Bagi
orang biasa yang tak memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan seperti
mempunyai keahlian dalam hal musik ataupun olahraga, contohnya saya –ya, itu
cukup menjelaskan betapa cupunya saya-. Mencari orang yang mau menerima kita
apa adanya serupa dengan sebuah kencan buta, sudah janjian namun tak kunjung
datang hingga tempat janjian tersebut tutup.
Anda
mungkin tahu orang yang akan datang menemui kita memiliki lensa mata dan
berbehel. Namun sudah lewat jam janjian yang telah ditentukan sebelumnya, dia
masih belum datang.
Maka
dengan sendirinya anda dengan indera pengelihatan, mulai mengamati orang-orang
yang dapat ditangkap oleh radius pandangan mata anda untuk mencari orang yang
memakai lensa mata dan behel.
Setiap
kali anda melihat orang yang memakai lensa mata dan behel, Anda merasa dia lah
orangnya. Namun, sebanyak anda berharap dia lah orangnya, sebanyak itu juga
anda kecewa. Tak ada seorang pun dari orang yang memakai lensa mata dan behel
datang menghampiri anda. Mereka sibuk dengan teman dan/atau orang lain, bukan
dengan anda.
Anda
kecewa karena setiap harapan yang dibangun saat melihat orang memakai lensa
mata dan behel harus runtuh begitu saja, karena dia tak kunjung muncul.
Orang
yang mau menerima apa adanya merupakan kencan buta bagi orang-orang biasa yang
tak memiliki pesona seperti saya. Setiap kali ada orang baik, pengertian, dan
memahami kita -kaum-kaum yang jomblo karna keadaan bukan karna pilihan-, setiap
itu juga kita merasa kalau dia lah orang yang kita cari selama ini. Orang yang
tepat untuk kita. Orang yang mau menerima kita apa adanya.
Namun
pada akhirnya, kita tetap harus kecewa, karena dia memilih orang yang berbeda,
bukan kita. Layaknya kencan buta itu tadi.
Setiap
asa harapan yang terbangun akibat merasa telah bertemu dengan orang yang tepat,
harus kembali disimpan rapat-rapat. Saban kali berjanji tidak mengulangi
kesalahan yang sama, dalam hal ini memupuk harapan yang terlalu tinggi. Saban
kali juga kita percaya kita akan bertemu dengan orang yang mau menerima kita
apa adanya. Semakin besar harapan kita diawal, semakin keras kita terjatuh.
Namun
yang menjadi permasalahannya, kita terlalu sering berada disituasi ini
sebelumnya. Saking seringnya, bisa membentuk sebuah pola hidup.
Kita
memiliki harapan yang membumbung tinggi terhadap seseorang, tapi sayang
ujungnya kecewa akibat dia memilih orang lain. Selanjutnya kita berjanji pada
diri sendiri, meyakini diri untuk tidak lagi memupuk asa terlalu tinggi. Tapi
terulang lagi, kita merasa bertemu dengan orang yang tepat lagi, dan dia
memilih orang lain, kita berjanji pada diri sendiri lagi untuk tidak memupuk
asa terlalu tinggi. Tapi terulang lagi dan tak pernah bertemu dengan orang yang
tepat. Serupa dengan dongeng Sisifus yang dikutuk untuk mendorong batu keatas bukit, hanya untuk melihat batu itu
meluncur ke bawah. Lalu ia akan mendorong lagi batu tersebut. Begitulah
seterusnya.
Pola
macam itu terus berlanjut sampai matahari terbit dari barat. Sampai mama dedeh
jadi bintang iklan top kopi.
Romantisme
macam ini terlihat absurd memang, Kita semua sebenarnya tahu bagaimana orang
lain dengan mudahnya membuat kita patah hati. Namun tak banyak yang dapat
dilakukan. Bagi beberapa orang bertipe masokis, mereka lebih memilih menyerah
dan lebih memilih untuk menikmati romantisme absurd macam ini. Kita sudah
sering berada diposisi dimana probabilitas untuk mendapat bahagia lebih kecil
dari biji semangka. Kita sadar itu dan kita tidak merasa jera. Kalau jera pun,
paling lama hanya sampai merasa bertemu dengan orang yang tepat.
Pada
akhirnya, orang-orang biasa yang tak memiliki cukup pesona dan/atau tak cukup
mampu mempesona orang yang ditaksirnya, memilih untuk pasrah kepada yang kuasa
sembari berharap kencan butanya dimunculkan dengan segera.
Jika
anda termasuk kedalam golongan orang-orang yang tak memiliki pesona ini, anda
tahun benar apa yang saya bicarakan. Tentang kekecewaan, tentang harapan yang
selalu bertepuk sebelah tangan.
No comments:
Post a Comment