Membanding-bandingkan adalah sifat paling mendasar yang dimiliki oleh manusia. Entah membandingkan sebuah benda mati ataupun membandingkan satu manusia dengan manusia lainnya.
Membadingkan mungkin jadi hal yang wajar jika membandingkan sesuatu dengan seseuatu yang setara, entah secara kuantitas atau secara kualitas. Misalkan gini, mobil Honda Jazz dibandingkan mobil Suzuki Swift. Masih hal yang wajar toh ?
Tapi yang jadi permasalahannya sekarang adalah jika kita membandingkan hal yang jelas tak setara, yang perbedaannya lebih jelas dari matahari di jam 12 siang. Yang kejomplangannya lebih dari sebuah timbangan. Karna sering mendapatkan perbandingkan yang kurang wajar, maka saya paham betul akan hal ini.
Gini, saya pernah naksir seorang perempuan sebutlah namanya si A. Dia adalah tipe saya banget dan kebetulan dia lagi jomblo saat itu, ya karna jarang-jarang perempuan seperti dia jomblo jadilah saya mencoba untuk mendekati dia. Setelah beberapa hari pdkt, sudah nanya sana-sini. Ternyata dia juga lagi dekat dengan pria lain. Dan ujung-ujungnya dia jadian dengan pria tersebut, seorang anak band. yaiyalah saya kalah jika harus bersaing dengan anak band. Oke, sampai disini saya bisa terima. bersaing dengan anak band adalah hal yang tak mungkin saya menangkan toh ? Dibandingkan anak band yang notabene adalah idola para kaum hawa, apalah saya yang buta nada (buta yang bisa diasosiasikan dengan buta sungguhan). Dibandingkan dengan anak band, saya bukanlah apa-apa. ibarat kata, anak
band tersebut sudah khatam lagu-lagu Bring Me The Horizon mau
dibandingkan dengan saya yang lagu ibu sud saja masih gagap.
yowes, saya move on dong. saya naksir lagi dengan cewek. cewek yang bila dari segi fisik saya rasa merupakan idaman semua pria. sebut saja nama perempuan tersebut si B. cantik jelas, dari keluarga terpandang dan baik-baik, anak gahol. sepertinya memang mudah menyukai seseorang yang cantik dari kejauhan. karna setelah kenal dari dekat, dia menjadi orang yang sama sekali berbeda dari apa yang kita bayangkan dari jauh sebelumnya. dari awal mencoba pdkt, saya merasa ada banyak perbedaan, ada banyak hal yang sepertinya tidak akan menemukan titik temu. dia adalah orang yang suka kesuatu tempat hanya untuk berfoto dan menguploadnya disosial media. sedang saya, adalah anak biasa, yang saban kali mau berfoto gugupnya sama kayak disuruh dosen presentasi tanpa membuka buku. dia suka makan ditempat-tempat yang namanya tak pernah saya kunjungi -tentu beserta fotonya- sedang saya sering makan indomie dikost.dengan segala pertimbangan tersebut, akhirnya saya mundur teratur.
sekarang, saya naksir dengan orang yang memiliki mata paling indah yang pernah saya lihat, meski cuma melihatnya dari kejauhan. matanya jelas menjadi aset yang dapat dibanggakan. dia adalah maba dikampus saya, sebut saja namanya Dina Rahmadina. meski tak mengenalnya secara dan dia tentu tak mengenal saya, saya yakin dia adalah orang yang baik, tak suka berkonflik dan dari keluarga baik-baik dan terpandang.
sebuah keabsurditasan yang hampir tak masuk akal memang bagaimana kita bisa menyukai orang yang bahkan untuk bisa berbincangpun sepertinya memerlukan waktu 74 tahun sekali seperti komet halley.
seperti sebelumnya, saya melihat banyak perbedaan-perbedaan diantara dina dan saya. dina anak yang gaul dengan teman-teman yang gaul, sedang saya, tak banyak mempunyai teman dan tak berteman secara mendalam. jelas juga sepertinya, saya yang cupu dan suka membaca buku bukanlah tipenya. saya sering sekali menatapnya secara diam-diam. disaat menatapnya, tak jarang saya berharap saya bisa berubah dari sosok kerempeng cupu menjadi sosok mempesona yang bisa membuatnya menengok kearah saya barang sejenak.
Namun pada akhirnya, melihat matanya dari kejauhan atau beberapa detik saat berpapasan adalah pilihan yang terbaik. menjadi fans abadi pun rasanya tak terlalu buruk (:
mengutip nukilan seorang Gandhi, "apa yang kamu lakukan tidak penting, yang penting kamu melakukan itu". ya, tak penting apakah dia akan membaca ini atau tidak, yang penting saya sudah melakukannya.
Teruntuk Anda Pemilik Mata Yang Mengubah Dunia Saya
sekarang, saya naksir dengan orang yang memiliki mata paling indah yang pernah saya lihat, meski cuma melihatnya dari kejauhan. matanya jelas menjadi aset yang dapat dibanggakan. dia adalah maba dikampus saya, sebut saja namanya Dina Rahmadina. meski tak mengenalnya secara dan dia tentu tak mengenal saya, saya yakin dia adalah orang yang baik, tak suka berkonflik dan dari keluarga baik-baik dan terpandang.
sebuah keabsurditasan yang hampir tak masuk akal memang bagaimana kita bisa menyukai orang yang bahkan untuk bisa berbincangpun sepertinya memerlukan waktu 74 tahun sekali seperti komet halley.
seperti sebelumnya, saya melihat banyak perbedaan-perbedaan diantara dina dan saya. dina anak yang gaul dengan teman-teman yang gaul, sedang saya, tak banyak mempunyai teman dan tak berteman secara mendalam. jelas juga sepertinya, saya yang cupu dan suka membaca buku bukanlah tipenya. saya sering sekali menatapnya secara diam-diam. disaat menatapnya, tak jarang saya berharap saya bisa berubah dari sosok kerempeng cupu menjadi sosok mempesona yang bisa membuatnya menengok kearah saya barang sejenak.
Namun pada akhirnya, melihat matanya dari kejauhan atau beberapa detik saat berpapasan adalah pilihan yang terbaik. menjadi fans abadi pun rasanya tak terlalu buruk (:
mengutip nukilan seorang Gandhi, "apa yang kamu lakukan tidak penting, yang penting kamu melakukan itu". ya, tak penting apakah dia akan membaca ini atau tidak, yang penting saya sudah melakukannya.
Teruntuk Anda Pemilik Mata Yang Mengubah Dunia Saya
No comments:
Post a Comment