8 April 2013

Malam Minggu Itu


Bebrapa minggu, gue masih jomblo. Tiap malam minggu tiba, gue hanya berhibernasi dirumah sampai pagi.
            
    Namun, malam minggu malam minggu yang kelam itu tidak terjadi dimalam minggu gue kemarin. Karna gue jalan sama cewek. Yoi, cewek. Sebagai seorang jomblo, jalan sama cewek dimalam minggu itu nikmat banget. kalo gue ngeliat seorang cowok berjalan sendirian dengan wajah yang lumayan ganteng, rasanya ingin mengatakan emmm.. mas, masih jomblo, ya ? kasian… hahahahahaha

                Tapi gue nggak habis fikir ya kenapa tiap malam minggu gue sial mulu dan malam minggu kemaren sialnya nggak nanggung-nanggung. Semaleman penuh !!! dan di postingan ini gue akan membagi kesialan gue kepada kalian semua muahahahahahahaha

                Oke, sejelek-jeleknya seorang jomblo, akan merasa sangat tampan jika bisa jalan sama cewek cantik. Dan gue jalan sama………….. kami berdua memutuskan untuk nonton openmic dari stand up comedy bjm.

                Sebelum menjemput dia, gue  kemini market dulu buat ngadem plus minta parfum gratis. Pas gue mau nyoba-nyoba parfum, tiba-tiba di samping gue ada seorang ibu. Agar modus gue tidak terbongkar oleh ibu ini, gue mengambil satu parfum dan menyemprotkannya ke badan gue. “Hmm… kurang pas sama selara saya” gumam gue, ibu itu tampak mendengar ocehan gue tadi. Gue ambil parfum kedua dan gue semprotkan lagi ke badan gue “Hmm… yang ini baunya kurang laki!” gue kembali bergumam. Gue ambil parfum ketiga dan gue semprotkan lagi “Hmm.. enak sih, tapi terlalu murah. Enggak jadi beli deh, nggak ada yang sesuai selera.” kemudian gue meninggalkan mini market itu. Ibu-ibu itu tampak memerhatikan gue. Gue pasti terkesan seperti lelaki macho yang mengerti banget masalah parfum. Padahal, dalam kenyataannya, gue cuma lelaki yang bau badan karena parfum gue habis dan kemini market Cuma buat…. Ekhm, pakai parfum gratis.
               
                Dijalan menuju rumahnya, gue hamper menabrak truk yang berhenti mendadak karna lampu merah. Kan nggak elit banget mati dimalam minggu dalam keadaan jomblo. Ketika hamper sampai rumahnya, ternyata gang menuju rumahnya kena banjir yang tingginya hamper setengah meter. Alhasil gue jemput dia ditengah genangan air. Romantis sih tapi nggak gitu-gitu juga. Nah setelah gue jemput, kita jalan. Berhubung gue nggak tau jalan, jadi dia yang member instruksi dan gue mengikuti. Entah gue yang bego atau dia yang hebat menghasut, kita bukannya ketempat tujuan, malah muter-muter nggak jelas. Udah gitu pas dijembatan kena macet karna orang lagi ngaspal jalan. Dijalan juga kita ngata-ngatain orang, mulai dari ibu-ibu yang pake baju aneh, sampe bapak-bapak yang standing pas dilampu merah.  Kita sampainya agak telat tapi acaranya belum mulai, cuma udah banyak orang disitu. Oiya, waktu itu gue juga tampil, dan urutan kedelapan. Pas tampil, nggak tau kenapa lebih gugup dari biasanya, banyak jokes yang gue lupa dan nggak kena (padahal emang gue nggak lucu).

                Sekitar jam 11, kita pulang. Dan lagi-lagi kita muter nggak jelas, kita ngelewati truk sampah yang baunya naudzubilah, kita ngelewati jalan sepi, sampai ngelewati sinar dodo. Balik lagi jalan ramai, sampai akhirnya ban belakang kendaraan gue bocor. Bukannya panik, kita malah tertawa kampret. Kita nyari tukang tambal, dia yang naik, gue yang dorong. Gue cape, dia ketawa. Goblok. Di tempat penambalan tersebut, dia banyak cerita, mulai dari orang yang pernah nolak gue, tentang gimana kedekatan dia dengan mantan pacar yang pernah nolak gue, tentang orang yang meninggal dekat rumah dia. Dan gue masih ingat secara detail semuanya, tentang gimana pupil matanya membesar ketika membicarakan orang yang nolak gue, gimananya matanya hampir tidak terlihat ketika ketawa. Gue masih ingat.

                Dijalan pulang pun kita masih kayak orang bego yang nggak tau kemana, sampai naik ketrotoar. Sekitar jam 12 lewat gue sampai mengantar kerumahnya. Dan dijalan pulang kerumah gue, gue berfikir, mungkin ini yang disebut orang time warp(betul nggak sih), waktu yang terasa begitu cepat ketika dengan orang yang tepat.

                Momen-momen, romantic adalah ketika orang yang kita suka bilang “makasih atas waktunya malam ini” tapi yang ada, dia bilang “sial gue ikut lo dan kayaknya lo terlahir untuk sial hahaha”. Nggak tau deh gue harus gembira atau ngajakin dia minum baygon bareng. Tapi yang pasti kata-kata dia emang ada benarnya juga.

                Tapi yang jelas, waktu itu, gue baru merasakan yang namanya ketawa lepas, dan gue rasa dia juga. Gue belajar satu hal, harusnya yang kita lakukan hanyalah mencari secuil kebahagian dari banyaknya kebahagiaan-kebahagiaan yang ada. Dan bahagia versi hue adalah, lo ketawa lepas.

                Dari sini gue tahu, kalo sebenarnya orang yang gue cari bukanlah orang yang harus sempurna, tapi cukup orang yang bisa menikmati kesialan bareng gue dan mau menertawakan kesialan, bersama.

No comments:

Post a Comment