17 December 2014

Fenomena Orang Dalam


          Manusia memiliki perasaan atau hati nurani yang menjadikannya memiliki derajat  yang lebih tinggi dibanding ciptaan Tuhan yang lain. Namun kadang justru perasaan ini lah yang membuat manusia tidak dapat berpikir lebih jauh dan lebih jernih. Tak jarang manusia dikaburkan oleh logika dan perasaan yang tak sejalan.

Sekarang saya berumur 20 tahun atau sedang kuliah disemester 5. Dan beberapa tahun kedepan bisa dibilang saya akan memasuki dunia kerja. Nah, dunia kerja ini lah yang ingin saya bahas.


Beberapa waktu lalu, ditengah obrolan ngalor ngidul dipelatar kampus sambil menunggu dosen masuk, teman saya tiba-tiba nyeletuk “ntar kalau sudah lulus, aku mau kerja di Bank. Ada kakak aku yang memasukkan” katanya dengan mantap. What the hell?!


Secara teorinya, kalau ingin masuk kesebuah kantor dan lembaga atau ingin bekerja harus melalui tes-tes yang rumit. Kita harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan apa yang di harapkan kantor tempat yang ingin kita tuju.  Kita harus benar-benar ahli di bidangnya. Tak ada istilah diterima karna ada “orang dalam” seperti teman saya tadi.


Namun seperti yang sudah kita semua ketahui, tak jarang sebuah teori hanya mentok mejadi sebuah teori. Pada teorinya, jika kita ingin melamar kerja, kita harus menyiapkan cv –dalam cv tersebut kita bisa memasukkan pengalaman atau keahlian kita-  dan lebih lanjut mungkin akan di interview. Namun pada kenyataannya dilapangan sangat lah berbeda. Orang yang memiliki term “keluarga” atau biasa disebut dengan orang dalam, akan lebih mudah masuk dibanding dengan orang yang melamar sendiri tanpa orang dalam. Tanpa maksud propaganda, sebagai orang yang tak banyak memiliki teman, saya merasa tak sanggup untuk bersaing kalau seperti ini.


Contoh, taruhlah dalam sebuah tes penerimaan pegawai baru terdapat dua orang yang mendaftar. Yang mana diantara dua orang tersebut hanya satu yang diterima. Sebut saja mereka si A dan si B. Mereka berdua berasal dari universitas yang sama.  Si A memiliki nilai ipk 3.5, sedangkan si B memiliki nilai ipk 3.0. Tapi, meski si B memiliki nilai yang lebih rendah di banding si A, si B memiliki keluarga yang bekerja ditempat tersebut. Pertanyaannya sekarang, berapa besar probabilitas si A untuk diterima bekerja ? saya berani bertaruh probabilitasnya tak lebih besar dari biji kacang.

Saya kira hati nurani atau perasaan manusia berperan disini. Seperti yang saya tulis di awal kadang perasaan inilah yang menghambat manusia untuk berpikir jernih. Jika dihadapkan pada kasus diatas, logikanya si A pasti yang akan dijadikan pegawai melihat nilai yang dia memiliki lebih tinggi dari si B. Namun karna perasaan “tidak enak” terhadap keluarga si B atau takut menyinggung keluarga si B jika tidak diterima, maka kantor tersebut memutuskan untuk menjadikannya pegawai.


Sebenarnya masalah seperti ini tidak hanya dalam dunia kerja. Dalam bidang lain pun saya rasa sama saja. Saat mendaftar sekolah, saat mendaftar kuliah, saat membuat SIM, saat berurusan dengan pihak berwajib, saat tersangkut kasus, saat dipengadilan, saat menonton sebuah konser, saat menonton pertandingan sepak bola semuanya akan lebih mudah saat kita memiliki orang dalam. ketidakmampuan kita dalam berfikir jernih karena perasaan tersebut juga merambah ke hubungan pertemanan. Misalkan kita adalah seorang mahasiswa yang mendapat tugas oleh dosen dalam membentuk kelompok presentasi dan secara bebas memilih anggota kelompoknya, berapa banyak mahasiswa yang mampu berpikir rasional disini ? saya yakin, dengan bangganya mereka memilih anggota dari teman terdekatnya. Padahal, seandainya jika kita dapat berfikir sedikit lebih jernih dan rasional, kita sebenarnya dapat memilih orang-orang yang benar-benar kita butuhkan dalam membuat kelompok tanpa ada embel-embel belas kasihan "karna teman dekat aja".

Fenomena semacam ini bukan lah sebuah trend sesaat yang menggebu-gebu di awal dengan segala macam kegilaannya dan meredup diakhir seiring berjalannya waktu. Bukan, fenomena ini bukanlah fenomena artis youtube yang bisa membuat seseorang mendadak menjadi artis di awal namun bisa terjun bebas menjadi tukang bubur saat tak ada media yang mau meliput karna dianggap tidak memiliki nilai jual lagi.


Fenomena “orang dalam” ini dapat sangat mudah kita temui dewasa ini, apalagi seiring tenaga kerja yang semakin banyak tiap saatnya berbanding terbalik dengan lahan pekerjaannya yang tidak bertambah. Saking dibutuhkannya orang dalam, tak jarang seseorang harus jadi penjilat. Memperbanyak pertemanan tanpa kesan demi sebuah tujuan yaitu mendapat pekerjaan bukanlah sebuah hal yang salah memang tapi tentu juga tak bisa dibenarkan begitu saja. Jika kita masih bisa berusaha untuk profesional adalah sebuah kebenaran, maka menjadi penjilat adalah sebuah kesalahan.

Coba anda cek di handphone anda, berapa banyak nomor yang benar-benar yang sering hubungi ? dan berapa banyak nomor yang anda hubungi jika hanya diperlukan saja. Jika anda lebih banyak memiliki kontak yang anda hubungi jika hanya dibutuhkan, maka anda perlu merenung dengan diri sendiri lebih banyak lagi.


Sebenarnya kita tak perlu heran terhadap fenomena “orang dalam” atau term “keluarga” seperti ini. Karna fenomena seperti ini sangat berhubungan dan erat kaitannya langsung dengan hati nurani manusia itu sendiri. Seandainya manusia dapat berpijir objektif tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor macam karna keluarga, karna teman, karna teman lama, dll, saya rasa fenomena “orang dalam” atau term keluarga” ini tidak akan berkembang biak seperti eceng gondok. Dan tiap individu akan bersaing dengan individu lain sesuai kemampuan dan kebisaan yang dimilikinya.

            
         Saya membayangkan, mungkin 4-5 tahun kedepan, mencari pekerjaan tidak pakai cv lagi, tapi pakai term “keluarga” atau melalui “orang dalam”.

- AKBAR MAULIDI

bisa dihubungi di akbarmaulidi@yahoo.co.id

No comments:

Post a Comment