20 December 2014

Romantisme Absurd untuk Orang-Orang Tanpa Pesona



Bagi orang biasa yang tak memiliki kemampuan yang dapat dibanggakan seperti mempunyai keahlian dalam hal musik ataupun olahraga, contohnya saya –ya, itu cukup menjelaskan betapa cupunya saya-. Mencari orang yang mau menerima kita apa adanya serupa dengan sebuah kencan buta, sudah janjian namun tak kunjung datang hingga tempat janjian tersebut tutup.

Anda mungkin tahu orang yang akan datang menemui kita memiliki lensa mata dan berbehel. Namun sudah lewat jam janjian yang telah ditentukan sebelumnya, dia masih belum datang.

Maka dengan sendirinya anda dengan indera pengelihatan, mulai mengamati orang-orang yang dapat ditangkap oleh radius pandangan mata anda untuk mencari orang yang memakai lensa mata dan behel.

Setiap kali anda melihat orang yang memakai lensa mata dan behel, Anda merasa dia lah orangnya. Namun, sebanyak anda berharap dia lah orangnya, sebanyak itu juga anda kecewa. Tak ada seorang pun dari orang yang memakai lensa mata dan behel datang menghampiri anda. Mereka sibuk dengan teman dan/atau orang lain, bukan dengan anda.

Anda kecewa karena setiap harapan yang dibangun saat melihat orang memakai lensa mata dan behel harus runtuh begitu saja, karena dia tak kunjung muncul.

Orang yang mau menerima apa adanya merupakan kencan buta bagi orang-orang biasa yang tak memiliki pesona seperti saya. Setiap kali ada orang baik, pengertian, dan memahami kita -kaum-kaum yang jomblo karna keadaan bukan karna pilihan-, setiap itu juga kita merasa kalau dia lah orang yang kita cari selama ini. Orang yang tepat untuk kita. Orang yang mau menerima kita apa adanya.

Namun pada akhirnya, kita tetap harus kecewa, karena dia memilih orang yang berbeda, bukan kita. Layaknya kencan buta itu tadi.

Setiap asa harapan yang terbangun akibat merasa telah bertemu dengan orang yang tepat, harus kembali disimpan rapat-rapat. Saban kali berjanji tidak mengulangi kesalahan yang sama, dalam hal ini memupuk harapan yang terlalu tinggi. Saban kali juga kita percaya kita akan bertemu dengan orang yang mau menerima kita apa adanya. Semakin besar harapan kita diawal, semakin keras kita terjatuh.

Namun yang menjadi permasalahannya, kita terlalu sering berada disituasi ini sebelumnya. Saking seringnya, bisa membentuk sebuah pola hidup.

Kita memiliki harapan yang membumbung tinggi terhadap seseorang, tapi sayang ujungnya kecewa akibat dia memilih orang lain. Selanjutnya kita berjanji pada diri sendiri, meyakini diri untuk tidak lagi memupuk asa terlalu tinggi. Tapi terulang lagi, kita merasa bertemu dengan orang yang tepat lagi, dan dia memilih orang lain, kita berjanji pada diri sendiri lagi untuk tidak memupuk asa terlalu tinggi. Tapi terulang lagi dan tak pernah bertemu dengan orang yang tepat. Serupa dengan dongeng Sisifus yang dikutuk untuk mendorong batu  keatas bukit, hanya untuk melihat batu itu meluncur ke bawah. Lalu ia akan mendorong lagi batu tersebut. Begitulah seterusnya.

Pola macam itu terus berlanjut sampai matahari terbit dari barat. Sampai mama dedeh jadi bintang iklan top kopi.

Romantisme macam ini terlihat absurd memang, Kita semua sebenarnya tahu bagaimana orang lain dengan mudahnya membuat kita patah hati. Namun tak banyak yang dapat dilakukan. Bagi beberapa orang bertipe masokis, mereka lebih memilih menyerah dan lebih memilih untuk menikmati romantisme absurd macam ini. Kita sudah sering berada diposisi dimana probabilitas untuk mendapat bahagia lebih kecil dari biji semangka. Kita sadar itu dan kita tidak merasa jera. Kalau jera pun, paling lama hanya sampai merasa bertemu dengan orang yang tepat.

Pada akhirnya, orang-orang biasa yang tak memiliki cukup pesona dan/atau tak cukup mampu mempesona orang yang ditaksirnya, memilih untuk pasrah kepada yang kuasa sembari berharap kencan butanya dimunculkan dengan segera.

Jika anda termasuk kedalam golongan orang-orang yang tak memiliki pesona ini, anda tahun benar apa yang saya bicarakan. Tentang kekecewaan, tentang harapan yang selalu bertepuk sebelah tangan.

No comments:

Post a Comment