah yang jauh dari pemukiman warga lain membuat saya malas. Dan pula saya tidak terlalu memiliki teman –saya pindah rumah beberapa tahun lalu, setelah mengikuti bapak pindah kerja-. Jadilah saya lebih banyak menghabiskan waktu untuk merenung dan merefleksikan apa yang sudah terjadi. Liburan menjadi waktu yang tepat untuk menebus berpikiran liar. Tulisan ini pun dibuat dari tempat tidur. Saya baru ngeh jika sebenarnya saya sudah enam tahun lebih tinggal di Marabahan –meski tiga tahun lebih banyak di Banjarmasin karena Kuliah- namun sama sekali asing dengan kota ini.

“damn, aku sudah tinggal enam tahun lebih tapi aku bahkan kada mengenal Marabahan”, kalimat tersebut keluar secara tidak sengaja.

Saya selalu merasa jika kita tidak akan pernah mengenal seseorang secara penuh, secara utuh. Meski telah bertahun-tahun tinggal di satu atap yang sama. Entah seberapa keras upaya kita untuk coba mengenal seseorang, tetap saja selalu ada dinding pembatas yang menghalanginya.

Ibarat puzzle, maka kita tidak akan menemukan semua kepingan yang membuatnya sempurna.

Beberapa tahun lalu, saya naksir seorang perempuan. Saya dan dia satu kampus. Dulu, saya merasa tahu banyak tentang dia, tapi setelah sekarang saya pikir lagi, saya bahkan nyaris tidak mengenal dia.

Itu jika menyangkut tentang “orang”, tapi bagaimana jika konteksnya kita geser ke “ruang” mungkinkah kita dapat mengenal secara sempurna ? jelas tidak. Mungkin kita bisa melihat perubahan ? lebih mungkin.

Apakah ruang yang mengasingkan kita ? atau kah ruang yang mengasingkan kita ? Kita ambil contoh terdekat, kota. Bisa kah kita mengenal kota dengan segala isi didalamnya ? alienisasi hadir seiring dengan pertumbuhan sebuah kota. Selalu ada yang baru di kota, entah bertambah atau berganti. Pertumbuhan itu awalnya secara perlahan, namun kemudian berubah menjadi cepat dan semakin cepat. Karena kecepatan ini membuat manusia makin terasing dan teralienisasi.

Saya kenal seseorang, sebut saja dia Karlina a.k.a Carlyn. Dari rumahnya menuju kampus dibutuhkan waktu sekitar 30 menit, jika sedang sial kena macet bisa mencapai satu jam. Dengan tiga lampu merah yang dilalui. Dia bilang, selama di lampu merah, ia hanya fokus pada lampu merah. Fokus pada lampu merah. Kita coba pakai metode yang diperkenalkan oleh Goran Vekaric disini, yaitu Imajinasi Kreatif. Kita akan menjumpai Karlina yang berangkat dari rumah lebih pagi dari kebanyakan teman dia yang rumah atau kostnya dekat kampus. Tapi ia tetap menjalaninya karena sudah menjadi kewajibannya. Dijalan, ia menemui lampu merah pertama. Karlina hanya berfokus pada lampu merah. Kita percepat, ia menemui lampu merah yang kedua dan ketiga. Dan ia masih tetap hanya fokus pada lampu merah.

Lihat ? Inilah wajah orang-orang kota yang sebenarnya, tidak cuma Karlina, tapi mungkin semua orang yang berada dilampu merah akan sama seperti Karlina, fokus pada pikiran masing-masing. Kota yang bergerak cepat ini menimbulkan satu ketakutan, takut terlambat. Para karyawan, siswa, mahasiswa, dan semua orang berlomba agar tidak telat.

Dan lampu merah antitesis. Sebab, cuma di lampu merah orang dipaksa mau berhenti. Ironisnya, lampu merah tetap membuat manusia teralienisasi. Kita sering melihat orang sedang menelepon dalam mobil saat lampu merah. Tak jarang kita melihat pengendara motor, masih sempat mengecek handphonenya. Semua sibuk dengan pikiran masing-masing, membuat lampu merah yang mereka (atau kita) lewati sehari-hari menjadi asing. Sehingga kita hanya mengenal “jalan” sebagai jalan bukan sebagai ruang yang ada banyak kegiatan didalamnya.

Jika kita saja telah berupaya untuk mengenal ruang tapi masih banyak celah, bagaimana dengan kita yang tidak berupaya mengenal ? ini sama seperti abg yang menolak seseorang hanya karena mendengar gosip dari orang lain tanpa berupaya untuk mengenal, mencari tahu, atau mendalami. Dan upaya terbaik –atau terakhir- untuk mengenal ruang tepat kita berpijak, ya mungkin dengan berhenti sejenak, menengok kesekitar, dan mempelajarinya. 

Menggubah kalimat Seno Gumira dibuku Tiada Ojek di Paris, “ruang hanya akan jadi ruang, perjalanan hanya akan jadi perjalanan, maknanya ditentukan masing-masing”.

No comments:

Post a Comment