Manusia
memiliki perasaan atau hati nurani yang menjadikannya memiliki derajat yang lebih tinggi dibanding ciptaan Tuhan yang
lain. Namun kadang justru perasaan ini lah yang membuat manusia tidak dapat
berpikir lebih jauh dan lebih jernih. Tak jarang manusia dikaburkan oleh logika dan
perasaan yang tak sejalan.
Sekarang
saya berumur 20 tahun atau sedang kuliah disemester 5. Dan beberapa tahun
kedepan bisa dibilang saya akan memasuki dunia kerja. Nah, dunia kerja ini lah
yang ingin saya bahas.
Beberapa
waktu lalu, ditengah obrolan ngalor ngidul dipelatar kampus sambil menunggu
dosen masuk, teman saya tiba-tiba nyeletuk “ntar kalau sudah lulus, aku mau
kerja di Bank. Ada kakak aku yang memasukkan” katanya dengan mantap. What the hell?!
Secara teorinya, kalau ingin masuk kesebuah kantor dan lembaga atau ingin bekerja harus melalui tes-tes
yang rumit. Kita harus memiliki kompetensi yang sesuai dengan apa yang di
harapkan kantor tempat yang ingin kita tuju.
Kita harus benar-benar ahli di bidangnya. Tak ada istilah diterima karna
ada “orang dalam” seperti teman saya tadi.
Namun seperti yang sudah kita semua ketahui, tak jarang sebuah teori hanya mentok mejadi
sebuah teori. Pada teorinya, jika kita ingin melamar kerja, kita harus
menyiapkan cv –dalam cv tersebut kita bisa memasukkan pengalaman atau keahlian
kita- dan lebih lanjut mungkin akan di interview. Namun pada kenyataannya
dilapangan sangat lah berbeda. Orang yang memiliki term “keluarga” atau biasa
disebut dengan orang dalam, akan lebih mudah masuk dibanding dengan orang yang
melamar sendiri tanpa orang dalam. Tanpa maksud propaganda, sebagai orang yang
tak banyak memiliki teman, saya merasa tak sanggup untuk bersaing kalau seperti ini.
Contoh,
taruhlah dalam sebuah tes penerimaan pegawai baru terdapat dua orang yang
mendaftar. Yang mana diantara dua orang tersebut hanya satu yang diterima.
Sebut saja mereka si A dan si B. Mereka berdua berasal dari universitas yang
sama. Si A memiliki nilai ipk 3.5, sedangkan
si B memiliki nilai ipk 3.0. Tapi, meski si B memiliki nilai yang lebih rendah
di banding si A, si B memiliki keluarga yang bekerja ditempat tersebut.
Pertanyaannya sekarang, berapa besar probabilitas si A untuk diterima bekerja ?
saya berani bertaruh probabilitasnya tak lebih besar dari biji kacang.
Saya
kira hati nurani atau perasaan manusia berperan disini. Seperti yang saya tulis
di awal kadang perasaan inilah yang menghambat manusia untuk berpikir jernih.
Jika dihadapkan pada kasus diatas, logikanya si A pasti yang akan dijadikan
pegawai melihat nilai yang dia memiliki lebih tinggi dari si B. Namun karna
perasaan “tidak enak” terhadap keluarga si B atau takut menyinggung keluarga si
B jika tidak diterima, maka kantor tersebut memutuskan untuk menjadikannya
pegawai.
Sebenarnya
masalah seperti ini tidak hanya dalam dunia kerja. Dalam bidang lain pun saya
rasa sama saja. Saat mendaftar sekolah, saat mendaftar kuliah, saat membuat SIM,
saat berurusan dengan pihak berwajib, saat tersangkut kasus, saat dipengadilan,
saat menonton sebuah konser, saat menonton pertandingan sepak bola semuanya
akan lebih mudah saat kita memiliki orang dalam. ketidakmampuan kita dalam berfikir jernih karena perasaan tersebut juga merambah ke hubungan pertemanan. Misalkan kita adalah seorang mahasiswa yang mendapat tugas oleh dosen dalam membentuk kelompok presentasi dan secara bebas memilih anggota kelompoknya, berapa banyak mahasiswa yang mampu berpikir rasional disini ? saya yakin, dengan bangganya mereka memilih anggota dari teman terdekatnya. Padahal, seandainya jika kita dapat berfikir sedikit lebih jernih dan rasional, kita sebenarnya dapat memilih orang-orang yang benar-benar kita butuhkan dalam membuat kelompok tanpa ada embel-embel belas kasihan "karna teman dekat aja".
Fenomena semacam
ini bukan lah sebuah trend sesaat yang menggebu-gebu di awal dengan segala macam kegilaannya dan meredup
diakhir seiring berjalannya waktu. Bukan, fenomena ini bukanlah fenomena artis
youtube yang bisa membuat seseorang mendadak menjadi artis di awal namun bisa
terjun bebas menjadi tukang bubur saat tak ada media yang mau meliput karna
dianggap tidak memiliki nilai jual lagi.
Fenomena
“orang dalam” ini dapat sangat mudah kita temui dewasa ini, apalagi seiring
tenaga kerja yang semakin banyak tiap saatnya berbanding terbalik dengan lahan
pekerjaannya yang tidak bertambah. Saking dibutuhkannya orang dalam, tak jarang seseorang
harus jadi penjilat. Memperbanyak pertemanan tanpa kesan demi sebuah tujuan
yaitu mendapat pekerjaan bukanlah sebuah hal yang salah memang tapi tentu juga
tak bisa dibenarkan begitu saja. Jika kita masih bisa berusaha untuk profesional adalah sebuah kebenaran, maka menjadi penjilat adalah sebuah
kesalahan.
Coba
anda cek di handphone anda, berapa banyak nomor yang benar-benar yang sering
hubungi ? dan berapa banyak nomor yang anda hubungi jika hanya diperlukan saja.
Jika anda lebih banyak memiliki kontak yang anda hubungi jika hanya dibutuhkan,
maka anda perlu merenung dengan diri sendiri lebih banyak lagi.
Sebenarnya
kita tak perlu heran terhadap fenomena “orang dalam” atau term “keluarga”
seperti ini. Karna fenomena seperti ini sangat berhubungan dan erat kaitannya langsung
dengan hati nurani manusia itu sendiri. Seandainya manusia dapat berpijir
objektif tanpa dipengaruhi oleh faktor-faktor macam karna keluarga, karna
teman, karna teman lama, dll, saya rasa fenomena “orang dalam” atau term “keluarga” ini tidak akan berkembang biak seperti eceng gondok. Dan tiap individu akan bersaing dengan
individu lain sesuai kemampuan dan kebisaan yang dimilikinya.
Saya membayangkan,
mungkin 4-5 tahun kedepan, mencari pekerjaan tidak pakai cv lagi, tapi pakai
term “keluarga” atau melalui “orang dalam”.
- AKBAR MAULIDI
bisa dihubungi di akbarmaulidi@yahoo.co.id
No comments:
Post a Comment